Kamis, 02 Desember 2010

SanDisk, Nikon & Sony Alpha Joint untuk memory Card

Satu lagi yang menarik perhatian, terutama para photographer, yaitu akan adanya rencana dari pihak Nikon dan Sony untuk membuat satu memory card, yaitu dengan menggandeng SanDisk. kecepatan mentransfer data 500mb/second...(cepat sekali ya....)...Jadi yang bisa menggunakan memory tersebut hanya Nikon dan Sony aja. hehehe.. selama ini pihak Sony sudah ada kerja sama dalam hal sensor untuk Nikon, contohnya Nikon D3x itu sama yang dipakai dalam Alpha 900,.. bagaimana ya kalau kedua perusahaan raksasa itu joint juga dalam hal cameranya????namanya jadi apa ya???? hmmm....pasti menghebohkan....

link:

http://www.sonyalpharumors.com/sandisk-sony-and-nikon-proposed-industry-standards-for-next-generation-high-speed-memory-card-format/

Simak terus perkembangan teknologi...
Semoga bermafaat...

Senin, 22 November 2010

SONY Vaio VPCEB25FG

Hay guys, saya ingin berbagi pengalaman mengenai perangkat yang satu ini, notebook vaio. Kali ini yang saya share adalah notebook vaio 15 inc E series. notebook ini merupakan varian kelas termurah dibandingkan dengan seri lainnya yang ada di kelas vaio sony.

Vaio E series, EB25FB mempunyai beberapa varian warna, ada putih, hitam dan pink, tampilan luar notebook sangat menarik dan membuat orang akan ingin tahu lebih dalam lagi mengenai fitur dan kehebatannya.
inilah tampilan depan vaio e series
bahan casing untuk sony vaio masih menggunakan plastik & glosy jadi mudah untuk dibersihkan kalau kotor, sedangkan bagian dalam notebook ini sebagian masih dilapisi plastik glosy, namun bagian keybord bahannya sudah terbuat dari plastik berbahan seperti kulit jeruk terasa berkesan mewah.... dan pada layar yang 15 inc real wide angel 16: 9 cukup luas yang dilengkapi dengan motion eye...

Layar:
layar yang real wide ange 16:9 berukuran 15 inc ini membuat mata terasa lebih nyaman tapa ada hambatan. Untuk kualitas layar yang dihasilkan cukup memuaskan dan cahaya yang dihasilkan tidak membuat mata menjadi cepat lelah sehingga kita bisa melihat warna-warna yang lebih hidup, apalagi kalau kita gemar mengedit photo-photo.

keyboard:
Pada keyboard yang smooth membuat bagi yang bekerja dengan mengetik, apa lagi kalau mengetik dengan sepuluh jari pastinya akan terasa lebih nyaman, karena tombolnya sendiri terasa lembut sehingga untuk urusan mengetik di keyboard vaio ini bekerja dengan sempurna... apalagi disebelah kanan keyboard ini sudah ada tambahan tombol angka-angka yang ada seperti keyboard di PC pada umumnya, jadi mengetik angka tidak perlu repot-repot lagi dan bisa bekerja dengan cepat secepat pada keyboard PC biasa. ini dia tampilannya:
ups tapi berhati-hatilah bagi vaio yang berwarna putih seperti gambar di atas ini, karena akan lebih cepat kotor kl tidak menggunakan protektornya..

Varian ini memberikan tiga USB port disebelah kanan, satu monitor port sebelah kiri, satu HDMI port, satu e SATA port, satu Express card di sebelah bagian kiri dan bagian depan terdapat port untuk memory card, HG Duo & SD, jadi memudahkan pengguna tanpa menggunakan card reader tambahan.

Sound:
Suara yang dihasilkan dari vaio E series ini sangat baik, suara lebih bening, trable terasa bersih dan ternaya surround juga, enak untuk mendengarkan musik.

Spesifikasi Vaio E series EB25FG

Prosesor : Core i3 - 350M processor 2.26GHz
HD         : 320GB
Memory : 4GB
VGA      : ATI Radeon HD 5145
ROM     : DVD ROM + DVD RW
OS         : Windows 7 Home Edition+Vaio tool & driver+ Mc Afee antivirus trial 90 days

kecepatan yang dihasilkan varian ini cukup memuaskan, test yang saya lakukan dengan menjalankan game-game 3D, photoshop, semuanya terasa responsif dengan baik.

semoga bermanfaat.....

Kamis, 06 Mei 2010

Perbedaan Sensor CCD dan CMOS

Sudah terlalu banyak pertanyaan diajukan oleh semua golongan di dunia fotografi digital: Apa sih bedanya CCD dengan CMOS? Pertanyaan itu bersifat sangat teknis, dan membutuhkan penjelasan panjang-lebar yang seringnya justru tidak dimengerti oleh sang penanya.

Karena memang tidak ada (dan belum ada, kami belum menemukan) jawaban atau penjelasan yang singkat, yang dapat secara langsung menjawab perbedaan teknis antara CCD dan CMOS. Belum lagi jika ada yang bertanya, apakah lebih bagus CCD atau CMOS. Jawaban yang baik dan benar tidaklah singkat.

Kalaupun ada yang bisa menjawabnya dengan sangat singkat, ada dua kemungkinan: Ia sok tahu, atau salah informasi. Kedua penyebab ini bermuara dari kesalahan informasi yang dipaparkan oleh media, baik berupa informasi teknis maupun materi pemasaran merek tertentu.

berlin-strasse.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/125 detik f/11 ISO 100 |
| Lokasi: Berlin - Strasse | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Untuk itu kami berusaha untuk menjelaskan secara desktriptif seputar seluk-beluk sensor CCD maupun CMOS. Kami sendiri tidak mendeklarasikan diri kami sebagai yang paling tahu soal CCD dan CMOS ini, karena kami bukanlah produsen sensor digital. Kita tahu benar, bahwa banyak aspek-aspek teknis dari sensor digital yang tidak diungkap ke publik. Selain karena merupakan rahasia atau hak paten perusahaan, itu juga karena pada dasarnya publik tidak membutuhkan informasi sampai sedetail itu.

Jadi kami menyusun ini berdasarkan atas telaah pustaka yang mendetail dan menyeluruh, serta dari pengalaman nyata juga.


Teknologi Sensor CMOS Mengejar Teknologi Sensor CCD




Pertanyaan awal masih belum terjawab. Jika kita sudah mengetahui perbedaan keduanya secara fundamental, lalu manakah yang lebih baik, CCD ataukah CMOS? Jawabannya tidak bisa semudah dan sesederhana itu, terutama karena pengembangan kedua jenis sensor tersebut berjalan dalam kurun waktu yang tidak berbeda jauh. Memang benar, sensor CMOS sempat mengalami ketertinggalan pengembangan dan produksi atas sensor CCD hingga jarak waktu sekitar 25 tahun. Namun setelah ditemukannya berbagai metode dan teknologi fabrikasi yang semakin canggih, riset dan pengembangan sensor CMOS berjalan sangat cepat dan intensif, hingga pada saat ini sensor CMOS dapat mengejar ketertinggalan tersebut dengan baik dan pada akhirnya bisa mengimbangi nyaris semua yang dimiliki oleh sensor CCD.

hamburg.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/8 detik f/8 ISO 400 |
| Lokasi: Hamburg | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Karena perbedaan mereka sudah menyentuh aspek fundamental (perbedaan arsitektur fisik dan elektronik), maka perbandingan diantara mereka tidak dapat kita bagi dua secara dikotomis ke dalam terminologi "lebih bagus" atau "lebih jelek". Marilah kita telaah lebih jauh lagi.

Dengan arsitektur sensor CCD yang sangat menekankan fungsi penangkapan cahaya dan menaruh sederetan fungsi lainnya di prosesor, maka kelebihan sensor CCD atas sensor CMOS adalah:
01. Para teknokrat punya keleluasaan lebih besar untuk mendesain dan menempatkan dioda peka cahaya yang lebih kondusif      terhadap jalannya proses penangkapan cahaya yang optimal. Sensor CCD menjanjikan performa warna yang lebih akurat,      ketajaman yang lebih baik dengan rentang kontras yang lebih lebar.
02. Dengan fungsi sensor CCD yang hanya berkonsentrasi untuk penangkapan cahaya, maka sensor CCD menjanjikan tingkat      keseragaman sinyal keluaran yang lebih tinggi dan lebih akurat. Karena semua dioda peka cahaya yang ada dalam sebuah      sensor CCD hanya bertugas untuk menangkap cahaya, maka kesemua dioda peka cahaya tersebut bisa dijamin untuk      menghasilkan kualitas sinyal yang lebih seragam.
03. Sensor CCD menjanjikan kemampuan shuttering (electronic shutter) yang lebih baik dan lebih sederhana, dengan hasil yang      lebih baik.

Sedangkan bagi sensor CMOS dimana sensornya itu sendiri sudah dilengkapi dengan sederetan fungsi fotografis yang lebih kompleks, beberapa kelebihannya atas sensor CCD adalah:
01. Sensor CMOS lebih responsif dan lebih gesit, dikarenakan fungsi-fungsi yang tadinya dilakukan oleh prosesor, kini langsung      dilakukan oleh sensor CMOS tersebut secara pixel per pixel.
02. Sensor CMOS memiliki kemampuan Windowing, Anti-blooming, Biasing dan Clocking yang lebih baik daripada sensor CCD.
03. Sensor CMOS juga terkenal hemat energi. Dengan sifatnya yang cepat dan responsif serta hemat energi, sensor CMOS      sangat cocok digunakan di kamera-kamera profesional beresolusi tinggi yang banyak digunakan di lapangan dimana sumber      listriknya terbatas atau frekuensi pengisian baterainya terbatas.

Dari segi kemudahan fabrikasi dan skala keekonomian, kedua sensor tersebut semakin kompetitif dari hari ke hari. Dengan demikian pembicaraan diantara keduanya sudah bukan lagi berkisar pada kelebihan dan kekurangannya masing-masing, melainkan lebih ke aplikasi apakah yang akan digunakan sebagai "rumah" bagi masing-masing sensor. Ada aplikasi yang optimal dengan sensor CCD, ada aplikasi yang optimal dengan sensor berbasis sensor CMOS.

mountpilatusswitzerland02.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/200 detik f/9 ISO 100 |
| Lokasi: Mount Pilatus - Switzerland | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Namun dikarenakan ketertarikan produsen kamera yang lebih besar untuk mengembangkan sensor sensor CMOS, maka masyarakat fotografi jauh lebih mengenal sensor CMOS ketimbang sensor CCD. Ini juga merupakan imbas kampanye pemasaran salah satu merek dominan yang kesemua DSLR-nya menggunakan sensor CMOS tanpa kecuali.

Melihat betapa cepatnya teknologi sensor CMOS bisa mengejar ketertinggalannya atas teknologi sensor CCD selama 25 tahun hingga bisa sematang sekarang, kami sangat yakin bahwa suatu saat tidaklah mustahil kualitas hasil foto dari sensor CMOS bisa menyamai apa yang dihasilkan oleh sensor CCD. Ini ditambah lagi dengan fakta bahwa karena bertumpunya banyak fungsi manajemen cahaya di dalam sensor CMOS itu sendiri sehingga kinerja prosesor menjadi lebih lowong, para teknokrat dapat dengan leluasa memprogram prosesor dengan algoritma yang semakin hari semakin canggih dan semakin eksotis. Saat ini kita semua telah melihat dahsyatnya kualitas Sony CMOS Sensor di Sony DSLR-A900 dan Sony DSLR-A850.


Konvergensi Kelebihan Masing-Masing Kubu




Jika kita melihat fundamental arsitektur fisik kedua jenis sensor tersebut, apakah mungkin jika suatu saat ada satu jenis sensor yang memungkinkan digabungkannya berbagai kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing kubu sensor?

Dalam waktu dekat, jawaban "Ya, akan ada hanya satu sensor yang sempurna" rasanya akan sulit - bahkan mustahil - untuk ditemui. Dalam jangka panjang setidaknya beberapa tahun ke depan, akan selalu ada dua jenis sensor tersebut, yaitu sensor CCD dan sensor CMOS. Berbagai terminologi yang kemudian ditemukan dan menghiasi panggung fotografi digital, selalu menginduk kepada dua jenis sensor tersebut, yaitu sensor CCD dan sensor CMOS.

mountpilatusswitzerland01.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/320 detik f/13 ISO 100 |
| Lokasi: Mount Pilatus - Switzerland | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Beberapa teknologi terkenal yang sempat menghiasi panggung fotografi digital dari jenis sensor CCD adalah Sony Super HAD CCD II dari Sony dan Fujifilm SuperCCD dari Fujifilm. Dari jenis sensor CMOS kita sempat mengenal arsitektur Foveon dari Foveon. JFET-LBCAST dari Nikon, Live-MOS dan NMOS dari Panasonic, dan Exmor R CMOS Sensor dari Sony.

Faktanya, Sony Semiconductor adalah satu-satunya nama disamping Dalsa dan Kodak, yang masih melakukan riset dan pengembangan yang sama intensifnya baik untuk sensor CCD maupun sensor CMOS. Bedanya, Sony Semiconductor memiliki jumlah aplikasi masal atas kedua jenis sensor tersebut yang terbesar dibandingkan dengan Dalsa dan Kodak. Dari sederetan nama lain yang meriset dan memproduksi sensor sendiri, nyaris kesemuanya kini sudah berkonsentrasi untuk mengembangkan sensor CMOS. Misalnya ternyata mereka menciptakan aplikasi yang membutuhkan sensor sensor CCD, mereka lebih suka memesan (OEM) kepada Sony, Dalsa atau Kodak.

Oleh karena kedua fakta itulah dimana Sony Semiconductor merupakan satu-satunya nama yang masih intensif meriset teknologi sensor CCD dan sensor CMOS dengan jumlah aplikasi masal yang tertinggi, maka di bagian selanjutnya kami akan memaparkan fakta bahwa Sony Semiconductor adalah satu-satunya produsen sensor yang sanggup "mendekatkan" kelebihan sensor CMOS kepada sensor CCD, dan juga "mendekatkan" kelebihan sensor CCD kepada sensor CMOS.



Sony Super HAD CCD II



Dikarenakan arsitektur fisiknya yang sederhana, pembicaraan seputar perkembangan teknologi sensor CCD tidaklah sekompleks dan "seribut" sensor CMOS. Arsitektur fisik sensor CCD adalah yang paling ideal dari sebuah sensor. Cukup dengan melakukan beberapa hal kecil saja, para teknokrat sudah bisa mendapatkan performa sensor CCD yang paling optimal.

Kita lihat saja bagan Sony SuperHAD CCD II dibandingkan dengan generasi pendahulunya seperti berikut ini. HAD merupakan kependekan dari Hole-Accumulation Diode.

superhadccdii.jpg

Sony hanya melakukan beberapa perombakan fisik skala kecil dari apa yang ada pada sensor generasi sebelumnya, yang terutama bertujuan untuk memperbesar volume cahaya yang masuk ke setiap dioda peka cahaya. Jarak microlens dari celah pixel diperkecil, celah pixel diperbesar, sehingga jarak antar-pixel bisa lebih lega, yang pada akhirnya akan memperingan kerja Amplifier untuk memperbesar amplitudo sinyal listrik yang harus dilempar ke prosesor. Dengan demikian, kualitas hasil foto sudah pasti akan meningkat.


Dari bagan di atas Anda pasti sudah bisa menyimpulkan, bahwa kekuatan sensor CCD adalah justru terletak pada kesederhanaan arsitekturnya. Untuk menciptakan dioda peka cahaya dengan kinerja yang lebih baik, para teknokrat hanya perlu melakukan beberapa hal sederhana saja. Pada sensor CMOS, para teknokrat harus melakukan banyak hal yang rumit.

Berdasarkan penelusuran pustaka dari berbagai sumber yang kami ketahui, kami dapat membuat sebuah kesimpulan awal bahwa Sony Super HAD CCD II merupakan teknologi puncak dari Sony CCD. Kami yakin masih akan ada lagi pengembangan arsitektur CCD di masa depan. Namun perombakan arsitektur seperti ini pun kami yakini sudah dapat meningkatkan performa Sony CCD ini secara sangat signifikan.

Sayangnya, Sony Global masih belum memberikan sinyal yang jelas seputar aplikasi Sony Super HAD CCD II di produk Sony Alpha.



Sony Exmor R CMOS Sensor



Sensor CMOS dikenal dengan sirkuit pendamping yang ada di setiap dioda peka cahaya. Konsekuensi logisnya, harus ada area tambahan yang diperuntukkan bagi penempatan sirkuit-sirkuit pendamping tersebut.

Area tambahan ini secara otomatis akan mengurangi area penangkapan cahaya dari setiap dioda peka cahaya. Ini akan secara signifikan mengurangi kepekaan setiap dioda peka cahaya terhadap cahaya yang masuk. Oleh karena itu, berkurangnya kepekaan terhadap cahaya dari setiap pixel tersebut diimbangi dengan kinerja amplifier yang lebih keras, yang mana notabene amplifier tersebut terdapat di dalam sirkuit pendamping yang ada di setiap pixel.

Oleh karena itu kami berkali-kali menyebutkan, bahwa sensor CCD memiliki kepekaan tinggi dikarenakan arsitektur fisiknya, sedangkan sensor CMOS memiliki kepekaan tinggi dikarenakan arsitektur elektroniknya.

Walaupun memang benar bahwa sirkuit pendamping di dalam sensor CMOS bisa meningkatkan amplitudo sinyal keluaran sehingga mengimbangi kepekaan yang tadinya disediakan oleh sensor CCD, namun itu harus dibayar dengan kerja sirkuit elektronik yang lebih keras. Tidak terhindarkan, ini menimbulkan cacat sinyal yang lebih tinggi. Memang benar, cacat sinyal ini bisa diredam oleh prosesor beserta algoritma di dalamnya. Namun tentunya prosesor beserta algoritmanya harus bekerja lebih keras untuk meredam cacat sinyal tersebut.

Jadi kerugian yang ditimbulkan oleh arsitektur sensor CMOS konvensional ternyata cukup besar. Amplifier harus bekerja lebih keras meningkatkan amplitudo sinyal keluaran dari sensor CMOS ke prosesor yang mana hal itu akan juga meningkatkan cacat sinyal (noise). Pada akhirnya prosesor juga harus bekerja lebih keras untuk meredam cacat sinyal tersebut. Kerja keras sensor dan prosesor ini semakin kentara seiring bertambahnya jumlah pixel di dalam sensor CMOS dewasa ini.

Sony Semiconductor sudah lama melihat kendala ini, dan merasa sangat terdesak untuk melahirkan sebuah solusi. Jika tidak ada solusi, maka mustahil akan ada peningkatan kapasitas resolusi dalam sebuah sensor CMOS.

Maka lahirlah Sony Exmor R CMOS Sensor. Sebelum melangkah lebih jauh kami ingin mengingatkan bahwa teknologi Sony Exmor CMOS Sensor dengan Sony Exmor R CMOS sensor, berbeda jauh. Walaupun hanya dibedakan dengan ada-tidaknya huruf "R", namun teknologi keduanya berbeda jauh dan sudah menyentuh aspek fundamental.

Sony Exmor CMOS Sensor adalah teknologi algoritma Noise Reduction yang ditanam di setiap sirkuit pendamping yang ada di setiap pixel. Berbeda dengan teknologi sensor CMOS lama dimana algoritma noise reduction ditanam di sirkuit secara per kolom atau per baris pixel, teknologi Sony Exmor CMOS Sensor menanamkan algoritma noise reduction secara pixel per pixel.

Sedangkan Sony Exmor R CMOS Sensor adalah perubahan arsitektur fisik sensor CMOS secara menyeluruh. Anda dapat melihatnya pada bagan di bawah ini.

exmorrcmossensor.jpg

Dengan menyadari bahwa area penangkapan cahaya per pixel pada sensor CMOS berkurang karena adanya sirkuit pendamping di setiap pixel-nya, maka pada Sony Exmor R CMOS Sensor, letak sirkuit pendamping tersebut ditata-ulang. Sony Exmor R CMOS Sensor tetap memiliki sirkuit pendamping, namun kini letaknya sudah bukan di samping setiap pixel, namun ditempatkan di bagian tersendiri di bawah dioda peka cahaya. Dengan demikian, dioda-dioda peka cahaya dapat kembali memperoleh keutuhan area penangkapan cahaya layaknya apa yang terdapat pada sensor CCD.

Misi ini jelas sangat sulit. Jika tadinya para teknokrat dapat "melihat" setiap sirkuit pendamping dengan mudahnya di samping setiap unit pixel, kini sirkuit pendamping tersebut berkumpul dalam sebuah seksi tersendiri, dengan tingkat kepadatan yang sama tingginya dengan tingkat kepadatan pixel di atas sirkuit pendamping tersebut. Dengan bertambahnya satu bagian khusus untuk sirkuit-sirkuit pendamping yang telah ditata-ulang tersebut, sudah pasti ketebalan fisik sensor akan bertambah. Inilah yang tidak mungkin untuk dilakukan, karena standar dimensi fisik sensor sudah ada standarnya masing-masing. Maka para teknokrat pun kembali berpikir keras bagaimana caranya mengemas dua bagian yang sama padatnya secara "bertumpuk" - dioda peka cahaya dan sirkuit pendamping - namun dengan tetap mempertahankan dimensi fisik sensor pada norma-norma yang sesuai dengan standar internasional.

Ini dimungkinkan dengan "membalik" letak dan posisi dioda peka cahaya maupun sirkuit pendamping pada sensor CMOS konvensional. Pada sensor CMOS konvensional, letak sirkuit pendamping adalah sedikit lebih tinggi daripada dioda peka cahaya. Ini seringkali mengganggu proses penangkapan cahaya, karena cahaya masuk terhalang oleh sirkuit pendamping tersebut. Belum lagi dengan refleksi internal yang timbul akibat sirkuit pendamping tersebut. Refleksi internal ini tidak jarang menimbulkan luberan sinar internal, penurunan akurasi warna, dan serangkaian distorsi lainnya.

stadhuset - stockholm.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA | Data: 1/160 detik f/9 ISO 100 |
| Lokasi: Stadhuset - Stockholm | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Dengan "membalik" dan menata-ulang letak dan posisi dioda peka cahaya maupun sirkuit pendamping, kini "daerah atas" sensor yang dikhususkan bagi proses penangkapan cahaya, dapat sepenuhnya dioptimalkan untuk penangkapan cahaya tanpa halangan sedikit pun. Kepekaan dioda peka cahaya otomatis meningkat, fill factor meningkat, dan secara otomatis cacat sinyal juga turun drastis. Refleksi internal pun tereliminasi secara sempurna.

Oleh karenanya Sony Exmor R CMOS Sensor juga disebut sebagai Back-illuminated CMOS Sensor (dalam istilah yang lebih umum dan lebih generik). Ini bukanlah berarti bahwa sensor ini dicahayai dari bagian belakang, melainkan sebuah terminologi yang mewakili perubahan struktur fisik tersebut dimana kini cahaya datang dari bagian yang tadinya ada di belakang sensor. Makna "back-illuminated" juga sangat berbeda dengan makna "backlit", karena "backlit" berarti dicahayai dari belakang (secara harafiah). Sony Exmor R CMOS Sensor tetap dicahayai dari depan. Makna "back-illuminated" mewakili perubahan yang terjadi, dalam arti secara substansial, bukan secara harafiah.

Sony Semiconductor mengklaim bahwa Sony Exmor R CMOS Sensor memiliki kepekaan 200% dari sensor CMOS konvensional, dengan tingkat cacat sinyal (noise) hanya 50%-nya alias setengahnya.

Jika kita lihat dari arsitektur fisiknya, tidak salah juga jika kita menyebut Sony Exmor R CMOS Sensor sebagai "Sensor canggih dengan arsitektur pixel sensor CCD, namun memiliki semua karakteristik, kelebihan dan kualitas sistem elektronik dari sensor CMOS".

Aplikasi Nyata Dari Masing-Masing Kubu




Walaupun sensor CCD dan sensor CMOS memiliki aplikasi masing-masing yang masih sama kuatnya, namun harus diakui bahwa di mata kalangan awam, sensor CMOS mendapatkan perhatian dan porsi aplikasi yang lebih besar daripada sensor CCD.

Dikarenakan arsitektur fisiknya, sensor CCD memang pada akhirnya dikonsentrasikan untuk aplikasi-aplikasi khusus yang bersifat puritan-konservatif (kamera hobiis eksentrik atau Digital Back), atau aplikasi yang mengharuskan kinerja paling tangguh dan tidak bermasalah dengan suplai energi yang konstan dan kontinyu (kamera pengawas), kamera yang sepenuhnya bergantung pada live preview (kamera pocket), kamera-kamera untuk kepentingan ilmiah (semua perangkat pencitraan luar angkasa menggunakan sensor berjenis CCD), atau aplikasi yang mengharuskan dihasilkannya performa paling sempurna dari sebuah sensor digital (perekam video profesional untuk industri perfilman kelas dunia).

Berhubung Sony belum memiliki kamera yang dapat dikategorikan sebagai kamera hobiis-eksentrik layaknya Leica M9 Digital, ditambah fakta bahwa selama ini semua produsen Digital Back mendapatkan suplai sensornya dari Dalsa dan Kodak, maka aplikasi sensor CCD dari Sony Semiconductor tidak diarahkan untuk itu.

Aplikasi Sony SuperHAD CCD II banyak diarahkan untuk kamera pengawas atau CCTV produksi Sony maupun produksi merek lain, dan juga untuk kepentingan industri perfilman kelas dunia dimana Sony jelas-jelas memiliki perusahaan perfilman kelas dunia yang secara langsung terkait dengan aplikasi sensor ini. Hingga tulisan ini ditulis (Januari 2010), aplikasi Sony SuperHAD CCD II belum menyentuh keluarga Sony Alpha.

stockholm.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA | Data: 1/60 detik f/5.6 ISO 100 |
| Lokasi: Stockholm | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Berbeda halnya dengan aplikasi Sony Exmor R CMOS Sensor, yang lebih populer dan lebih umum. Dengan arsitektur fisik yang bisa menjanjikan serangkaian ekspansi pixel di masa depannya, beberapa produsen elektronik yang mampu memproduksi sensor sudah secara resmi menyatakan rencananya untuk memproduksi sensor dengan arsitektur seperti Sony Exmor R CMOS Sensor.

Dari segi jumlah klien, sudah jelas bahwa Sony Semiconductor adalah yang terbesar dalam hal aplikasi Sony Exmor R CMOS Sensor. Untuk keperluan Sony sendiri, Sony Cyber-shot DSC-TX1 dan Sony Cyber-shot DSC-WX1 adalah yang pertama kalinya dilengkapi dengan teknologi sensor ini. Di kamar Sony Handycam, Sony Handycam DCR-XR520 adalah yang pertama kalinya. Mengapa Sony Cyber-shot dan Sony Handycam? Karena volume penjualan mereka sangat besar. Biaya riset dan pengembangan Sony Exmor R CMOS Sensor adalah sangat besar mengingat kecanggihan yang diusungnya. Oleh sebab itu wajar saja jika Sony Semiconductor memprioritaskan mereka yang punya volume penjualan terbesar dahulu. Dalam hal ini harus diakui, volume penjualan Sony Alpha masih kalah dari dua kakaknya, yaitu Sony Handycam dan Sony Cyber-shot.

Sayangnya untuk Sony Alpha, masih belum ada kejelasan soal aplikasi ini. Belum ada Sony Alpha yang dilengkapi dengan Sony Exmor R CMOS Sensor. Justru pembeli terbesarlah yang pertama kalinya dilayani oleh Sony Semiconductor, yaitu Nikon Corporation. Sensor CMOS dengan arsitektur Exmor R pertama kalinya diterapkan di Nikon D3s, DSLR 12 megapixel dengan kisaran ISO tertinggi hingga ISO 102.400. Memang benar, Nikon tidak pernah mendeklarasikan sensor pada Nikon D3s sebagai Exmor R, karena nama itu merupakan hak paten Sony Semiconductor. Namun dari berbagai pemaparan data teknis yang ada dan resmi dari Nikon Corporation, sudah jelas bahwa Nikon D3s menggunakan Back-illuminated CMOS Sensor untuk bisa mencapai kisaran ISO setinggi itu.


Kesimpulan.

Siapapun yang tahu bahwa sistem Sony Alpha adalah sistem dengan tingkat integrasi yang berkualitas tinggi, patut berbahagia. Demikian juga dengan mereka yang sudah ada di dalam sistem Sony Alpha. Mengapa demikian?

Tidak lain adalah karena adanya fakta bahwa inovasi Sony Alpha tidak akan pernah stagnan di satu titik. Ada satu produsen kamera yang memproduksi sensor CMOS-nya secara mandiri, dan selalu membanggakan teknologi fabrikasi sensornya tersebut. Menurut penelaahan dan pengujian produk yang telah kami lakukan, sensor merek tersebut sebenarnya bagus-bagus saja, sayangnya tidak ditunjang dengan sistem optik yang sama bagusnya. Selain itu dengan teknologi arsitektur sensor yang cenderung stagnan, tidak ada inovasi berarti yang mereka lahirkan pada kamera terbaru mereka, betapapun kamera tersebut bertengger di kelas profesional. Sangat berbeda dengan yang diusung oleh seteru merek tersebut yang fabrikasi sensornya dilakukan oleh Sony Semiconductor.

copenhagen.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 20mm f/2.8 | Data: 1/400 detik f/8 ISO 400 |
| Lokasi: Copenhagen | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Hingga tulisan ini disusun (2010), Sony Alpha barulah berumur 4 tahun dari sejak kelahirannya setelah mengambil-alih divisi fotografi dari Minolta pada 2006. Namun dalam waktu yang sesingkat itu, Sony Alpha sudah mampu memproduksi DSLR dengan kualitas hasil foto yang terbaik dengan harga yang sangat kompetitif, diantara para kompetitornya yang memasang harga lebih tinggi. Belum lagi dukungan penuh dari infrastruktur optik yang sangat berkualitas dari Sony SAL (Minolta) dan Carl Zeiss for Sony.

Tidak ada yang perlu dikuatirkan oleh pengguna Sony Alpha akan kamera mereka di masa depan, apakah akan bagus atau buruk. Sony Alpha sudah pasti akan menciptakan produk-produk yang sangat kompetitif, baik dari segi kualitas maupun dari segi harga. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan Anda.

Marilah kita tunggu bersama berbagai kejutan dari Sony Alpha di masa depan.

 sumber: www.portalpha.net
 

Ringkasan Sejarah Minolta - Sony alpha

Catatan

Bagian ini merupakan ringkasan sejarah Minolta, KonicaMinolta hingga Sony. Untuk lebih detailnya, silakan melihat bagian lain yang tersedia.

Era Minolta tercatat dari sejak tahun 1928 hingga tahun 2003. Era KonicaMinolta secara korporasi tercatat dari sejak tahun 2003 hingga tahun 2005. Dari mulai tahun 2005 hingga saat ini, adalah era-nya Sony, baik secara korporasi maupun secara pasar.


Ringkasan

November 1928
Kazuo Tashima mendirikan “Nichi-Doku Shashinki Shoten” yang artinya "Japanese-German Camera Vendor (/ Shop)"; yang merupakan cikal-bakal Minolta Co., Ltd.

1931
Nama “Nichi-Doku Shashinki Shoten” disingkat menjadi Minolta, yang merupakan kependekan dari Mechanism, INstruments, Optics and Lenses by TAshima. Saat itu nama Minolta digunakan sebatas untuk merek dagang produk saja, belum menjadi label korporasi.

1962
Terpilihnya Minolta Hi-Matic dengan model Ansco Autoset, untuk turut serta dalam program luar angkasa "Friendship 7" ke planet Merkurius bersama Alan Shepard dan John Glenn. Di tahun yang sama, Minolta merubah nama korporasinya, dari Nichi-Doku Shashinki Shoten menjadi Minolta Camera Co., Ltd.

1972
Minolta menandatangani perjanjian kerjasama mutualisme dengan Leica dalam hal pengembangan kamera berjenis SLR.

1973
Tercatat sebagai saat pertama kalinya Minolta menghasilkan wujud nyata dari kerjasama mutualisme dengan pihak Leica. Minolta meluncurkan Leitz Minolta CL yang sangat bersejarah. Selain itu, Minolta juga MEMPRODUKSI Leica R3, R4 dan R5. Setelahnya, barulah semua produk Leica diproduksi oleh Leica sendiri di Jerman. Dalam sejarah fotografi, Leica R3, R4 dan R5 tercatat sebagai kamera SLR yang sangat tangguh dan selalu bebas masalah.

1981
Minolta XD-11 (Model E) merupakan kamera Minolta pertama di tahun 1981 yang mengalami perubahan tampilan logo Minolta, menjadi huruf kapital semua. Logo inilah yang seterusnya dipergunakan, hingga akhirnya Minolta di-merger oleh Konica pada tahun 2003.

1985
Diperkenalkannya Minolta 7000 sebagai kamera SLR autofokus terintegrasi pertama di dunia. Minolta 7000 langsung menyabet tiga penghargaan kelas dunia. Di tahun yang sama, meluncur juga Minolta 9000, yang merupakan kamera SLR autofokus pertama dan satu-satunya yang pergerakan film-nya dapat dikokang tanpa bantuan motor drive. Walaupun demikian, Minolta 9000 juga dilengkapi dengan aksesori motor drive tambahan, yang dapat membidik secepat 5 foto per detik.

1987
Honeywell tercatat sebagai pihak yang mendeteksi adanya persinggungan antara arsitektur teknologi autofokus Minolta, dengan arsitektur teknologi autofokus kamera SLR yang sebelumnya telah dipatenkan oleh Honeywell. Akhirnya, Honeywell secara resmi melayangkan gugatan atas Minolta ke pengadilan di Amerika Serikat.

1991
Pada tahun 1991, pengadilan di Amerika Serikat memutuskan untuk memenangkan gugatan Honeywell atas Minolta. Teknologi autofokus Minolta terbukti secara sah dan meyakinkan, telah bersinggungan dengan hak paten Honeywell. Akhirnya Minolta harus menelan pil pahit untuk membayar semua kerugian, penalti, biaya pengadilan dan biaya lain-lainnya kepada Honeywell, sebesar 127.6 juta US Dollar (Sumber: NY Times).

1992
Pada tahun 1992, Minolta telah menyelesaikan seluruh kewajiban kepada Honeywell. Keduabelah pihak kemudian mengadakan persetujuan untuk mengakhiri kasus ini hingga sampai di sini.

1994
Di tahun 1994, terjadi pergantian nama perusahaan menjadi Minolta Co., Ltd., karena terjadi perluasan atau diversifikasi produk. Mulai tahun 1994, Minolta Co., Ltd. tidak hanya memproduksi kamera saja.

1995
Tahun 1995 juga merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi Minolta, karena pada tahun ini, Minolta telah meluncurkan Minolta RD-175, yang merupakan kamera SLR digital pertama di dunia beresolusi 1.75 megapixel, dengan konsep yang utuh, terpadu dan praktis. Memang benar, Kodak DCS dan Sony Mavica merupakan konsep kamera digital pertama di dunia yang "dapat dipergunakan untuk memotret". Namun konsep kamera SLR digital yang utuh, terpadu dan praktis, pertama kalinya ditawarkan oleh Minolta RD-175. Basis bodi RD-175-lah yang pada akhirnya menjadi basis bodi kamera APS Minolta, dimana Minolta juga tercatat sebagai produsen pertama di dunia yang meluncurkan kamera SLR berjenis APS. Walaupun tidak dikategorikan sebagai kamera digital berkonsep SLR yang sukses di pasaran, namun Minolta telah memicu semangat para kompetitor untuk mempercepat riset dan produksi kamera digital dengan basis SLR.


2002
Terakhir kalinya Minolta memproduksi kamera analog dari berbagai jenis.

07 Januari 2003
Minolta di-merger oleh Konica menjadi KonicaMinolta. Di akhir tahun yang sama, kamera digital dengan label merek Minolta terakhir diproduksi, lewat Minolta DiMAGE G-400.

Februari 2004
Pertama kalinya KonicaMinolta memproduksi kamera digital di bawah label merek KonicaMinolta. KonicaMinolta DiMAGE A-2 untuk pemotret amatir-serius, KonicaMinolta DiMAGE Z-2 untuk kalangan pecinta rentang zoom tele yang panjang, dan KonicaMinolta DiMAGE Xg untuk peminat kamera saku.

Agustus 2005
KonicaMinolta Dimage Z-6 adalah kamera digital terakhir yang diproduksi di bawah nama nama KonicaMinolta, sementara proses negosiasi dan akuisisi divisi fotografi KonicaMinolta oleh Sony sedang berlangsung.

19 Januari 2006
KonicaMinolta menyatakan secara resmi untuk mundur dari bisnis kamera digital.

31 Maret 2006
Sony secara resmi mengambil-alih seluruh infrastruktur divisi fotografi digital dari KonicaMinolta (Konica Minolta Photo Image, Inc.), dari mulai infrastruktur fisik hingga sumber daya manusianya. Satu-satunya infrastruktur yang tidak diambil oleh Sony adalah infrastruktur pemasaran. Selain karena sudah memiliki infrastruktur promosi dan pemasaran yang terbukti jauh lebih baik, Sony pun memandang infrastruktur pemasaran Minolta dan KonicaMinolta sebagai penyebab utama kejatuhan bisnis KonicaMinolta di divisi fotografi digitalnya.

06 Juni 2006
Sony meluncurkan produk pertamanya, yaitu Sony DSLR-A100. Produk ini merupakan "fotokopi" dari KonicaMinolta Dynax 5D, dengan kapasitas resolusi yang ditingkatkan hingga 10 megapixel, dengan berbagai peningkatan minor di sisi fasilitas. Ini dilakukan tentu saja untuk mengejar "tenggat waktu" untuk mengisi kekosongan pasar, demi memelihara loyalitas dan harapan dari para pengguna DSLR Minolta maupun KonicaMinolta yang sebelumnya telah ada.

30 September 2006
KonicaMinolta secara resmi menyatakan mundur total dari bisnis fotografi digital, dengan pengurangan sekitar 3.700 orang pegawai di divisi yang bersangkutan. Dengan demikian, berakhirlah 78 tahun sejarah Minolta, yang sempat sejenak disambung oleh KonicaMinolta.

Maret 2007
KonicaMinolta menyatakan secara resmi penutupan total dan permanen divisi fotografi digital KonicaMinolta. KonicaMinolta hanya akan berkonsentrasi di bisnis alat-alat kesehatan, perkantoran dan penginderaan.


Beberapa catatan menarik seputar Minolta - KonicaMinolta - Sony Alpha

Konica merupakan perusahaan fotografi tertua di dunia. Sejarahnya diawali dari sebuah toko yang menjual obat bernama Konishi-ya Rokubei Ten yang dioperasikan oleh Sugiura Rokuemon V. Anaknya, yaitu Sugiura Rokusaburo, memperluas jenis usahanya menjadi penjual material fotografi pada tahun 1873. Singkat kata, pada tahun 1903, meluncurlah "Cherry", yaitu kamera buatan Jepang pertama yang "memiliki merek dagang secara jelas".

Singkat kata, pada 1943 nama perusahaannya menjadi Konishiroku Shashin Kogyo K.K., dengan nama internasional Konishiroku Photo Industry Co., Ltd. Nama "Konica" pertama kalinya "menempel" di kamera 35mm berjenis rangefinder pada tahun 1947. Kurang-lebih mirip dengan "Leica" atau "Yashica", nama "Konica" merupakan singkatan dari nama perusahaan, ditambahi dengan akhiran "ca" yang berarti "camera".

Pada 1987, mereka merubah nama korporasinya menjadi Konica Corporation.

Pertama kalinya sejak kelahirannya di tahun 1928, Minolta "ditakdirkan" sebagai produsen kamera medium format yang kemudian berubah menjadi produsen kamera standar 35mm dari berbagai jenis, dari mulai SLR maupun Non-SLR.

Minolta terakhir membuat kamera medium format 6x6 adalah tahun 1965, lewat Minolta AutoCord CdS (Twin Lens Reflex). Kamera AF SLR 35mm terakhir dari Minolta adalah pada tahun 2002 lewat Dynax 60. Kamera digital terakhir dari KonicaMinolta adalah pada tahun 2005 lewat KonicaMinolta DiMAGE Z-6.

Minolta selalu berpegang pada pakem generasi ketika meluncurkan sebuah produk. Total ada 6 generasi AF SLR 35mm di keluarga Minolta.
   Kode generasi 1: 4 angka tanpa huruf
   Kode generasi 2: 4 angka dengan huruf "i" (Intelligent)
   Kode generasi 3: 1 angka dengan huruf "xi" (Expert Intelligence)
   Kode generasi 4: 3 angka dengan huruf "si" (Sophisticated Intelligence)
   Kode generasi 5: 1 angka tanpa huruf
   Kode generasi 6: 2 angka tanpa huruf

Minolta selalu mengeluarkan kamera AF SLR 35mm seri profesional di generasi ganjil, dan selalu sukses dengan urutan produk yang mengandung kode "7" terlebih dahulu, barulah setelahnya kode produk yang mengandung angka "9". Contohnya di generasi satu, Minolta 7000 dahulu, baru setelahnya Minolta 9000. Di generasi tiga, Minolta Dynax 7xi terlebih dahulu, barulah setelahnya Minolta Dynax 9xi. Urutan ini menjadi terbalik di generasi lima dengan Dynax 9 meluncur terlebih dahulu di tahun 1998, lalu kemudian Dynax 7 di tahun 2000. "Pelanggaran tradisi" ini dilakukan karena tahun 1998 merupakan ulang tahun Minolta ke-70; dan oleh karenanya harus secara simbolik meluncurkan kamera seri profesional atau seri terbatas terlebih dahulu.

Di generasi genap, seri tertinggi pastilah mengandung unsur angka "8". Pada generasi dua, seri tertinggi adalah Minolta Dynax 8000i, dan seri tertinggi generasi empat adalah 800si. Generasi enam tercatat sebagai generasi yang ditandai dengan melemahnya semangat dan filosofi Minolta karena adanya wacana untuk melakukan merger perusahaan dengan Konica. Dengan demikian, setelah kelesuan inovasi dan produksi di generasi enam, Minolta menghentikan produksi kamera AF SLR 35mm di generasi enam pada tahun 2002 lewat Minolta Dynax 60.

Minolta merupakan produsen peralatan fotografi pertama, satu-satunya, dan hingga tahun 2009 masih menjadi satu-satunya merek (dibawah bendera Sony), yang sanggup memproduksi lensa Reflex yang dilengkapi dengan teknologi autofokus, yaitu Sony SAL 500mm f/8 Reflex. Kita semua tahu benar bahwa hingga saat ini, Sony Alpha merupakan satu-satunya merek DSLR yang sanggup melakukan proses autofokus dengan lensa seredup f/8.

Minolta merupakan produsen peralatan fotografi pertama di era 1990-an yang memproduksi lensa AF Macro Zoom, yaitu Minolta AF Macro Zoom 3x - 1x f/1.7-2.8. Sayangnya, lensa ini tidak lagi diproduksi dibawah merek Sony, dan baru dapat ditandingi oleh Canon dengan Canon MP-E 65mm f/2.8 setelah tahun 2000-an. Bedanya, Minolta melengkapi lensanya dengan kemampuan autofokus, sedangkan Canon hanya fokus secara manual.

Minolta bukanlah produsen yang memiliki predikat "World's First" terbanyak di masa-masa awal kemunculannya hingga era SLR analog berakhir. Minolta menjadi produsen yang memiliki predikat "World's First" yang signifikan setelah memasuki era SLR autofokus.

Dari era Minolta hingga era Sony Alpha, masih menjadi merek yang paling piawai dalam merancang arsitektur jendela bidik (viewfinder) dan tabir bidik (focusing screen) dengan kecerahan, kejernihan dan ketajaman terbaik di dunia, dan selalu melebihi kompetitornya. Premis ini diakui oleh semua fotografer dan kalangan media di seluruh dunia. Selain itu, Minolta juga terkenal piawai dan terdepan dalam hal akurasi sistem pengukuran cahaya. Ini tidaklah mengherankan karena Minolta merupakan produsen perangkat pengukuran cahaya dari berbagai jenis, dengan tingkat akurasi terbaik di dunia. Dari mulai Exposure Meter, Flash Meter hingga Color Meter; kinerja dan akurasinya mendapat pengakuan dari fotografer profesional di berbagai penjuru dunia.

Minolta merupakan satu-satunya merek Jepang yang pernah bekerjasama secara intensif dengan produsen peralatan fotografi terkemuka asal Jerman. Minolta pernah menjalin kerjasama dengan Leica dalam hal pengembangan kamera SLR dan kamera leaf shutter, sistem optik, sistem pengukuran cahaya, sistem prisma jendela bidik, dan sistem tabir bidik (focusing screen). Cukup banyak produk Leica yang didukung oleh Minolta dalam aspek pengukuran cahaya, prisma jendela bidik dan tabir bidik-nya.

Sedangkan Minolta menjalin kerjasama dengan Hasselblad dalam hal pengembangan sistem pengukuran cahaya, sistem prisma jendela bidik, dan sistem tabir bidik (focusing screen). Belum ada data terbaru apakah kerjasama dengan Leica dan Hasselblad ini masih dilanjutkan di bawah merek Sony.

Dari sejak kelahirannya, Minolta merupakan produsen peralatan foto yang paling sering didatangi oleh kontroversi. Selain kasus Honeywell, Minolta juga tercatat sebagai produsen yang paling banyak mengalami transisi korporasi. Urutan kedua setelah Minolta adalah Pentax, yang diakuisisi oleh THK Corporation.

Sony merupakan merek yang memiliki dukungan korporasi terbanyak dari merek optik yang terkemuka. Pertama adalah infrastruktur Minolta (dimiliki sepenuhnya). Kedua adalah Tamron (kepemilikan saham mayoritas sebanyak 11.08% - urutan kedua setelah New Well Co., Ltd. yang menguasai 17.34% saham). Ketiga, yaitu Carl Zeiss (yang merupakan mitra strategis terkuat).


1982-1970

Catatan

01. Mayoritas ikhtisar sejarah kamera analog Minolta hingga tahun 1998 didapatkan dari sumber berbahasa Inggris. Oleh sebab      itu, ada sebagian istilah teknis yang ditampilkan tetap dalam bahasa Inggris, agar tidak merubah makna kata yang sulit      diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mohon maklum.

02. Walaupun telah kami susun seakurat mungkin, namun dengan segala keterbatasan referensi yang berhubungan dengan      Minolta, Konica maupun KonicaMinolta, maka tetap ada kemungkinan kekurangan atau kesalahan di dalam penyusunan ikhtisar      sejarah ini. Kami berterimakasih bila ada pembaca yang kebetulan mengetahui kebenaran dalam detail-detail yang dimaksud,      dan kami persilakan untuk menghubungi kami lewat sarana yang tersedia.


1928
Kazuo Tashima mendirikan “Nichi-Doku Shashinki Shoten”, yang artinya “Japanese-German Camera Vendor (/ Shop)”. Didirikan pada November 1928, dan merupakan cikal-bakal The Minolta Co. Ltd.


1929
Nifcalette (Folding Camera)
Kamera pertama Minolta dengan luas bidang cahaya 40x65mm di film berformat 127. Memiliki scale-estimation focusing system


1930
Nifca Sport (Folding dry-plate camera)
Luas bidang cahaya 65x90mm, dengan lensa standar tilt-shift


1931
Arcadia (Folding dry-plate camera)
Kamera Jepang yang terbilang ringkas, dengan shutter block buatan Jepang untuk pertama kalinya


Catatan


Pada tahun 1931, nama “Nichi-Doku Shashinki Shoten” disingkat menjadi Minolta, yang merupakan kependekan dari Mechanism, INstruments, Optics and Lenses by TAshima


1932
Semi Minolta (Folding camera)
Luas bidang cahaya 45x60mm di film berformat 120. Merupakan diecast folding camera yang pertama di keluarga Minolta


1933
Minolta (Strut-folding dry-plate camera)
Luas bidang cahaya 65x90mm. Merupakan kamera Minolta yang pertama diproduksi secara menyeluruh di Jepang


1934
Baby Minolta (Bakelite body roll film camera)
Luas bidang cahaya 40x65mm atau 40x30mm di film berformat 127, dengan bakelite body dan pull out lens

Minolta Vest (Collapsing bakelite body camera)
Luas bidang cahaya 40x65mm atau 40x30mm di film berformat 127, dan merupakan bakelite body collapsing camera pertama yang diproduksi secara menyeluruh di Jepang


1935
Auto Minolta (Strut-folding dry-plate camera)
Luas bidang cahaya 65x90mm. Merupakan kamera jurnalis dengan jendela bidik rangefinder pertama yang diproduksi secara menyeluruh di Jepang

Minolta Six (Collapsing bakelite body camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120, dengan konsep collapsing bakelite body


1937
Auto Press Minolta (Strut-folding dry-plate camera)
Luas bidang cahaya 65x90mm. Merupakan kamera jurnalis pertama dengan sistem sinkron lampu kilat secara terintegrasi, yang diproduksi secara menyeluruh di Jepang

Auto Semi Minolta (Folding camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120. Merupakan kamera rangefinder dengan automatic film rewind stop

Minolta Flex (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120. Merupakan kamera berjenis Twin Lens Reflex (TLR) yang pertama di Jepang, dan juga pertama bagi Minolta


1939
Minolta Flex Automat (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120. Merupakan kamera Twin Lens Reflex pertama dengan sistem pengokang film otomatis secara mekanis, yang diproduksi secara menyeluruh di Jepang.


1946
Semi Minolta III A (Folding camera)
Luas bidang cahaya 45x60mm di film berformat 120. Merupakan folding camera pertama dari Jepang yang diekspor setelah Perang Dunia


1947
Minolta 35 (35mm FP camera)
35mm FP (focal plane) shutter camera yang pertama dari Minolta dengan coupled rangefinder, self-timer, dan interchangeable Leica mount


1949
Minolta Memo (35mm LS camera)
Kamera 35mm LS (leaf shutter) pertama yang diproduksi secara menyeluruh di Jepang, dengan tuas pengokang film


1950
Konan-16 Automat (16mm camera)
Kamera subminiatur, menggunakan film untuk pembuatan film (format 16mm), dengan metode pengokangan film tarik-tekan (push-pull)


1951
Minolta Semi P (Folding camera)
Luas bidang cahaya 45x60mm di film berformat 120. Merupakan kamera yang ringkas dengan jendela bidik rangefinder dan soket lampu studio


1952
Minolta Flex II B (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120, dengan instant open-and-shut finder hood and magnifier


1953
Minolta Cord (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120, dengan metode pengokangan film secara crank winding dan memiliki lever-helicoid focusing system


1955
Minolta Autocord (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm di film berformat 120, diperkenalkan juga sistem X-Synchronization

Minolta A-2 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm dengan jendela bidik rangefinder yang cerah


1957
Minolta Super A (35mm LS camera)
Lensa dan jendela bidik yang dapat diganti-ganti, dengan pengukuran cahaya selenium meter yang terhubung ke kontrol kecepatan rana

Minolta Autocord RA (Twin Lens Reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60mm, 40x40mm, atau 40x50mm di film berformat 120


1958

Minolta Auto Wide (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di dunia yang dilengkapi dengan CdS Exposure Meter terintegrasi

Minolta V2 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di dunia dengan kecepatan rana lensa hingga 1/2000 detik

Minolta 35 II B (35mm FP camera)
Dapat dilepas-tukarkan dengan lensa-lensa Leica

Minolta SR-2 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di keluarga Minolta


1960

Minolta Uniomat (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di Jepang dengan kecepatan rana yang terprogram penuh oleh pengukur cahaya

Minolta SR-3 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm dengan kemampuan untuk dipasangi modul CdS Exposure Meter

Minolta 16 II (16mm camera)
Kamera subminiatur, menggunakan film untuk pembuatan film (format 16mm)


1962

Minolta Hi-Matic (35mm LS camera)
Selenium Meter dan fasilitas programmed auto exposure terintegrasi. Varian Ansco Autoset terpilih untuk dibawa di dalam modul ulang-alik pada misi  “Friendship 7” ke Merkurius, dengan Alan Shepard dan John Glenn sebagai awaknya

Minolta 16 EE (16mm camera)
Kamera format 16mm pertama di Jepang, dengan pengukur cahaya terintegrasi

Minolta SR-7 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di dunia, dengan pengukur cahaya CdS terintegrasi

Minolta Sonocon (16mm camera)
Kamera Minolta berformat 16mm yang pertama kalinya dilengkapi dengan fasilitas radio


Catatan

Tahun 1962, Minolta merubah nama korporasinya, dari Nichi-Doku Shashinki Shoten menjadi Minolta Camera Co., Ltd.


1963

Minolta ER (35mm SLR with lens shutter)
Kamera SLR 35mm dengan fixed lens, shutter in lens, dan lensa tambahan untuk sudut lebar 35mm dan tele pendek 85mm

Minolta Hi-Matic 7 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di dunia dengan CdS Photo Cell di lens barrel


1964
Minolta 16 PS (16mm camera)
Kamera berformat 16mm dengan pengukuran cahaya menggunakan simbol cuaca

Minoltina P (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm yang luar biasa ringkas

Minolta Repo-S (35mm LS camera)
Kamera 35mm half-frame dengan match-needle metering terintegrasi

Minoltina S (35mm LS camera)
Sebelum akhirnya "gugur", sempat menjadi kamera rangefinder 35mm teringkas di dunia, dengan pengukuran cahaya terintegrasi


1965
Minolta Electro Shot (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di keluarga Minolta, dengan modul pengukuran cahaya CdS terintegrasi yang terkontrol secara elektronis

Minolta 24 Rapid (Rapid system camera)
Kamera dengan rapid film cassette system dan pengukuran cahaya CdS terintegrasi

Minolta Autocord CdS (Twin lens reflex camera)
Luas bidang cahaya 60x60 mm di film berformat 120, dengan pengukuran cahaya CdS terintegrasi


1966
Minolta SR-T 101 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di keluarga Minolta dengan TTL full-aperture metering

Minolta Autopak 500 (Instamatic 126 type camera)
Menggunakan cartridge berformat 126 dengan auto switch to auto-flash


1967
Minolta SR-1s (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm dengan clip-on CdS Meter


1968
Minolta AL-E (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm yang sangat ringkas, dengan kemampuan pencahayaan semi-otomatis shutter-priority


1969
Minolta Autopak 800 (Instamatic 126 type camera)
Menggunakan cartridge berformat 126 dengan fasilitas penggulung-balik film secara otomatis menggunakan spring drive

Minolta Hi-Matic C (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm dengan kemampuan pencahayaan semi-otomatis shutter-priority yang memiliki collapsible lens


1970
Minolta SR-M (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm dengan motor pengokang film terintegrasi

Minolta 16MG-S (16mm camera)
Kamera format 16mm dengan pengukur cahaya CdS terintegrasi dan kemampuan pencahayaan semi-otomatis shutter-priority


1971-1984

1971
Minolta Hi-Matic E (35mm LS camera)
Automatic parallax correction dan Automatic Exposure dengan sistem mekanika rana yang terprogram secara elektronis

1972
Minolta 16 QT (16mm camera)
Kamera subminiatur berformat 16mm dengan nilai kecepatan rana yang dapat dipilih. Juga tersedia match-needle CdS Exposure Meter

Minolta Hi-Matic F (35mm LS camera)
Automatic Exposure dengan sistem mekanika rana yang terprogram secara elektronis


Catatan

Pada tahun 1972, Minolta menandatangani perjanjian kerjasama mutualisme dengan Leica dalam hal pengembangan kamera berjenis SLR.


1973
Minolta SR-T 303 / Minolta SR-T 102 (35mm SLR camera)
Jendela bidik dengan kelengkapan informasi kecepatan rana, bukaan diafragma, pengukuran cahaya, dan didukung dengan sistem pengukuran cahaya TTL full aperture

Minolta XM / Minolta XK (35mm SLR camera)
Kamera SLR AE 35mm pertama di dunia dengan prisma jendela bidik yang dapat diganti-ganti

Leitz Minolta CL (35mm FP camera)
Kamera focal plane 35mm dengan lensa yang dapat dilepas-tukarkan, yang merupakan hasil kerjasama mutualisme Minolta dengan Leitz Corporation


Catatan

Tahun 1973 tercatat sebagai saat pertama kalinya Minolta menghasilkan wujud nyata dari kerjasama mutualisme dengan pihak Leica. Minolta meluncurkan Leitz Minolta CL yang sangat bersejarah. Selain itu, Minolta juga MEMPRODUKSI Leica R3, R4 dan R5. Setelahnya, barulah semua produk Leica diproduksi oleh Leica sendiri di Jerman. Dalam sejarah fotografi, Leica R3, R4 dan R5 tercatat sebagai kamera SLR yang sangat tangguh dan selalu bebas masalah.


1974

Minolta XE-1 / Minolta XE-7 (35mm SLR camera)
Kamera SLR AE 35mm pertama di keluarga Minolta dengan prisma jendela bidik permanen dan modus pencahayaan aperture priority


1976

Minolta XM Motor / Minolta XK Motor (35mm SLR camera)
Kamera SLR TTL AE 35mm pertama di dunia dengan motor pengokang film otomatis

Minolta 110 Zoom (110 type camera)
Kamera SLR 35mm pertama di keluarga Minolta yang menggunakan cartridge berformat 110, dengan arsitektur prisma jendela bidik Porro Mirror dan zoom

Minolta Pocket Autopak 450 E (110 type camera)
Kamera format 110 pertama dari keluarga Minolta dengan lampu kilat terintegrasi


1977

Minolta XD-7 / Minolta XD-11 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di dunia dengan fasilitas multiple exposure

Minolta XG-E (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di dunia dengan touch-sensor meter switch


1978

Minolta Hi-Matic SD (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di keluarga Minolta dengan built-in pop-up flash dan date imprinting


1979

Minolta Hi-Matic AF (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter 35mm pertama di keluarga Minolta dengan kemampuan autofokus

Minolta 110 Zoom SLR Mark II (110 type camera)
Kamera AE SLR format 110 dengan kemampuan pengukuran cahaya secara TTL sejati


1980

Minolta X-7 (35mm SLR camera)
Kamera AE SLR 35mm dengan kemampuan aperture priority   

Minolta Weathermatic A
Kamera format 110 pertama di keluarga Minolta dengan ketahanan terhadap air


1981

Minolta CLE (35mm FP camera)
Kamera focal plane 35mm pertama di dunia dengan jendela bidik rangefinder dan modus pencahayaan aperture priority

Minolta X-700
Program AE SLR, pemenang pertama penghargaan “European Camera of the Year 82”


Catatan

01. Tahun 1981 merupakan pertama kalinya Minolta menerapkan teknologi TTL (through-the-lens) OTF (off-the-film) metering      system, yang telah dipatenkan oleh Minolta.

02. Minolta X-700 merupakan kamera SLR fokus manual dari Minolta yang paling sukses di pasar sepanjang sejarah Minolta.      Minolta X-700 tetap diproduksi bahkan hingga tahun 1999.

03. Minolta XD-11 (Model E) merupakan kamera Minolta pertama di tahun 1981 yang mengalami perubahan tampilan logo Minolta,      menjadi huruf kapital semua. Logo inilah yang seterusnya dipergunakan, hingga akhirnya Minolta di-merger oleh Konica pada      2003.


1982

Minolta Hi-Matic AF-2MD (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan electronic shutter dan built-in motor drive


1983

Minolta AF-C (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm yang sangat ringkas, dengan sliding cover

Minolta Disc7 (Disc camera)
Disc Camera pertama di keluarga Minolta dengan combined lithium battery

Minolta X-600 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di keluarga Minolta dengan built-in electronic focus detector

Minolta X-500 / X-570 (35mm SLR camera)
Kamera SLR 35mm pertama di keluarga Minolta dengan TTL flash metering dan modus pencahayaan aperture priority

Minolta Courreges ac301 (Disc camera)
Disc Camera pertama di keluarga Minolta yang didesain oleh Andres Courreges


1984

Minolta AF-E / Freedom II (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm

Minolta AF-Sv / Talker (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan voice warning

1985-2005

1985
Minolta 7000 / Maxxum 7000 (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR terintegrasi pertama di dunia (Pemenang dari penghargaan “Inter-Camera International”, penghargaan "Camera Grand Prix 1985", dan penghargaan “European Camera of the Year 1985”)

Minolta AF-T / AF-Tele (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan 2 lensa standar dan tele terintegrasi

Minolta 9000 / Maxxum 9000 (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan motor drive eksklusif secepat 5 gambar per detik


Catatan

01. Diperkenalkannya Minolta 7000 sebagai kamera SLR autofokus terintegrasi pertama di dunia. Minolta 7000 langsung menyabet      tiga penghargaan kelas dunia. Di tahun yang sama, meluncur juga Minolta 9000, yang merupakan kamera SLR autofokus      pertama dan satu-satunya yang pergerakan film-nya dapat dikokang tanpa bantuan motor drive. Walaupun demikian, Minolta      9000 juga dilengkapi dengan aksesori motor drive tambahan, yang dapat membidik secepat 5 gambar per detik.

02. Untuk pertama kalinya di dunia pada tahun 1985, Minolta menciptakan Program Back Super 90 (Data Back untuk Minolta      9000) dan Program Back Super 70 (Data Back untuk Minolta 7000). Program Back Super 70 dan 90 dilengkapi dengan layar      LCD monokrom terbesar di dunia pada saat itu, dengan berbagai kemampuan yang paling inovatif di dunia. Salah satunya      adalah kemampuan untuk menampilkan grafik pencahayaan (EV) dalam bentuk koordinat X dan Y, serta kemampuan      memprogram Bracketing dalam langkah asimetrik. Misalnya, 3 frame Bracketing, namun dengan konfigurasi kompensasi      pencahayaan -1/4, 0, +2/3. Berbagai fungsi yang ditanamkan pada Program Back Super 70 dan 90 inilah yang kemudian      menjadi cikal-bakal berbagai fungsi yang dikemas dalam smart card untuk kamera Minolta generasi selanjutnya.


1986

Minolta AF-Z / Freedom III (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan tingkat pembesaran jendela bidik optik yang terbesar di kelasnya (0.6x)

Minolta 5000 / Maxxum 5000 (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan pengontrolan sistem elektronik oleh mikrokomputer


1987

Minolta AF-DL / Freedom Dual (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan 2 lensa standar dan tele terintegrasi, yang mampu mengambil foto dari jarak sedekat hingga 52 cm

Minolta Weathermatic 35DL / Weathermatic Dual 35 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm pertama di keluarga Minolta dengan kemampuan tahan air


Catatan

Di tahun 1987, Honeywell tercatat sebagai pihak yang mendeteksi adanya persinggungan antara arsitektur teknologi autofokus Minolta, dengan arsitektur teknologi autofokus kamera SLR yang sebelumnya telah dipatenkan oleh Honeywell. Akhirnya, Honeywell secara resmi melayangkan gugatan atas Minolta ke pengadilan di Amerika Serikat.


1988

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 7000i (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan kemampuan Predictive Focus Control dan sistem Intelligent Card (Memenangkan penghargaan “European Camera of the Year 1988”). Ukuran Intelligent Card tersebut kurang lebih sama dengan ukuran fisik SD Card. Kamera ini juga merupakan kamera AF SLR 35mm pertama di dunia yang memiliki titik fokus lebih dari satu titik (yang biasanya terletak di tengah). Dengan konfigurasi "H", tiga titik fokus diletakkan di bagian kiri, tengah dan kanan jendela bidik, memudahkan proses komposisi berdasarkan aturan Rule of Thirds.


1989
Minolta AF-Zoom 90 / Freedom Zoom 90 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan Programmed Zoom Function

Minolta Dynax / Maxxum 3000i / Alpha 3700i (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm terkecil dan teringan di dunia

Minolta Dynax / Maxxum 5000i / Alpha 5700i (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm di keluarga Minolta dengan lampu kilat terintegrasi


1990

Minolta Dynax / Maxxum 8000i (White) / Alpha 8700i (White) (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm yang terpilih untuk turut serta dalam misi luar angkasa Uni Sovyet menuju stasiun luar angkasa “Mir”. Untuk versi standar, Minolta memproduksi varian ini dalam warna abu-abu gelap, bukan warna hitam seperti kamera SLR pada umumnya.

Minolta Riva Zoom 105i / Freedom Zoom 105i (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan Auto Programmed Zoom Function yang akan secara otomatis mengatur pembesaran visual yang paling ideal dalam pemotretan

Minolta Prod 20’s (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan modus pencahayaan Full Auto dan konsep desain fisik a la era 1920-an


1991

Minolta Riva Panorama / Freedom Vista (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm pertama di dunia yang dikhususkan untuk pemotretan berformat panorama

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 7xi (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan LCD viewfinder dan Eye Sensor (Memenangkan penghargaan “European Camera of the Year 1991). Untuk pertama kalinya di dunia, Minolta memperkenalkan kemampuan picu lampu kilat nirkabel secara TTL dan terintegrasi penuh dengan kamera (tanpa aksesori tambahan) lewat Dynax 7xi. Kamera ini pun tercatat sebagai kamera AF SLR 35mm pertama di dunia yang berhasil menerapkan sistem fuzzy logic pada sistem elektroniknya dengan sukses. Dengan demikian, kemampuan Predictive AF-nya dapat mengikuti benda bergerak yang arah, kecepatan, percepatan dan dimensinya berubah-ubah. Sistem ini kemudian terkenal dengan nama Multi-dimensional Predictive Focus Control.

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 3xi (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan lampu kilat terintegrasi yang sangat ringkas

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha SPxi (35mm SLR camera)


Catatan

01. Pada tahun 1991, pengadilan di Amerika Serikat memutuskan untuk memenangkan gugatan Honeywell atas Minolta. Teknologi      autofokus Minolta terbukti secara sah dan meyakinkan, telah bersinggungan dengan hak paten Honeywell. Akhirnya Minolta      harus menelan pil pahit untuk membayar semua kerugian, penalti, biaya pengadilan dan biaya lain-lainnya kepada Honeywell,      sebesar 127.6 juta US Dollar (Sumber: NY Times).

02. Bersamaan dengan diluncurkannya generasi "xi", Minolta juga meluncurkan lensa-lensa zoom seri "xi", dimana lensa ini memiliki      motor zoom disamping motor autofokus. Dengan zoom sistem elektronik, sistem ini akan bersinergi dengan beberapa fasilitas      yang ada di beberapa varian intelligent card, yang berhubungan dengan sistem zoom elektronik tersebut. Walaupun terlihat      canggih dan futuristik, pada akhirnya sistem ini tidak diteruskan lagi, karena mayoritas pengguna Minolta lebih menyukai zoom      bersistem mekanika, bukan elektronik.


1992

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 5xi (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan kemampuan zoom pada lampu kilat terintegrasi

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 9xi (35mm SLR camera)
01. Memenangkan penghargaan “European Camera of the Year 1992-1993"
02. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia dengan kecepatan rana tertinggi di dunia, yaitu 1/12.000 detik
03. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia dengan kecepatan sinkron kilat Non-HSS tertinggi di dunia, yaitu 1/300 detik
04. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia yang sanggup melakukan bidikan serial secepat 4.5 frame per detik tanpa aksesori      motor drive atau battery pack eksternal tambahan, dengan fungsi Multi-dimensional Predictive Focus Control aktif. Ini      menjadikannya sebagai kamera AF SLR 35mm teringkas di dunia yang sanggup melakukan bidikan serial secepat itu


Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 2xi (35mm SLR camera)


Catatan

Pada tahun 1992, Minolta telah menyelesaikan seluruh kewajiban kepada Honeywell. Keduabelah pihak kemudian mengadakan persetujuan untuk mengakhiri kasus ini hingga sampai di sini.


1993

Minolta Dynax / Maxxum 700si / Alpha 707si (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan kemampuan Multi-dimensional Predictive Focus Control yang semakin disempurnakan (Memenangkan penghargaan “European Camera of the Year 1994-1995”, penghargaan TIPA “Best SLR Camera in Europe 1994-1995”, dan penghargaan "Camera Grand Prix 1995")


1994

Minolta Dynax 500si / Maxxum 400si / Alpha 303si (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan Subject Program Selection

Minolta Riva Zoom 135EX / Freedom Zoom 135EX (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm dengan lensa zoom 38-135mm


Catatan

Di tahun 1994, terjadi pergantian nama perusahaan menjadi Minolta Co., Ltd., karena terjadi perluasan atau diversifikasi produk. Mulai tahun 1994, Minolta Co., Ltd. tidak hanya memproduksi kamera saja.


1995

Minolta Dynax / Maxxum 600si / Alpha 507si (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm dengan desain klasik pada saklar putar (Pemenang penghargaan TIPA “Best SLR Camera in Europe 1995-1996)

Minolta Riva Zoom 70w / Freedom Zoom Explorer (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm capsule-type dengan lensa zoom 28-70mm terintegrasi

Minolta Dynax / Maxxum 300si / Alpha 101si (35mm SLR camera)


Catatan

Tahun 1995 juga merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi Minolta, karena pada tahun ini, Minolta telah meluncurkan Minolta RD-175, yang merupakan kamera SLR digital pertama di dunia beresolusi 1.75 megapixel, dengan konsep yang utuh, terpadu dan praktis. Memang benar, Kodak DCS dan Sony Mavica merupakan konsep kamera digital pertama di dunia yang "dapat dipergunakan untuk memotret". Namun konsep kamera SLR digital yang utuh, terpadu dan praktis, pertama kalinya ditawarkan oleh Minolta RD-175. Basis bodi RD-175-lah yang pada akhirnya menjadi basis bodi kamera APS Minolta, dimana Minolta juga tercatat sebagai produsen pertama di dunia yang meluncurkan kamera SLR berjenis APS. Walaupun tidak dikategorikan sebagai kamera digital berkonsep SLR yang sukses di pasaran, namun Minolta telah memicu semangat para kompetitor untuk mempercepat riset dan produksi kamera digital dengan basis SLR.


1996

Minolta TC-1 (35mm LS camera)
Kamera leaf shutter AF 35mm teringkas di dunia dengan material fisik dari titanium (Memenangkan penghargaan “Camera Grand Prix 1996)

Minolta Vectis 25 (Advanced Photo System LS camera)
Kamera leaf shutter Advanced Photo System pertama di keluarga Minolta dengan konsep desain capsule-type dan zoom optik 2.5x terintegrasi

Minolta Vectis S-1 (Advanced Photo System SLR camera)
Kamera AF SLR Advanced Photo System pertama di dunia, dengan jendela bidik optik di bagian samping kamera


1997

Minolta Vectis GX-4 (Advanced Photo System LS camera)
Kamera leaf shutter Advanced Photo System dengan kemampuan tahan air dan desain yang unik

Minolta Dynax / Maxxum 800si / Alpha 807si (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia dengan fasilitas zoom pada built-in flash dan daya jangkau built-in flash terbesar di dunia, yaitu GN 20

Minolta Vectis Weathermatic (Advanced Photo System LS camera)
Kamera leaf shutter Advanced Photo System pertama di dunia dengan kemampuan zoom dan autofokus di bawah air


Catatan

Pada tahun 1997 lewat Minolta Dynax 800si, Minolta memutuskan untuk meninggalkan sistem smart card untuk ekspansi fasilitas fotografi, yang pertama kalinya diperkenalkan pada tahun 1988 lewat Minolta Dynax 7000i. Pada Minolta Dynax 800si, semua fungsi-fungsi yang tadinya terpecah-pecah di puluhan pilihan smart card, digabungkan dengan berbagai tambahan fungsi yang diperluas.

Satu hal lagi yang unik pada Minolta Dynax 800si adalah kehadiran soket picu lampu studio eksternal, yang mana pada Minolta Dynax 700si tidak tersedia secara built-in. Bila Anda memerlukan soket tersebut pada Minolta Dynax 700si, Anda harus menggunakan vertical grip dedikasi Minolta Dynax 700si yang memang menyediakan soket tersebut. Vertical grip dedikasi Minolta Dynax 700si, dapat kembali dipergunakan pada Minolta Dynax 800si, karena dudukannya sama. Maka ketika Minolta Dynax 800si menggunakan vertical grip, akan ada dua buah soket picu lampu studio eksternal. Keduanya dapat dipergunakan secara bersamaan, untuk kebutuhan lampu kilat eksternal dengan jenis yang berbeda. Sangat unik.



1998

Minolta Vectis 300 (Advanced Photo System LS camera)
Kamera leaf shutter Advanced Photo System dengan kemampuan zoom hingga 3x dan material fisik dari logam yang sangat ringkas

Minolta Dynax 505si Super / Maxxum XTsi (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm teringkas di dunia (dari semua aspek panjang, lebar dan ketebalannya) dengan fasilitas built-in flash terintegrasi

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 9 (35mm SLR camera)
Kamera AF SLR 35mm kelas profesional dengan spesifikasi tertinggi di dunia.
01. Pertama kalinya di dunia, kamera AF SLR 35mm yang memiliki kecepatan rana dan kecepatan sinkron kilat tertinggi di dunia      hingga 1/12.000 detik secara TTL (dengan lampu kilat dedikasi Minolta Speedlite 5600HS).
02. Pertama kalinya di dunia, kamera AF SLR 35mm yang memiliki saklar putar yang dilengkapi dengan fosfor sehingga dapat      menyala di kegelapan total.
03. Pertama kalinya di dunia, kamera AF SLR 35mm yang memiliki kemampuan pemrograman nomor frame film yang akan dituju      ketika pengguna mengisikan selongsong film ke dalam kamera ini.
04. Pertama kalinya di dunia, kamera AF SLR 35mm kelas profesional yang memiliki lampu kilat terintegrasi, dengan tetap      mempertahankan akurasi bidang bidik jendela bidiknya di tingkat 100%. Lebih hebatnya lagi, garansi ketahanan terhadap      siraman air pun tetap berlaku di saat lampu kilat terintegrasi tersebut ada dalam keadaan terbuka. Klaim ini telah sepenuhnya      diuji dan diverifikasi oleh semua media fotografi bertaraf internasional, salah satunya adalah Popular Photography.
05. Dapat merekam data pemotretan di atas permukaan film maupun disimpan di kartu memori jenis SmartMedia lewat Data      Memory Back DM-9. Dengan SmartMedia berkapasitas 2 MB, DM-9 dapat merekam 18 parameter pemotretan dari 400 rol film      36 exposure.

Minolta Dynax 505Si / Maxxum HTSi (35mm SLR camera)
Minolta Dynax 505Si Super / Maxxum XTSi / Alpha Sweet (35mm SLR camera)

Digital (Agustus 1998)

Minolta DiMAGE EX-1500 Zoom
Minolta DiMAGE EX-1500 Wide


Catatan

Dalam rangka ulang tahun Minolta yang ke-70 dari sejak kelahirannya pada tahun 1928, selain meluncurkan Dynax 9, Minolta juga meluncurkan edisi terbatas dari Dynax 9, yaitu Dynax / Maxxum / Alpha 9Ti. Seluruh bagian fisiknya (yang terbuat dari logam) disusun atas material Titanium Alloy berwarna keemasan, dan hanya diproduksi sejumlah 2.000 unit di seluruh dunia (Data ini masih bisa diperdebatkan. Ada sumber yang mengatakan bahwa jumlahnya adalah 999 unit di seluruh dunia (merujuk pada angka 9 sebagai tipe kamera ini), sementara sumber lain mengatakan bahwa jumlahnya adalah 1998 (tahun keluaran kamera ini, yang kemudian dibulatkan menjadi 2.000 unit)). Selain berbeda dalam hal material fisik, Dynax 9Ti juga dilengkapi dengan Custom Function yang lebih banyak, yaitu 23, sementara Dynax 9 hanya 21 Custom Function. Walaupun demikian amat disayangkan, fosfor pada saklar putar Dynax 9 yang sangat handal dan dapat menyala di kegelapan, tidak disertakan pada Dynax 9Ti. Pada kenyataannya, Minolta Dynax 9Ti adalah kamera kolektor alias kamera pajangan, dan tidak diperuntukkan bagi pemotretan sehari-hari. Ini terbukti dari lapisan cat pelindung titanium-nya yang tipis dan mudah terkelupas. Besar dugaan, tipisnya lapisan cat pelindung ini bertujuan untuk tetap mempertahankan keindahan visual dari warna titanium pada Minolta Dynax 9Ti.   

1999

Minolta Dynax 303Si / Maxxum QTSi / Alpha 360Si (35mm SLR camera)
Minolta Dynax 404Si / Maxxum STSi / Alpha Sweet S (35mm SLR camera)

Digital (September 1999)

Minolta DiMAGE RD-3000   


2000

Minolta Dynax / Maxxum / Alpha 7 (35mm SLR camera)
01. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia dengan kemampuan Wireless High-Speed Sync. Flash dan juga kemampuan ADI Flash      Metering. Sinkron kilat TTL hingga 1/8.000 detik dapat tetap bekerja sempurna di modus picu nirkabel sekalipun.
02. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia yang dilengkapi dengan layar LCD monokrom terintegrasi di bagian back-nya, untuk      mengontrol semua parameter pemotretan. Layar LCD ini dapat menyesuaikan diri dengan orientasi pemotretan, baik vertikal      maupun horizontal. Kemampuan inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal kemampuan yang sama pada semua Sony DSLR.
03. Kamera AF SLR 35mm pertama di dunia yang dilengkapi dengan kemampuan pemrograman nomor frame  film, baik pada waktu      penggulungan-balik maupun pada waktu pengisian film. Dengan kata lain, selama pengguna dapat menghafalkan nomor frame      terakhir yang belum dicahayai, pengguna tersebut dapat memaju-mundurkan frame film yang ada di dalam Minolta Dynax 7      dengan sesuka hati. Minolta Dynax 7 dapat melakukan penginderaan frame film dengan presisi berkat sensor cahaya yang      dapat menghitung jumlah lubang perforasi pada film.



Catatan

Bersamaan dengan peluncuran Minolta Dynax 7, pertama kalinya juga diperkenalkan teknologi autofokus Minolta SSM. Teknologi ini pertama kalinya diterapkan pada lensa Minolta AF 70-200mm f/2.8 G SSM, yang kemudian produksinya diteruskan di bawah label Sony dengan Sony SAL 70-200mm f/2.8 G SSM.

Digital (Juni 2000)
Minolta DiMAGE 2300

Digital (September 2000)
Minolta DiMAGE 2330


2001

Minolta Dynax / Maxxum 5 / Alpha Sweet II (35mm SLR camera)

Digital (Februari 2001 - Minolta)

Minolta DiMAGE S-304   
Minolta DiMAGE 7   
Minolta DiMAGE 5   

Digital (Februari 2001 - Konica)
Konica e-mini D   
Konica e-mini   
Konica e-mini M

Digital (Mei 2001 - Minolta)
Minolta DiMAGE E-201

Digital (Mei 2001 - Konica)
Konica KD-200 Zoom   
Konica KD-300 Zoom

Digital (September 2001 - Minolta)
Minolta DiMAGE E-203


Catatan

01. Tahun 2001 merupakan pertama kalinya Konica meluncurkan dan memproduksi kamera digital. Dengan kemampuan teknologi      digital sebatas yang dimilikinya, dari mulai 2001 dengan nama Konica hingga tahun 2003 sebelum akhirnya menjadi      KonicaMinolta, Konica hanya mampu memproduksi kamera digital jenis Non-SLR saja.

02. Dengan demikian terlihat, bahwa dengan melakukan merger atas Minolta, Konica berharap bisa mendapatkan akses ke      penguasaan teknologi fabrikasi kamera digital berjenis SLR.       

2002

Minolta Dynax / Maxxum 4 / Alpha Sweet II L (35mm SLR camera)
Minolta Dynax 3L / Maxxum 3 (35mm SLR camera)
Minolta Dynax 30 & 40 / Maxxum / Alpha 50 (35mm SLR camera)
Minolta Dynax 60 / Maxxum / Alpha 70 (35mm SLR camera)

Januari 2002

Minolta DiMAGE X   
Minolta DiMAGE S-404

Februari 2002

Konica KD-400 Zoom

Maret 2002
Minolta DiMAGE 7i   
Minolta DiMAGE F-100

September 2002
Konica KD-500 Zoom   
Minolta DiMAGE Xi   
Minolta DiMAGE 7Hi   


Catatan


01. Tahun 2002 merupakan terakhir kalinya Minolta memproduksi kamera analog dari berbagai jenis.

02. Mulai 07 Januari 2003, Minolta sudah secara resmi di-merger oleh Konica. Namun untuk beberapa saat, kamera digital yang      diproduksi masih menggunakan label Minolta.

03. Dari sisi Konica, tampak pada tahun 2003 hanya meluncurkan satu tipe kamera saja, yaitu Konica KD-510 Zoom. Tentunya hal      ini sangat berhubungan dengan konsentrasi Konica untuk membenahi Minolta sebagai unit bisnis yang baru.

Januari 2003

Minolta DiMAGE F-300

Februari 2003
Minolta DiMAGE S-414
 
Maret 2003
Minolta DiMAGE E-223   
Minolta DiMAGE F-200   
Minolta DiMAGE Xt
   
Juni 2003
Konica KD-510 Zoom
 
Juli 2003
Minolta DiMAGE X-20

Agustus 2003
Minolta DiMAGE G-500   
Minolta DiMAGE Z-1   
Minolta DiMAGE A-1   
Minolta DiMAGE E-323
   
Oktober 2003
Minolta DiMAGE G-400


Catatan


01. Minolta DiMAGE A-1 tercatat sebagai kamera digital pertama di dunia, yang dilengkapi dengan teknologi peredam getar yang      ditanam di modul sensor (Anti-Shake). Metode ini merupakan ciptaan Minolta, dan pertama kalinya diterapkan di Minolta      DiMAGE A-1. Teknologi ini merupakan cikal-bakal diteruskannya teknologi yang sama di bawah label Sony SSS      (SuperSteadyShot).

02. Tahun 2003 tercatat sebagai tahun dimana Minolta terakhir kalinya memproduksi kamera digital dengan konsep yang cukup      serius di bawah merek dagang Minolta, yaitu Minolta DiMAGE A-1. Sedangkan Minolta DiMAGE G-400 merupakan produk      Minolta terakhir di bawah merek dagang Minolta. Minolta DiMAGE G-400 juga tercatat sebagai kamera saku digital Minolta      dengan desain fisik yang persis sama dengan kamera saku digital Konica. Diyakini, kedua perusahaan telah mengadakan      alih-teknologi di beberapa jenis produknya.
   

Februari 2004

KonicaMinolta DiMAGE Z-2   
KonicaMinolta DiMAGE A-2   
KonicaMinolta DiMAGE Xg   
    
Maret 2004
KonicaMinolta DiMAGE G-600   

Juni 2004
KonicaMinolta DiMAGE X-31
 
Juli 2004
KonicaMinolta DiMAGE Z-10   
KonicaMinolta DiMAGE X-50   
KonicaMinolta DiMAGE Z-3   


September 2004
KonicaMinolta DiMAGE A-200   
KonicaMinolta Dynax / Maxxum / Alpha 7D


Catatan

01. Tahun 2004 merupakan tahun yang cukup bersejarah, karena di tahun inilah pertama kalinya diproduksi kamera digital dari      semua jenis, di bawah label KonicaMinolta. Dengan statusnya sebagai pihak yang melakukan merger terhadap SEMUA divisi      Minolta, maka semua produk Minolta dalam bentuk apapun berubah namanya menjadi KonicaMinolta. Nama perusahaan pun      berubah menjadi Konica Minolta Holdings, Inc.

02. Tahun 2004 juga tercatat pertama kalinya KonicaMinolta meluncurkan kamera SLR digital, yaitu KonicaMinolta Dynax 7D.      Uniknya, merek dagangnya kembali ke Dynax / Maxxum / Alpha, bukan DiMAGE sebagaimana diperkirakan banyak pihak. Dynax      7D merupakan "fotokopi" dari Minolta Dynax 7, dengan kemampuan digital.

03. KonicaMinolta Dynax 7D tercatat sebagai upaya yang terlambat. Walaupun demikian, tetaplah lebih baik daripada tidak sama      sekali. KonicaMinolta tercatat banyak mengalami kehilangan momentum berupa migrasi besar-besaran para loyalis Minolta      yang sudah tidak sabar menunggu diluncurkannya SLR digital. Pada akhirnya, banyak yang terpaksa bermigrasi ke merek lain      yang sudah terlebih dahulu meluncurkan SLR digital dengan teknologi yang sudah lebih matang.

04. Akhirnya, walaupun KonicaMinolta Dynax 7D tercatat sebagai SLR digital dengan kemampuan dan akurasi yang sangat tinggi      (seperti layaknya ciri khas produk Minolta) walaupun kapasitas resolusinya tergolong inferior di saat itu (hanya 6.1 megapixel,      di saat produsen lain sudah menancapkan kuku di pasar dengan 8.0 megapixel), namun KonicaMinolta Dynax 7D tidak terjual      sebanyak yang diharapkan oleh KonicaMinolta. Ini sangat berhubungan dengan masalah kehilangan momentum tersebut.

Januari 2005

KonicaMinolta DiMAGE Z-5   
KonicaMinolta DiMAGE Z-20   

Mei 2005
KonicaMinolta DiMAGE X-60   

Juli 2005

KonicaMinolta Dynax / Maxxum / Alpha 5D   
KonicaMinolta DiMAGE X-1   

Agustus 2005
KonicaMinolta DiMAGE Z-6   


Catatan terakhir era Minolta - KonicaMinolta


01. KonicaMinolta berupaya memperbaiki kesalahan pemasaran KonicaMinolta Dynax 7D dengan meluncurkan KonicaMinolta Dynax      5D, yang merupakan downgrade dari KonicaMinolta Dynax 7D. Sayangnya, kapasitas resolusinya tidak ditambah sama sekali.      Akhirnya, kesalahan KonicaMinolta Dynax 7D terulang kembali. Walaupun sebenarnya kemampuan KonicaMinolta Dynax 5D      sebaik kakaknya, namun tetap saja KonicaMinolta Dynax 5D kurang mendapatkan kuantitas respon sebagaimana yang      diharapkan.

02. Dengan kehilangan banyak kapital pada saat melakukan merger atas Minolta, dan kehilangan lebih banyak lagi kapital di divisi      fotografinya, ditambah lagi dengan kegagalan dua varian DSLR KonicaMinolta di pasar pada saat yang berdekatan, akhirnya      KonicaMinolta memutuskan untuk menerima tawaran negosiasi dari Sony, yang selama ini telah menjadi pemasok sensor CCD      bagi semua kamera digital dari Minolta, Konica ataupun KonicaMinolta. Ironisnya, pada tahun yang sama, KonicaMinolta baru      saja mengumumkan joint venture pengembangan teknologi CCD dan CMOS dengan Sony.

03. Ketika negosiasi antara pihak Sony dengan KonicaMinolta sedang berlangsung, KonicaMinolta memutuskan untuk      menghentikan produksi kamera digitalnya secara permanen, untuk mencegah kehilangan kapital yang lebih besar lagi.      KonicaMinolta DiMAGE Z-6 adalah kamera digital terakhir yang diluncurkan dan diproduksi oleh KonicaMinolta.

04. Walaupun demikian, KonicaMinolta Dynax 5D merupakan produk yang baik untuk secara sementara menahan kekosongan      momentum tersebut. Dengan jarak waktu sekitar 11 bulan antara KonicaMinolta Dynax 5D pada Juli 2005 dengan Sony      DSLR-A100 pada 06 Juni 2006, tidak terlalu banyak terjadi migrasi seperti pada waktu proses merger antara Minolta dengan      Konica terjadi, yang memakan waktu hampir sekitar dua tahun, dari sejak Minolta memutuskan untuk menghentikan produksi      kamera SLR analognya, hingga KonicaMinolta Dynax 7D meluncur pertama kalinya di pasaran.

05. Sebelum pada akhirnya dibeli oleh Sony, Minolta telah menciptakan 27 model kamera digital dari semua kelas, Konica telah      menciptakan 8 model kamera digital dari semua kelas, dan KonicaMinolta telah menciptakan 16 model kamera digital dari      semua kelas. Sehingga total model kamera yang telah diciptakan adalah sebanyak 51 model.

06. Jika dilihat secara sekilas, Sony pertama kalinya menancapkan kukunya di pasar fotografi, khususnya kelas DSLR, pada 06 Juni      2006 dengan Sony DSLR-A100. Sony telah menetapkan tanggal yang baik, yaitu 06-06-06. Tidak salah lagi, ini merupakan      awal yang baik bagi Sony.

07. Tahukah Anda, bahwa merek dagang "Alpha" pada produk SLR digital Sony, adalah sebenarnya merek dagang Minolta untuk      area Jepang? Di jaman film seluloid, merek dagang Minolta untuk Jepang adalah Alpha, untuk Amerika adalah Maxxum, dan      untuk Asia / Eropa adalah Dynax. Jadi, merek dagang "Alpha" pada Sony sebenarnya bukanlah hal yang benar-benar baru.

2006-kini

Sony Alpha