Keunikan Strategi Pemasaran Sony Alpha Secara Global
Catatan
Tulisan di artikel ini adalah murni pemikiran kami semata. Artikel ini disusun berdasarkan atas rumor yang berkembang, wishful thinking dari kami, dan sedikit proyeksi atau visi kami bagi Sony Alpha. Tulisan ini TIDAK-lah mengindikasikan kenyataan yang sedang atau akan berkembang di sistem Sony Alpha. Jika suatu saat ada kesamaan antara fakta dengan apa yang kami tulis di artikel ini pada saat ini, itu hanya kebetulan belaka.
Tidak ada merek lain yang menjalankan strategi pemasaran seperti Sony Alpha. Jika kita tengok jajaran produknya, Anda pasti sudah tahu maksud kami. Jika kebanyakan merek lain (terutama dua merek dominan) meluncurkan produk secara satu-persatu, Sony Alpha meluncurkan produk secara berbarengan namun dengan spesifikasi yang mirip-mirip.
Merek lain akan memberikan pilihan di suatu kelas kamera, cukup satu hingga dua jenis kamera saja. Misalnya di kelas pemula atau amatir, Canon punya EOS 1000D dan Nikon punya D-3000. Pada kelas di atasnya, Canon punya EOS 500D dan Nikon punya D-5000. Tapi ya hanya dua jenis itu di setiap kelas. Begitu naik ke kelas di atasnya, langsung sudah menuju predikat amatir-serius atau semi-pro. Contohnya saja Canon dengan EOS xxD-nya, dan Nikon dengan Dxx-nya atau Dxxx-nya. Kalaupun di kedua merek itu ada varian lain pada kelas amatir atau pemula selain tipe yang kami sebutkan, itu adalah produk lama yang kebetulan masih diproduksi atau masih banyak sisa stoknya.
Sony Alpha "memberondong" pasar dengan banyak peluru di satu kelas kamera. Contohnya saja di kelas pemula atau amatir, tidak tanggung-tanggung. Sony punya Sony DSLR-A230, Sony DSLR-A330 dan Sony DSLR-A380. Di kelas amatir serius juga demikian. Sony punya Sony DSLR-A450, Sony DSLR-A500 dan Sony DSLR-A550. Di kelas atasnya memang benar, Sony DSLR-A700 sudah mendapat predikat Discontinued. Namun menurut rumor (yang tentunya bisa salah dan bisa benar), Sony akan langsung meluncurkan dua tipe pengganti Sony DSLR-A700, yaitu Sony DSLR-A730 dan Sony DSLR-A750. Bergerak ke kelas di atasnya, Sony bahkan punya dua kamera yang mirip, yaitu Sony DSLR-A850 dan Sony DSLR-A900.
Jika Anda perhatikan, bingung kan? Apalagi jika Anda termasuk pemula. Jujur saja terkadang kami bingung, dan bertanya... Sony Alpha neh maunya apa ya? Tapi marilah kita pandang dari dua sudut pandang yang berbeda, sekedar untuk memahami maksud dan tujuan Sony tersebut.
Jika kita lihat dari segi daya beli masyarakat yang berbeda-beda, sebenarnya portfolio produk Sony Alpha seperti ini akan menguntungkan. Konsumen bisa dengan leluasa memilih jenis produk dalam satu kelas yang tentunya paling cocok dengan keinginan dan anggaran mereka. Perbedaan antar-produk benar-benar hanyalah berkisar di fasilitas sekunder saja.
Namun jika kita lihat dari sudut pandang yang lebih teknis, strategi semacam ini tidak pelak lagi menimbulkan pertanyaan. Ini tidak lain adalah karena tidak adanya kejelasan yang benar-benar tegas sebagai diferensiasi antar-produk tersebut.
Contohnya saja harga jual Sony DSLR-A380 dan Sony DSLR-A450 yang sangat mirip atau berdekatan. Sudah pasti konsumen akan bingung. Fasilitas Quick AF Live View sebagai pembeda diantara keduanya bukanlah faktor teknis yang benar-benar kuat dijadikan konsumen sebagai alasan untuk memilih salah satunya. Menurut hemat kami, tentunya lebih menyenangkan menggunakan Sony DSLR-A450 ketimbang Sony DSLR-A380, betapapun Sony DSLR-A450 tidak dilengkapi Quick AF Live View yang inovatif dari Sony. Ini tidak lain adalah karena Sony DSLR-A450 sanggup tetap optimal di ISO tinggi karena sensor CMOS yang ada di dalamnya. Belum lagi sederetan fasilitas lain yang mirip dengan Sony DSLR-A550. Jadi kami sangat yakin, jika konsumen tersebut membutuhkan fasilitas Quick AF Live View namun anggarannya terbatas, sudah pasti ia akan memilih Sony DSLR-A330, yang dengan 10 megapixel-nya sudah pasti akan menghasilkan foto dengan tingkat noise yang sedikit lebih rendah daripada Sony DSLR-A380 yang beresolusi 14 megapixel. Namun jika konsumen tersebut memiliki anggaran yang longgar, PASTI ia akan beranjak ke Sony DSLR-A450. Dengan sedikit mengorbankan fasilitas Quick AF Live View, ia akan "naik kelas" dan mendapatkan sejumlah fasilitas lain yang lebih mengasyikkan.
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA | Data: 1/200 detik f/8 ISO 200 | © portalphadmin |
Kehadiran Sony DSLR-A450 selain "menghantam" Sony DSLR-A380, juga "menghantam" Sony DSLR-A500, kakaknya di satu kelas. Setelah Sony DSLR-A450 hadir dengan fasilitas yang identik dengan Sony DSLR-A550 minus Quick AF Live View, lalu apakah daya jual terkuat dari Sony DSLR-A500? Nyaris tidak ada. Quick AF Live View bukanlah alasan terkuat konsumen untuk memilih Sony DSLR-A500. Dengan resolusi lebih tinggi dan bidikan serial lebih cepat, Sony DSLR-A450 sudah jelas akan memarjinalisasi fungsionalitas Sony DSLR-A500. Jika konsumen membutuhkan Quick AF Live View dan anggarannya longgar, sudah pasti akan pergi ke Sony DSLR-A550, bukan Sony DSLR-A500. Kita tahu benar, perbedaan harga hingga 2 juta rupiah jika dibandingkan dengan berbagai fasilitas yang didapatkan antara pilihan Sony DSLR-A500 atau Sony DSLR-A550; atau pilihan antara Sony DSLR-A450 dengan Sony DSLR-A550; lagi-lagi akan memarjinalisasikan Sony DSLR-A500.
Ini ditambah lagi dengan fakta bahwa Sony sanggup menciptakan sensor CMOS 14 megapixel yang intensitas noise-nya nyaris tidak berbeda dengan sensor CMOS 12 megapixel. Jadi alasan konsumen untuk memilih Sony DSLR-A500 karena dengan 12 megapixel maka ia akan mendapatkan intensitas noise yang lebih rendah daripada 14 megapixel, sudah bukan merupakan alasan yang relevan dikarenakan penggunaan sensor CMOS generasi terbaru pada kedua kamera tersebut.
Belum lagi di kelas profesional. Kehadiran Sony DSLR-A850 telah memarjinalisasikan Sony DSLR-A900. Namun di sini kasusnya sedikit berbeda, karena Sony memang sudah mendesain Sony DSLR-A850 untuk "menggeser" Sony DSLR-A900 dan lebih membanjiri pasar dengan DSLR bersensor Full Frame. Sony DSLR-A850 diharapkan akan lebih memperkuat posisi Sony di pasar, dan meningkatkan penjualan lensa Sony itu sendiri pada akhirnya. "Kesengajaan" Sony ini terlihat dari perbedaan harga diantara keduanya yang terpaut cukup jauh, dengan perbedaan fasilitas dan performa yang sangat minor.
Namun tetap saja, pilihan antara Sony DSLR-A850 dan Sony DSLR-A900 lagi-lagi membingungkan konsumen. Kami tidak pernah menyalahkan Sony atas strategi ini. Kami sepenuhnya memahami posisi mereka yang relatif masih bungsu di dunia DSLR, namun punya keinginan (dan kapital) yang kuat untuk berdiri sejajar dengan dua merek lainnya yang dominan. Jadi demi "membaca" pasar, Sony mengeluarkan sederetan peluru yang pada akhirnya akan terbaca peluru mana yang akan paling banyak mengenai pasar. Di tahap siklus produk berikutnya, pilihan produk Sony Alpha sudah pasti akan mengerucut ke pilihan-pilihan produk dengan diferensiasi teknis maupun harga yang lebih tegas.
Kami sempat berbicara dengan personil Sony Global, dan mereka pun mengakui "sedikit keteteran" dengan jumlah produk Sony DSLR yang sebanyak ini, dengan diferensiasi produk dan harga yang relatif lemah. Walaupun mereka tidak secara tegas menyatakan, namun ada indikasi pengerucutan jumlah dan diferensiasi produk akan terjadi mulai tahun 2010 ini. Kami bisa saja salah menyimpulkan, namun itulah kesimpulan kami sementara ini.
Kami lalu bertanya-tanya dan berandai-andai, produk apa sajakah yang akan dikurangi jumlah produksinya. Sebelum ada Sony DSLR-A450, mereka memprediksi (memprediksi, bukan memastikan) bahwa Sony DSLR-A330 yang akan dikurangi jumlah produksinya. Jadi jika konsumen ingin Sony DSLR berharga murah meriah, pilih Sony DSLR-A230. Jika ingin Quick AF Live View dengan anggaran terbatas, langsung pergi ke Sony DSLR-A380, dan bonusnya mendapat resolusi ekstra 4 megapixel. Di kelas amatir serius, pilihan konsumen saat itu sudah jelas, antara Sony DSLR-A500 atau Sony DSLR-A550.
Kami belum sempat berbicara lagi dengan Sony Global seputar strategi pemasaran ini setelah Sony DSLR-A450 keluar di pasar. Namun kehadiran Sony DSLR-A450 sudah pasti akan merubah percaturan dan strategi pemasaran Sony Alpha pada umumnya. Menurut hemat kami setelah Sony DSLR-A450 hadir, produk yang harus dikurangi jumlah produksinya di lini amatir adalah justru Sony DSLR-A380, bukan Sony DSLR-A330. Di kelas amatir, konsumen hanya akan memilih antara minus Quick AF Live View atau dengan Quick AF Live View. Begitu sudah ingin fasilitas macam-macam, harus langsung pergi ke kelas amatir serius, antara Sony DSLR-A450, Sony DSLR-A500 atau Sony DSLR-A550.
Masalahnya... seperti yang tadi telah kami kemukakan. Begitu konsumen naik kelas ke kelas amatir-serius, terjadi kebingungan lainnya untuk memilih diantara Sony DSLR-A450, Sony DSLR-A500 dan Sony DSLR-A550. Maka setelah Sony DSLR-A450 hadir, kami sedikit-banyak yakin bahwa tipe Sony DSLR-A500 adalah tipe yang jumlah produksinya sudah seharusnya dikurangi. Jadi di kelas amatir serius pun, konsumen hanya akan memilih antara DSLR dengan ataupun tanpa Quick AF Live View.
Jika berbicara soal jurang harga diantara tipe-tipe yang bercokol di setiap kelas, toh masih bisa ditoleransi. Jurang harga diantara Sony DSLR-A230 dengan Sony DSLR-A330 di kelas pemula adalah di bawah 1 juta rupiah. Beranjak ke kelas amatir serius, jurang harga antara Sony DSLR-A450 dengan Sony DSLR-A550 diperkirakan akan berkisar antara 2 hingga 2.5 juta rupiah. Sudahkan Anda mengerti maksud kami? Kehadiran Sony DSLR-A450 sudah pasti akan menyulitkan pemosisian harga Sony DSLR-A380 dan Sony DSLR-A500. Jika harga Sony DSLR-A450 sedemikian dekat dengan Sony DSLR-A380 dan Sony DSLR-A500, sudah pasti Sony akan lebih memprioritaskan penjualan Sony DSLR-A450 karena ia adalah produk baru. Jadi setelah kehadiran Sony DSLR-A450, Sony sudah tidak lagi memiliki alasan teknis maupun alasan pemasaran yang benar-benar kuat untuk tetap mempertahankan Sony DSLR-A380 dan Sony DSLR-A500.
Jika Sony DSLR-A380 dan Sony DSLR-A500 pada akhirnya "dihilangkan" dari portfolio produk Sony Alpha, maka sudah semestinya Sony punya keleluasaan lebih besar untuk menambahkan berbagai fasilitas pada Sony DSLR-A330 ataupun penggantinya kelak. Dengan demikian pilihan antara Sony DSLR-A230 dengan Sony DSLR-A330 sudah bukan lagi berkisar antara ada atau tidak adanya fasilitas Quick AF Live View semata, tapi sudah seharusnya ada fasilitas lain yang lebih inovatif sebagai pendukung kekuatan Sony DSLR-A330 di pasar. Jurang harga diantara Sony DSLR-A230 dengan Sony DSLR-A330 pun bisa ditambah, sehingga jurang harga diantara Sony DSLR-A330 dengan Sony DSLR-A450 bisa menjadi tidak terlalu dekat maupun tidak terlalu jauh.
Pertanyaan berikutnya tidak kalah menariknya. Jika Sony DSLR-A500 "dihilangkan" dari jajaran produk Sony Alpha, akan dikemanakan sensor Exmor CMOS 12 megapixel generasi kedua tersebut? Hasilnya sangat menjanjikan, dan sudah selayaknya masih akan bertengger di portfolio produk Sony Alpha.
Kami mengusulkan bagaimana jika sensor tersebut diutilisasikan di Sony DSLR kelas semi-pro. Sudah sangat jelas sejak absennya Sony DSLR-A700 dalam waktu yang cukup lama, hal paling mendesak yang harus dilakukan oleh Sony Global adalah mengisi jajaran produk di kelas ini. Ini ditambah fakta bahwa betapapun sudah memasuki status Discontinued, masih begitu banyak orang yang mencari Sony DSLR-A700 karena kualitasnya, walaupun di pasar sudah ada Sony DSLR-A550 yang lebih baru dengan harga yang mirip. Beberapa pemotret yang konservatif lebih memilih Sony DSLR-A700, walaupun untuk itu mereka harus berburu produk baru di toko-toko yang masih punya stoknya, atau berburu produk bekas.
Kami mengusulkan, di kelas semi-pro pun tidaklah salah sama sekali untuk memberikan konsumen pilihan produk, namun janganlah jumlahnya sampai tiga, melainkan cukup dua saja agar tidak membingungkan semua pihak. Menurut hemat kami, dua produk Sony DSLR semi-pro tersebut bisa dipilih antara yang beresolusi 12 megapixel atau 16 megapixel. Varian 12 megapixel tidak dilengkapi dengan Quick AF Live View, dan cukup menggunakan satu prosesor saja dengan kecepatan bidik maksimal 5 gambar per detik. Varian 16 megapixel sudah pasti harus dilengkapi dengan Quick AF Live View, prosesor ganda dengan kecepatan bidik maksimal hingga 8 gambar per detik. Sebagai DSLR semi-pro, sudah pasti keduanya harus dilengkapi dengan rancang-bangun fisik yang tangguh dan tahan cuaca, serta algoritma prosesor yang lebih eksotis ketimbang Sony DSLR di kelas di bawahnya. Keduanya pun harus memiliki kisaran ISO hingga ISO 12.800, jika perlu ISO 25.600. Teknologi Exmor CMOS Sensor generasi kedua (apalagi Exmor R) memungkinkan dicapainya angka-angka itu.
Dengan demikian, diferensiasi harga diantara keduanya pun bisa dipertahankan di kisaran antara 2 hingga 2.5 juta rupiah, dan tidak mengganggu diferensiasi dengan kelas di bawahnya. Antara kelas amatir serius dengan kelas semi-pro sudah jelas, konsumen tidak perlu bingung. Pilihannya antara fasilitas atau durabilitas produk, bukan lagi fasilitas atau harga semata.
Lalu muncul kebingungan lainnya. Dengan spesifikasi seperti itu, lalu apa bedanya Sony DSLR-A700 dengan penggantinya tersebut yang di varian 12 megapixel? Bukankah keduanya mirip? Kami setuju. Keduanya memang mirip. Namun tengoklah fakta. Sony DSLR-A700 adalah produk yang sudah sangat baik, hanya butuh penyempurnaan performa dan fasilitas yang minor. Ini terbukti dari Nikon yang tetap bertahan dengan sensor yang sama antara Nikon D-300 dan Nikon D-300s. Kita semua tahu bahwa sensor CMOS yang ada di dalam Nikon D-300 dan D-300s tersebut adalah identik dengan sensor CMOS yang ada pada Sony DSLR-A700. Selain itu masih banyak fotografer yang merasa nyaman dengan kapasitas resolusi 12 megapixel, karena selain sudah jauh lebih dari cukup untuk pembesaran cetak yang serius, intensitas noise-nya tidak tinggi, dan tidak menyita sumber daya komputasi si pemotret tersebut.
Itulah sebabnya mengapa bahkan hingga detik ini, masih banyak orang yang mencari Sony DSLR-A700. Jadi tidak ada salahnya jika suatu saat Sony meluncurkan bukan hanya pengganti Sony DSLR-A700 saja (yang diskenariokan sebagai varian 16 megapixel), melainkan juga penyempurnaannya (yang diskenariokan sebagai varian 12 megapixel).
Jika skenario ini tampak kurang sreg dengan rencana Sony, kami punya skenario kedua. Kedua Sony DSLR kelas semi-pro ini bisa saja dirancang dengan varian 14 dan 16 megapixel, namun berbeda teknologi sensor. Varian 14 megapixel ditaruh diatas sensor CMOS Exmor dengan prosesor ganda, dan varian 16 megapixel ditaruh diatas sensor CMOS Exmor R dengan prosesor ganda juga. Dengan tingginya harga riset dan pengembangan sensor CMOS Exmor R tersebut, sudah pasti dengan sendirinya akan menciptakan diferensiasi harga yang juga cukup tinggi diantara keduanya. Itu tidak akan menjadi masalah karena kita sudah berbicara tentang kamera semi-pro dengan teknologi yang berbeda cukup jauh.
Mengapa dengan Exmor R CMOS Sensor? Karena kapan lagi Sony akan membuktikan betapa sakti-mandragunanya sensor tersebut di jajaran Sony Alpha? Dari segi waktu, tidak ada lagi waktu yang lebih tepat selain tahun 2010 ini untuk implementasi Exmor R CMOS Sensor di jajaran Sony Alpha. Sony Semiconductor sudah menjualnya ke Nikon D3s, selain juga ke Sony Handycam dan Sony Cyber-shot. Belum lagi dengan pengumuman beberapa produsen sensor lainnya yang juga akan memproduksi teknologi sensor Sony ini.
Dari segi teknologi kita semua tahu bahwa dari sejak jaman Minolta, kamera dengan varian tipe yang mengandung angka "7" adalah selalu bersifat "kamera eksperimental", dimana biasanya teknologi tertentu pertama kalinya diaplikasikan. Coba saja kita tengok Minolta Dynax 7000, Dynax 7xi, Dynax 700si dan Dynax 7. Kesemuanya merupakan kamera Minolta yang bersifat eksperimental. Banyak sekali fasilitas aneh-aneh yang luar biasa inovatif, pertama kalinya diterapkan di kamera dengan varian "7" tersebut. Sony juga demikian. Sony DSLR-A700 merupakan Sony DSLR pertama yang menerapkan teknologi Sony Exmor CMOS Sensor. Belum lagi dengan kenyataan adanya beberapa fasilitas yang hanya ada di Sony DSLR-A700, yang bahkan di Sony DSLR-A850 atau Sony DSLR-A900 pun tidak ada. Salah satunya adalah fasilitas Grip Sensor.
Ini mengindikasikan bahwa Sony DSLR-A700 memang merupakan DSLR eksperimental. Menurut pihak Sony Global pun, Sony tidak pernah menerapkan target penjualan di angka tertentu bagi Sony DSLR-A700 dari sejak kamera itu diciptakan. Sony DSLR-A700 memang telah didesain sebagai ajang pembuktian Sony ke semua kalangan bahwa "Sony bisa, Sony sanggup dan Sony mampu" membuat DSLR canggih yang berkualitas.
Kami yakin Anda sudah bisa memengerti maksud kami, betapa strategisnya segalanya yang Sony lakukan di DSLR kelas semi-pro ini. Menurut hemat kami, itulah mengapa hingga saat ini Sony belum kunjung juga meluncurkan pengganti Sony DSLR-A700, betapapun lini produknya sudah kosong dan status Sony DSLR-A700 sudah Discontinued. Kami yakin Sony sedang berpikir super-keras agar tidak terjadi "salah langkah" di kelas semi-pro ini. Karena Sony DSLR kelas semi-pro adalah penentu langkah pemasaran dan teknologi Sony Alpha ke depannya.
Keinginan kami "mereformasi" jajaran produk Sony Alpha pun merembet hingga ke jajaran profesionalnya. Kami sepenuhnya sadar bahwa sistem Sony Alpha "baru" berumur 3 tahun, dan dalam kurun waktu sesingkat itu merupakan prestasi yang luar biasa karena sanggup menghasilkan Sony DSLR-A900 sebagai DSLR Full Frame 24 megapixel pertama, terbaik dan termurah di dunia. Kehebatan ini dibawa lebih jauh lagi dengan kelahiran Sony DSLR-A850. Tampak benar bahwa dengan Sony DSLR-A850, Sony hanya ingin lebih banyak "merubah agama" pemotret dari merek lain ke merek Sony Alpha. Dan kami akui, strategi ini sangat berhasil. Anda tidak akan percaya apa yang ditawarkan oleh Sony DSLR-A850 di tingkat harganya yang sedemikian murah tersebut.
Bahkan pengguna merek lain pun semakin banyak yang berpikir untuk berpindah sistem. Selain karena kualitas DSLR-nya itu sendiri, mereka juga sangat tertarik dengan fakta bahwa hanya di sistem Sony Alpha sajalah, mereka akan bisa menggunakan lensa Carl Zeiss dengan teknologi autofokus, dengan banderol harga yang mirip dengan lensa merek Jepang lainnya yang sekelas. Any question?
Namun untuk ke depannya, keberhasilan strategi Sony untuk membanjiri pasar pun harus diikuti dengan perubahan konfigurasi lini produk. Diferensiasi diantara pengganti Sony DSLR-A850 dan Sony DSLR-A900 kelak harus sangat tegas dan tidak membingungkan konsumen. Sebenarnya kami lebih menginginkan Sony sedikit meniru langkah dua merek dominan dalam hal meluncurkan kamera profesional, namun dengan sedikit modifikasi. Canon dan Nikon selalu meluncurkan dua jenis DSLR profesional untuk segmen pasar yang berbeda. Ada DSLR high-res untuk profesional di studio dan komersil, ada DSLR high-speed dan high-sensitivity untuk kalangan jurnalis dan wildlife shooter.
Kami berharap bahwa pengganti Sony DSLR-A900 kelak didesain dan dioptimalkan benar-benar untuk resolusi tinggi dan ISO rendah. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan varian ini kembali menggunakan sensor CCD. Mengapa CCD? Karena sensor CCD jelas-jelas sangat optimal di ISO rendah. Menurut Anda mengapa Leica M9 dan semua Digital Back beresolusi tinggi masih menggunakan CCD, bukan CMOS saja yang jelas lebih murah biaya produksinya? Tidak lain adalah karena CCD sangat optimal bagi kamera-kamera puritan yang konservatif, yang sudah pasti tidak membutuhkan kecepatan bidik atau ISO tinggi. Satu fakta lagi adalah bahwa Sony adalah satu diantara sedikit nama produsen yang masih menaruh perhatian besar pada pengembangan sensor CCD, sementara produsen lain sudah beramai-ramai pergi ke pengembangan sensor CMOS. Dua nama besar lainnya adalah Philips Dalsa dan Kodak. Itu pun keduanya memproduksi CCD dalam jumlah terbatas, untuk aplikasi Digital Back yang jumlah pembeli dan segmen pasarnya sangat sangat terbatas. Jadi hanya Sony Semiconductor-lah yang sanggup memproduksi CCD dalam kapasitas masal.
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL STF 135mm f/2.8 [T4.5] | Data: 1/6 detik T6.3 ISO 200 | © portalphadmin |
Bukti teknologi bahwa Sony masih mempunyai gigi di pengembangan sensor CCD adalah dengan teknologi Super HAD CCD II. Sejauh ini secara teknis, teknologi ini sangat menjanjikan. Walaupun memang tidak bisa secepat sensor CMOS, namun Sony Super HAD CCD II Sensor sanggup menangkap gambar hingga 5 gambar per detik, dan ISO maksimalnya bisa mencapai ISO 3200. Apakah salah jika kita berandai-andai pengganti Sony DSLR-A900 kelak dilengkapi dengan Sony Super HAD CCD II Sensor berukuran Full Frame 35mm dengan kapasitas resolusi 36 megapixel (50%-nya dari 24 megapixel), 5 gambar per detik dan ISO cukup hingga ISO 3200 saja... Jika perlu, filter anti-alias ditiadakan, agar ketajaman lensa Sony SAL dan Carl Zeiss for Sony dapat sepenuhnya dieksploitasi. Itu sangat mungkin terjadi. Hasil foto yang sudah sedemikian sempurnanya di ISO rendah pada Sony DSLR-A900, akan dibawa lebih jauh lagi di kamera baru ini. Premis kami didasarkan atas fakta bahwa jika Sony Alpha sudah sanggup menciptakan DSLR dengan hasil foto yang sempurna secara fundamental-absolut di ISO rendah dengan sensor CMOS pada Sony DSLR-A900, apalagi jika kelak Sony menggunakan jenis sensor CCD... Bisa lebih tidak terbayangkan lagi kualitas hasil fotonya di ISO rendah.
Nah, pengganti Sony DSLR-A850 bisa didesain menggunakan sensor CMOS demi pemenuhan premis high-speed dan high-sensitivity, apakah itu Exmor ataukah Exmor R (tentu saja kami lebih setuju dengan Exmor R). Namun satu hal yang pasti, sensornya harus berukuran Full Frame 35mm, agar bisa menciptakan diferensiasi yang jauh dengan Sony DSLR kelas semi-pro yang menggunakan sensor APS-C. Prediksi (atau keinginan) kami, resolusinya berkisar di bilangan 18 megapixel (atau bisa saja tetap di 24 megapixel), namun dengan kisaran ISO hingga ISO 25.600 (atau lebih) dan kecepatan bidik maksimal hingga 8-10 gambar per detik. Bila terjadi penurunan resolusi pun sebenarnya itu bukan hal yang tabu. Bahkan Canon melakukan itu di jajaran PowerShot-nya. Namun penurunan resolusi tersebut harus dibarengi dengan peningkatan di banyak aspek lainnya secara signifikan.
Jadi di masa yang akan datang, kami berandai-andai bahwa jajaran produk Sony Alpha DSLR akan menjadi seperti ini:
Kelas pemula atau amatir
Sony DSLR-A230 atau penggantinya: Fasilitas dasar dan sensor CCD atau CMOS resolusi menengah
Sony DSLR-A330 atau penggantinya: Fasilitas dasar + Quick AF Live View dan sensor CCD atau CMOS resolusi menengah
Kelas amatir serius
Sony DSLR-A450 atau penggantinya: Rancang-bangun fisik bersifat dasar, fasilitas canggih, sensor CMOS beresolusi tinggi, berkecepatan tinggi, tanpa Quick AF Live View
Sony DSLR-A550 atau penggantinya: Rancang-bangun fisik bersifat dasar, fasilitas canggih, sensor CMOS beresolusi tinggi, berkecepatan tinggi, dilengkapi Quick AF Live View
Kelas semi-profesional (tipe kamera hanya rekaan belaka)
Sony DSLR-A730 (atau apapun namanya): Rancang-bangun fisik skala menengah, fasilitas canggih, sensor CMOS APS-C beresolusi menengah, berkecepatan sedang, prosesor tunggal, tanpa Quick AF Live View
Sony DSLR-A750 (atau apapun namanya): Rancang-bangun fisik skala menengah, fasilitas canggih, sensor CMOS APS-C beresolusi tinggi generasi terbaru, berkecepatan tinggi, prosesor ganda, dilengkapi dengan Quick AF Live View
Kelas profesional (tipe kamera hanya rekaan belaka)
Sony DSLR-A880 (atau apapun namanya): Rancang-bangun fisik standar tertinggi, fasilitas canggih, sensor CMOS Full Frame 35mm beresolusi tinggi generasi terbaru, berkecepatan tinggi, ISO tinggi, prosesor ganda, sebaiknya dilengkapi dengan Quick AF Live View
Sony DSLR-A930 (atau apapun namanya): Rancang-bangun fisik standar tertinggi, fasilitas canggih, sensor CCD (atau CMOS pun bisa) Full Frame 35mm beresolusi sangat tinggi generasi terbaru, berkecepatan sedang, ISO sedang, prosesor ganda, sebaiknya dilengkapi dengan Quick AF Live View
Kedua Sony DSLR seri profesional ini boleh saja menggunakan battery grip yang tetap terpisah layaknya sekarang, karena lebih banyak pemotret yang menyukai konsep tersebut. Selain praktis dan ringan (sangat disukai para traveller), konsumen pun tidak "dipaksa" untuk membeli DSLR dengan battery grip terintegrasi layaknya merek lain.
Namun keinginan semua pihak (dan kami juga), Sony DSLR seri profesional tersebut kelak sudah seharusnya dilengkapi dengan berbagai poin di bawah ini:
a. Performa autofokus, mekanik dan elektronik yang lebih baik.
b. Protokol transfer data nirkabel seperti apa yang dimiliki oleh Canon dan Nikon.
c. Kustomisasi dan pengaturan personal kamera yang lebih detail, lebih terperinci dan lebih spesifik. Tidak perlulah sedetail Canon Seri-1 atau Nikon Seri D 1 digit, tapi harus lebih baik daripada apa yang diberikan oleh Sony DSLR-A850 & Sony DSLR-A900 saat ini.
d. Para profesional tidak pernah menuntut fasilitas perekam video, karena toh tidak berguna juga di DSLR. Namun mereka akan sangat menghargai implementasi Quick AF Live View dengan tingkat presisi yang sama 100% seperti jendela bidik optiknya, dengan layar LCD resolusi tinggi (jika perlu lebih tinggi daripada 920.000 dot) dan kemampuan pergerakan fisik layar LCD yang fleksibel namun tetap kuat dan tangguh secara fisik. Secantik apapun performa jendela bidik optiknya, ada kalanya mengintip jendela bidik tidak dimungkinkan. Di situlah Quick AF Live View akan berguna.
e. Pilihan CF sebagai kartu memori primer, dengan SDXC atau MSDP sebagai kartu memori sekunder. Walaupun ada 3 slot kartu memori, namun hanya akan berfungsi 1-2 slot tergantung pilihan pada jenis kartu memori sekundernya. Sebenarnya kami lebih suka opsi dua slot saja, CF1 dan CF2 seperti Nikon seri profesional, atau CF dan SD seperti Canon seri profesional. Kami tidak menyukai MSPD, namun Sony jelas tidak mungkin menghilangkan slot MSPD. Kemampuan yang dituntut sudah jelas. Harus ada kemampuan back-up (kartu 1 dan 2 identik), kemampuan overflow (kartu 2 aktif setelah kartu 1 penuh), dan parallel split-write (kartu 1 RAW dan kartu 2 JPEG atau sebaliknya).
Selebihnya, semestinya sudah terpikirkan di benak para teknokrat Sony Alpha.
Jika melihat dari lini produk Sony Alpha saat ini ditambah dengan Sony DSLR Seri-7 yang akan diluncurkan (entah kapan), maka Sony Alpha memiliki 10 DSLR di dalam sistemnya. Menurut hemat kami, 8 DSLR saja sudah lebih dari cukup dan lebih tepat guna, asalkan dilakoni dengan penerapan riset dan teknologi yang baik. Dan pastinya... tidak membingungkan konsumen atau tenaga penjualnya.
Kami tidak sendiri. Sudah semakin banyak pengguna Sony Alpha yang penuh cinta dan loyal, yang ingin melihat Sony Alpha maju baik secara teknologi maupun secara pemasaran. Semuanya berpulang lagi kepada para teknokrat maupun para pemasar Sony Alpha. Semoga tulisan kami ini bisa sedikit masuk ke benak mereka.
Kami tegaskan sekali lagi bahwa tulisan di artikel ini adalah murni pemikiran kami semata. Artikel ini disusun berdasarkan atas rumor yang berkembang, wishful thinking dari kami, dan sedikit proyeksi atau visi kami bagi Sony Alpha. Tulisan ini TIDAK-lah mengindikasikan kenyataan yang sedang atau akan berkembang di sistem Sony Alpha. Jika suatu saat ada kesamaan antara fakta dengan apa yang kami tulis di artikel ini pada saat ini, itu hanya kebetulan belaka.
Sumber:
http://www.portalpha.net/Artikel.Tahun.2010/13-01-2010.Keunikan.Strategi.Pemasaran.Sony.Alpha.Secara.Global.php