Kamis, 06 Mei 2010

Perbedaan Sensor CCD dan CMOS

Sudah terlalu banyak pertanyaan diajukan oleh semua golongan di dunia fotografi digital: Apa sih bedanya CCD dengan CMOS? Pertanyaan itu bersifat sangat teknis, dan membutuhkan penjelasan panjang-lebar yang seringnya justru tidak dimengerti oleh sang penanya.

Karena memang tidak ada (dan belum ada, kami belum menemukan) jawaban atau penjelasan yang singkat, yang dapat secara langsung menjawab perbedaan teknis antara CCD dan CMOS. Belum lagi jika ada yang bertanya, apakah lebih bagus CCD atau CMOS. Jawaban yang baik dan benar tidaklah singkat.

Kalaupun ada yang bisa menjawabnya dengan sangat singkat, ada dua kemungkinan: Ia sok tahu, atau salah informasi. Kedua penyebab ini bermuara dari kesalahan informasi yang dipaparkan oleh media, baik berupa informasi teknis maupun materi pemasaran merek tertentu.

berlin-strasse.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/125 detik f/11 ISO 100 |
| Lokasi: Berlin - Strasse | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Untuk itu kami berusaha untuk menjelaskan secara desktriptif seputar seluk-beluk sensor CCD maupun CMOS. Kami sendiri tidak mendeklarasikan diri kami sebagai yang paling tahu soal CCD dan CMOS ini, karena kami bukanlah produsen sensor digital. Kita tahu benar, bahwa banyak aspek-aspek teknis dari sensor digital yang tidak diungkap ke publik. Selain karena merupakan rahasia atau hak paten perusahaan, itu juga karena pada dasarnya publik tidak membutuhkan informasi sampai sedetail itu.

Jadi kami menyusun ini berdasarkan atas telaah pustaka yang mendetail dan menyeluruh, serta dari pengalaman nyata juga.


Teknologi Sensor CMOS Mengejar Teknologi Sensor CCD




Pertanyaan awal masih belum terjawab. Jika kita sudah mengetahui perbedaan keduanya secara fundamental, lalu manakah yang lebih baik, CCD ataukah CMOS? Jawabannya tidak bisa semudah dan sesederhana itu, terutama karena pengembangan kedua jenis sensor tersebut berjalan dalam kurun waktu yang tidak berbeda jauh. Memang benar, sensor CMOS sempat mengalami ketertinggalan pengembangan dan produksi atas sensor CCD hingga jarak waktu sekitar 25 tahun. Namun setelah ditemukannya berbagai metode dan teknologi fabrikasi yang semakin canggih, riset dan pengembangan sensor CMOS berjalan sangat cepat dan intensif, hingga pada saat ini sensor CMOS dapat mengejar ketertinggalan tersebut dengan baik dan pada akhirnya bisa mengimbangi nyaris semua yang dimiliki oleh sensor CCD.

hamburg.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/8 detik f/8 ISO 400 |
| Lokasi: Hamburg | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Karena perbedaan mereka sudah menyentuh aspek fundamental (perbedaan arsitektur fisik dan elektronik), maka perbandingan diantara mereka tidak dapat kita bagi dua secara dikotomis ke dalam terminologi "lebih bagus" atau "lebih jelek". Marilah kita telaah lebih jauh lagi.

Dengan arsitektur sensor CCD yang sangat menekankan fungsi penangkapan cahaya dan menaruh sederetan fungsi lainnya di prosesor, maka kelebihan sensor CCD atas sensor CMOS adalah:
01. Para teknokrat punya keleluasaan lebih besar untuk mendesain dan menempatkan dioda peka cahaya yang lebih kondusif      terhadap jalannya proses penangkapan cahaya yang optimal. Sensor CCD menjanjikan performa warna yang lebih akurat,      ketajaman yang lebih baik dengan rentang kontras yang lebih lebar.
02. Dengan fungsi sensor CCD yang hanya berkonsentrasi untuk penangkapan cahaya, maka sensor CCD menjanjikan tingkat      keseragaman sinyal keluaran yang lebih tinggi dan lebih akurat. Karena semua dioda peka cahaya yang ada dalam sebuah      sensor CCD hanya bertugas untuk menangkap cahaya, maka kesemua dioda peka cahaya tersebut bisa dijamin untuk      menghasilkan kualitas sinyal yang lebih seragam.
03. Sensor CCD menjanjikan kemampuan shuttering (electronic shutter) yang lebih baik dan lebih sederhana, dengan hasil yang      lebih baik.

Sedangkan bagi sensor CMOS dimana sensornya itu sendiri sudah dilengkapi dengan sederetan fungsi fotografis yang lebih kompleks, beberapa kelebihannya atas sensor CCD adalah:
01. Sensor CMOS lebih responsif dan lebih gesit, dikarenakan fungsi-fungsi yang tadinya dilakukan oleh prosesor, kini langsung      dilakukan oleh sensor CMOS tersebut secara pixel per pixel.
02. Sensor CMOS memiliki kemampuan Windowing, Anti-blooming, Biasing dan Clocking yang lebih baik daripada sensor CCD.
03. Sensor CMOS juga terkenal hemat energi. Dengan sifatnya yang cepat dan responsif serta hemat energi, sensor CMOS      sangat cocok digunakan di kamera-kamera profesional beresolusi tinggi yang banyak digunakan di lapangan dimana sumber      listriknya terbatas atau frekuensi pengisian baterainya terbatas.

Dari segi kemudahan fabrikasi dan skala keekonomian, kedua sensor tersebut semakin kompetitif dari hari ke hari. Dengan demikian pembicaraan diantara keduanya sudah bukan lagi berkisar pada kelebihan dan kekurangannya masing-masing, melainkan lebih ke aplikasi apakah yang akan digunakan sebagai "rumah" bagi masing-masing sensor. Ada aplikasi yang optimal dengan sensor CCD, ada aplikasi yang optimal dengan sensor berbasis sensor CMOS.

mountpilatusswitzerland02.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/200 detik f/9 ISO 100 |
| Lokasi: Mount Pilatus - Switzerland | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Namun dikarenakan ketertarikan produsen kamera yang lebih besar untuk mengembangkan sensor sensor CMOS, maka masyarakat fotografi jauh lebih mengenal sensor CMOS ketimbang sensor CCD. Ini juga merupakan imbas kampanye pemasaran salah satu merek dominan yang kesemua DSLR-nya menggunakan sensor CMOS tanpa kecuali.

Melihat betapa cepatnya teknologi sensor CMOS bisa mengejar ketertinggalannya atas teknologi sensor CCD selama 25 tahun hingga bisa sematang sekarang, kami sangat yakin bahwa suatu saat tidaklah mustahil kualitas hasil foto dari sensor CMOS bisa menyamai apa yang dihasilkan oleh sensor CCD. Ini ditambah lagi dengan fakta bahwa karena bertumpunya banyak fungsi manajemen cahaya di dalam sensor CMOS itu sendiri sehingga kinerja prosesor menjadi lebih lowong, para teknokrat dapat dengan leluasa memprogram prosesor dengan algoritma yang semakin hari semakin canggih dan semakin eksotis. Saat ini kita semua telah melihat dahsyatnya kualitas Sony CMOS Sensor di Sony DSLR-A900 dan Sony DSLR-A850.


Konvergensi Kelebihan Masing-Masing Kubu




Jika kita melihat fundamental arsitektur fisik kedua jenis sensor tersebut, apakah mungkin jika suatu saat ada satu jenis sensor yang memungkinkan digabungkannya berbagai kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing kubu sensor?

Dalam waktu dekat, jawaban "Ya, akan ada hanya satu sensor yang sempurna" rasanya akan sulit - bahkan mustahil - untuk ditemui. Dalam jangka panjang setidaknya beberapa tahun ke depan, akan selalu ada dua jenis sensor tersebut, yaitu sensor CCD dan sensor CMOS. Berbagai terminologi yang kemudian ditemukan dan menghiasi panggung fotografi digital, selalu menginduk kepada dua jenis sensor tersebut, yaitu sensor CCD dan sensor CMOS.

mountpilatusswitzerland01.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 70-300mm f/4.5-5.6 G SSM | Data: 1/320 detik f/13 ISO 100 |
| Lokasi: Mount Pilatus - Switzerland | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Beberapa teknologi terkenal yang sempat menghiasi panggung fotografi digital dari jenis sensor CCD adalah Sony Super HAD CCD II dari Sony dan Fujifilm SuperCCD dari Fujifilm. Dari jenis sensor CMOS kita sempat mengenal arsitektur Foveon dari Foveon. JFET-LBCAST dari Nikon, Live-MOS dan NMOS dari Panasonic, dan Exmor R CMOS Sensor dari Sony.

Faktanya, Sony Semiconductor adalah satu-satunya nama disamping Dalsa dan Kodak, yang masih melakukan riset dan pengembangan yang sama intensifnya baik untuk sensor CCD maupun sensor CMOS. Bedanya, Sony Semiconductor memiliki jumlah aplikasi masal atas kedua jenis sensor tersebut yang terbesar dibandingkan dengan Dalsa dan Kodak. Dari sederetan nama lain yang meriset dan memproduksi sensor sendiri, nyaris kesemuanya kini sudah berkonsentrasi untuk mengembangkan sensor CMOS. Misalnya ternyata mereka menciptakan aplikasi yang membutuhkan sensor sensor CCD, mereka lebih suka memesan (OEM) kepada Sony, Dalsa atau Kodak.

Oleh karena kedua fakta itulah dimana Sony Semiconductor merupakan satu-satunya nama yang masih intensif meriset teknologi sensor CCD dan sensor CMOS dengan jumlah aplikasi masal yang tertinggi, maka di bagian selanjutnya kami akan memaparkan fakta bahwa Sony Semiconductor adalah satu-satunya produsen sensor yang sanggup "mendekatkan" kelebihan sensor CMOS kepada sensor CCD, dan juga "mendekatkan" kelebihan sensor CCD kepada sensor CMOS.



Sony Super HAD CCD II



Dikarenakan arsitektur fisiknya yang sederhana, pembicaraan seputar perkembangan teknologi sensor CCD tidaklah sekompleks dan "seribut" sensor CMOS. Arsitektur fisik sensor CCD adalah yang paling ideal dari sebuah sensor. Cukup dengan melakukan beberapa hal kecil saja, para teknokrat sudah bisa mendapatkan performa sensor CCD yang paling optimal.

Kita lihat saja bagan Sony SuperHAD CCD II dibandingkan dengan generasi pendahulunya seperti berikut ini. HAD merupakan kependekan dari Hole-Accumulation Diode.

superhadccdii.jpg

Sony hanya melakukan beberapa perombakan fisik skala kecil dari apa yang ada pada sensor generasi sebelumnya, yang terutama bertujuan untuk memperbesar volume cahaya yang masuk ke setiap dioda peka cahaya. Jarak microlens dari celah pixel diperkecil, celah pixel diperbesar, sehingga jarak antar-pixel bisa lebih lega, yang pada akhirnya akan memperingan kerja Amplifier untuk memperbesar amplitudo sinyal listrik yang harus dilempar ke prosesor. Dengan demikian, kualitas hasil foto sudah pasti akan meningkat.


Dari bagan di atas Anda pasti sudah bisa menyimpulkan, bahwa kekuatan sensor CCD adalah justru terletak pada kesederhanaan arsitekturnya. Untuk menciptakan dioda peka cahaya dengan kinerja yang lebih baik, para teknokrat hanya perlu melakukan beberapa hal sederhana saja. Pada sensor CMOS, para teknokrat harus melakukan banyak hal yang rumit.

Berdasarkan penelusuran pustaka dari berbagai sumber yang kami ketahui, kami dapat membuat sebuah kesimpulan awal bahwa Sony Super HAD CCD II merupakan teknologi puncak dari Sony CCD. Kami yakin masih akan ada lagi pengembangan arsitektur CCD di masa depan. Namun perombakan arsitektur seperti ini pun kami yakini sudah dapat meningkatkan performa Sony CCD ini secara sangat signifikan.

Sayangnya, Sony Global masih belum memberikan sinyal yang jelas seputar aplikasi Sony Super HAD CCD II di produk Sony Alpha.



Sony Exmor R CMOS Sensor



Sensor CMOS dikenal dengan sirkuit pendamping yang ada di setiap dioda peka cahaya. Konsekuensi logisnya, harus ada area tambahan yang diperuntukkan bagi penempatan sirkuit-sirkuit pendamping tersebut.

Area tambahan ini secara otomatis akan mengurangi area penangkapan cahaya dari setiap dioda peka cahaya. Ini akan secara signifikan mengurangi kepekaan setiap dioda peka cahaya terhadap cahaya yang masuk. Oleh karena itu, berkurangnya kepekaan terhadap cahaya dari setiap pixel tersebut diimbangi dengan kinerja amplifier yang lebih keras, yang mana notabene amplifier tersebut terdapat di dalam sirkuit pendamping yang ada di setiap pixel.

Oleh karena itu kami berkali-kali menyebutkan, bahwa sensor CCD memiliki kepekaan tinggi dikarenakan arsitektur fisiknya, sedangkan sensor CMOS memiliki kepekaan tinggi dikarenakan arsitektur elektroniknya.

Walaupun memang benar bahwa sirkuit pendamping di dalam sensor CMOS bisa meningkatkan amplitudo sinyal keluaran sehingga mengimbangi kepekaan yang tadinya disediakan oleh sensor CCD, namun itu harus dibayar dengan kerja sirkuit elektronik yang lebih keras. Tidak terhindarkan, ini menimbulkan cacat sinyal yang lebih tinggi. Memang benar, cacat sinyal ini bisa diredam oleh prosesor beserta algoritma di dalamnya. Namun tentunya prosesor beserta algoritmanya harus bekerja lebih keras untuk meredam cacat sinyal tersebut.

Jadi kerugian yang ditimbulkan oleh arsitektur sensor CMOS konvensional ternyata cukup besar. Amplifier harus bekerja lebih keras meningkatkan amplitudo sinyal keluaran dari sensor CMOS ke prosesor yang mana hal itu akan juga meningkatkan cacat sinyal (noise). Pada akhirnya prosesor juga harus bekerja lebih keras untuk meredam cacat sinyal tersebut. Kerja keras sensor dan prosesor ini semakin kentara seiring bertambahnya jumlah pixel di dalam sensor CMOS dewasa ini.

Sony Semiconductor sudah lama melihat kendala ini, dan merasa sangat terdesak untuk melahirkan sebuah solusi. Jika tidak ada solusi, maka mustahil akan ada peningkatan kapasitas resolusi dalam sebuah sensor CMOS.

Maka lahirlah Sony Exmor R CMOS Sensor. Sebelum melangkah lebih jauh kami ingin mengingatkan bahwa teknologi Sony Exmor CMOS Sensor dengan Sony Exmor R CMOS sensor, berbeda jauh. Walaupun hanya dibedakan dengan ada-tidaknya huruf "R", namun teknologi keduanya berbeda jauh dan sudah menyentuh aspek fundamental.

Sony Exmor CMOS Sensor adalah teknologi algoritma Noise Reduction yang ditanam di setiap sirkuit pendamping yang ada di setiap pixel. Berbeda dengan teknologi sensor CMOS lama dimana algoritma noise reduction ditanam di sirkuit secara per kolom atau per baris pixel, teknologi Sony Exmor CMOS Sensor menanamkan algoritma noise reduction secara pixel per pixel.

Sedangkan Sony Exmor R CMOS Sensor adalah perubahan arsitektur fisik sensor CMOS secara menyeluruh. Anda dapat melihatnya pada bagan di bawah ini.

exmorrcmossensor.jpg

Dengan menyadari bahwa area penangkapan cahaya per pixel pada sensor CMOS berkurang karena adanya sirkuit pendamping di setiap pixel-nya, maka pada Sony Exmor R CMOS Sensor, letak sirkuit pendamping tersebut ditata-ulang. Sony Exmor R CMOS Sensor tetap memiliki sirkuit pendamping, namun kini letaknya sudah bukan di samping setiap pixel, namun ditempatkan di bagian tersendiri di bawah dioda peka cahaya. Dengan demikian, dioda-dioda peka cahaya dapat kembali memperoleh keutuhan area penangkapan cahaya layaknya apa yang terdapat pada sensor CCD.

Misi ini jelas sangat sulit. Jika tadinya para teknokrat dapat "melihat" setiap sirkuit pendamping dengan mudahnya di samping setiap unit pixel, kini sirkuit pendamping tersebut berkumpul dalam sebuah seksi tersendiri, dengan tingkat kepadatan yang sama tingginya dengan tingkat kepadatan pixel di atas sirkuit pendamping tersebut. Dengan bertambahnya satu bagian khusus untuk sirkuit-sirkuit pendamping yang telah ditata-ulang tersebut, sudah pasti ketebalan fisik sensor akan bertambah. Inilah yang tidak mungkin untuk dilakukan, karena standar dimensi fisik sensor sudah ada standarnya masing-masing. Maka para teknokrat pun kembali berpikir keras bagaimana caranya mengemas dua bagian yang sama padatnya secara "bertumpuk" - dioda peka cahaya dan sirkuit pendamping - namun dengan tetap mempertahankan dimensi fisik sensor pada norma-norma yang sesuai dengan standar internasional.

Ini dimungkinkan dengan "membalik" letak dan posisi dioda peka cahaya maupun sirkuit pendamping pada sensor CMOS konvensional. Pada sensor CMOS konvensional, letak sirkuit pendamping adalah sedikit lebih tinggi daripada dioda peka cahaya. Ini seringkali mengganggu proses penangkapan cahaya, karena cahaya masuk terhalang oleh sirkuit pendamping tersebut. Belum lagi dengan refleksi internal yang timbul akibat sirkuit pendamping tersebut. Refleksi internal ini tidak jarang menimbulkan luberan sinar internal, penurunan akurasi warna, dan serangkaian distorsi lainnya.

stadhuset - stockholm.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA | Data: 1/160 detik f/9 ISO 100 |
| Lokasi: Stadhuset - Stockholm | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Dengan "membalik" dan menata-ulang letak dan posisi dioda peka cahaya maupun sirkuit pendamping, kini "daerah atas" sensor yang dikhususkan bagi proses penangkapan cahaya, dapat sepenuhnya dioptimalkan untuk penangkapan cahaya tanpa halangan sedikit pun. Kepekaan dioda peka cahaya otomatis meningkat, fill factor meningkat, dan secara otomatis cacat sinyal juga turun drastis. Refleksi internal pun tereliminasi secara sempurna.

Oleh karenanya Sony Exmor R CMOS Sensor juga disebut sebagai Back-illuminated CMOS Sensor (dalam istilah yang lebih umum dan lebih generik). Ini bukanlah berarti bahwa sensor ini dicahayai dari bagian belakang, melainkan sebuah terminologi yang mewakili perubahan struktur fisik tersebut dimana kini cahaya datang dari bagian yang tadinya ada di belakang sensor. Makna "back-illuminated" juga sangat berbeda dengan makna "backlit", karena "backlit" berarti dicahayai dari belakang (secara harafiah). Sony Exmor R CMOS Sensor tetap dicahayai dari depan. Makna "back-illuminated" mewakili perubahan yang terjadi, dalam arti secara substansial, bukan secara harafiah.

Sony Semiconductor mengklaim bahwa Sony Exmor R CMOS Sensor memiliki kepekaan 200% dari sensor CMOS konvensional, dengan tingkat cacat sinyal (noise) hanya 50%-nya alias setengahnya.

Jika kita lihat dari arsitektur fisiknya, tidak salah juga jika kita menyebut Sony Exmor R CMOS Sensor sebagai "Sensor canggih dengan arsitektur pixel sensor CCD, namun memiliki semua karakteristik, kelebihan dan kualitas sistem elektronik dari sensor CMOS".

Aplikasi Nyata Dari Masing-Masing Kubu




Walaupun sensor CCD dan sensor CMOS memiliki aplikasi masing-masing yang masih sama kuatnya, namun harus diakui bahwa di mata kalangan awam, sensor CMOS mendapatkan perhatian dan porsi aplikasi yang lebih besar daripada sensor CCD.

Dikarenakan arsitektur fisiknya, sensor CCD memang pada akhirnya dikonsentrasikan untuk aplikasi-aplikasi khusus yang bersifat puritan-konservatif (kamera hobiis eksentrik atau Digital Back), atau aplikasi yang mengharuskan kinerja paling tangguh dan tidak bermasalah dengan suplai energi yang konstan dan kontinyu (kamera pengawas), kamera yang sepenuhnya bergantung pada live preview (kamera pocket), kamera-kamera untuk kepentingan ilmiah (semua perangkat pencitraan luar angkasa menggunakan sensor berjenis CCD), atau aplikasi yang mengharuskan dihasilkannya performa paling sempurna dari sebuah sensor digital (perekam video profesional untuk industri perfilman kelas dunia).

Berhubung Sony belum memiliki kamera yang dapat dikategorikan sebagai kamera hobiis-eksentrik layaknya Leica M9 Digital, ditambah fakta bahwa selama ini semua produsen Digital Back mendapatkan suplai sensornya dari Dalsa dan Kodak, maka aplikasi sensor CCD dari Sony Semiconductor tidak diarahkan untuk itu.

Aplikasi Sony SuperHAD CCD II banyak diarahkan untuk kamera pengawas atau CCTV produksi Sony maupun produksi merek lain, dan juga untuk kepentingan industri perfilman kelas dunia dimana Sony jelas-jelas memiliki perusahaan perfilman kelas dunia yang secara langsung terkait dengan aplikasi sensor ini. Hingga tulisan ini ditulis (Januari 2010), aplikasi Sony SuperHAD CCD II belum menyentuh keluarga Sony Alpha.

stockholm.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA | Data: 1/60 detik f/5.6 ISO 100 |
| Lokasi: Stockholm | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Berbeda halnya dengan aplikasi Sony Exmor R CMOS Sensor, yang lebih populer dan lebih umum. Dengan arsitektur fisik yang bisa menjanjikan serangkaian ekspansi pixel di masa depannya, beberapa produsen elektronik yang mampu memproduksi sensor sudah secara resmi menyatakan rencananya untuk memproduksi sensor dengan arsitektur seperti Sony Exmor R CMOS Sensor.

Dari segi jumlah klien, sudah jelas bahwa Sony Semiconductor adalah yang terbesar dalam hal aplikasi Sony Exmor R CMOS Sensor. Untuk keperluan Sony sendiri, Sony Cyber-shot DSC-TX1 dan Sony Cyber-shot DSC-WX1 adalah yang pertama kalinya dilengkapi dengan teknologi sensor ini. Di kamar Sony Handycam, Sony Handycam DCR-XR520 adalah yang pertama kalinya. Mengapa Sony Cyber-shot dan Sony Handycam? Karena volume penjualan mereka sangat besar. Biaya riset dan pengembangan Sony Exmor R CMOS Sensor adalah sangat besar mengingat kecanggihan yang diusungnya. Oleh sebab itu wajar saja jika Sony Semiconductor memprioritaskan mereka yang punya volume penjualan terbesar dahulu. Dalam hal ini harus diakui, volume penjualan Sony Alpha masih kalah dari dua kakaknya, yaitu Sony Handycam dan Sony Cyber-shot.

Sayangnya untuk Sony Alpha, masih belum ada kejelasan soal aplikasi ini. Belum ada Sony Alpha yang dilengkapi dengan Sony Exmor R CMOS Sensor. Justru pembeli terbesarlah yang pertama kalinya dilayani oleh Sony Semiconductor, yaitu Nikon Corporation. Sensor CMOS dengan arsitektur Exmor R pertama kalinya diterapkan di Nikon D3s, DSLR 12 megapixel dengan kisaran ISO tertinggi hingga ISO 102.400. Memang benar, Nikon tidak pernah mendeklarasikan sensor pada Nikon D3s sebagai Exmor R, karena nama itu merupakan hak paten Sony Semiconductor. Namun dari berbagai pemaparan data teknis yang ada dan resmi dari Nikon Corporation, sudah jelas bahwa Nikon D3s menggunakan Back-illuminated CMOS Sensor untuk bisa mencapai kisaran ISO setinggi itu.


Kesimpulan.

Siapapun yang tahu bahwa sistem Sony Alpha adalah sistem dengan tingkat integrasi yang berkualitas tinggi, patut berbahagia. Demikian juga dengan mereka yang sudah ada di dalam sistem Sony Alpha. Mengapa demikian?

Tidak lain adalah karena adanya fakta bahwa inovasi Sony Alpha tidak akan pernah stagnan di satu titik. Ada satu produsen kamera yang memproduksi sensor CMOS-nya secara mandiri, dan selalu membanggakan teknologi fabrikasi sensornya tersebut. Menurut penelaahan dan pengujian produk yang telah kami lakukan, sensor merek tersebut sebenarnya bagus-bagus saja, sayangnya tidak ditunjang dengan sistem optik yang sama bagusnya. Selain itu dengan teknologi arsitektur sensor yang cenderung stagnan, tidak ada inovasi berarti yang mereka lahirkan pada kamera terbaru mereka, betapapun kamera tersebut bertengger di kelas profesional. Sangat berbeda dengan yang diusung oleh seteru merek tersebut yang fabrikasi sensornya dilakukan oleh Sony Semiconductor.

copenhagen.jpg
| Kamera: Sony DSLR-A900 | Lensa: Sony SAL 20mm f/2.8 | Data: 1/400 detik f/8 ISO 400 |
| Lokasi: Copenhagen | © Samuel Sunanto (S2 Photography) |

Hingga tulisan ini disusun (2010), Sony Alpha barulah berumur 4 tahun dari sejak kelahirannya setelah mengambil-alih divisi fotografi dari Minolta pada 2006. Namun dalam waktu yang sesingkat itu, Sony Alpha sudah mampu memproduksi DSLR dengan kualitas hasil foto yang terbaik dengan harga yang sangat kompetitif, diantara para kompetitornya yang memasang harga lebih tinggi. Belum lagi dukungan penuh dari infrastruktur optik yang sangat berkualitas dari Sony SAL (Minolta) dan Carl Zeiss for Sony.

Tidak ada yang perlu dikuatirkan oleh pengguna Sony Alpha akan kamera mereka di masa depan, apakah akan bagus atau buruk. Sony Alpha sudah pasti akan menciptakan produk-produk yang sangat kompetitif, baik dari segi kualitas maupun dari segi harga. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan Anda.

Marilah kita tunggu bersama berbagai kejutan dari Sony Alpha di masa depan.

 sumber: www.portalpha.net
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar