Rabu, 05 Mei 2010

TEKNOLOGI OPTIK, ELEKTRONIK, MEKANIK, AKSESORI MINOLTA/SONY ALPHA

Material prisma jendela bidik dan material tabir bidik terbaik di dunia


prismaa900.jpgMinolta tercatat sebagai merek dengan kemampuan tinggi untuk menghasikan material prisma jendela bidik dan material tabir bidik terbaik di dunia. Fakta ini menjadikan Minolta sebagai merek kamera SLR dengan tingkat kejernihan, kenetralan dan ketajaman jendela bidik terbaik di dunia. Hal ini sudah diterapkan di semua jajaran kamera SLR Minolta, DSLR Minolta, KonicaMinolta, bahkan hingga Sony DSLR. Pada Sony DSLR-A900, semua pengguna dan reviewer di seluruh dunia pun mengakui, bahwa jendela bidik Sony DSLR-A900 merupakan yang terbaik yang pernah diciptakan.

Dengan kemampuannya yang tinggi tersebut, Hasselblad dan Leica pun mempercayakan pembuatan prisma jendela bidiknya beserta tabir bidiknya kepada Minolta. Masih belum ada informasi yang akurat apakah kerjasama ini diteruskan setelah Minolta di-merger oleh KonicaMinolta dan diakuisisi oleh Sony. Satu hal yang pasti, kerjasama dengan Hasselblad dan Leica ini tetap berlanjut hingga Minolta menciptakan kamera SLR untuk yang terakhir kalinya di tahun 2002.


Produk optik dengan filosofi yang dalam dan perhitungan yang matang


glensandzeiss.jpgDesain optik dan desain fisik paling ringkas di kelasnya. Lensa Minolta AF 24-105mm f/3.5-4.5 adalah yang pertama kalinya mendapatkan keuntungan dari teknologi ini, dan lensa ini pun diteruskan produksinya di bawah bendera Sony, dengan nama Sony SAL 24-105mm f/3.5-4.5

Minolta pun tercatat sebagai merek yang cukup intensif mempraktekkan sistem mekanika diafragma ganda pada lensa-lensanya, diantaranya adalah Minolta AF 28-70mm f/2.8 G dan STF 135mm f/2.8 [T4.5]. Bedanya, pada lensa AF 28-70mm f/2.8 G, hanya satu daun diafragma saja yang dapat "dimainkan", sedangkan satunya lagi lebih berfungsi sebagai pemotong luberan sinar. Sedangkan pada STF 135mm f/2.8 [T4.5], kedua diafragma dapat "dimainkan", untuk memperoleh efek tertentu di ruang tajam. Untunglah, lensa unik ini diteruskan produksinya di bawah merek Sony.

Hingga saat tulisan ini dibuat (2009), lensa Minolta AF 500mm f/8 Reflex adalah lensa katadioptrik (reflex) yang pertama dan satu-satunya di dunia, yang mengadaptasi sistem autofokus. Produksi lensa ini diteruskan di bawa bendera Sony dengan nama Sony SAL 500mm f/8 Reflex. Kecanggihan lensa ini semata-mata tidak hanya terletak pada lensanya yang sanggup menjalankan fungsi autofokus dengan arsitektur optik katadioptrik (lintasan cahaya yang "dipatahkan" oleh cermin), tetapi juga terletak pada bodi kameranya yang sanggup menjalankan fungsi autofokus dengan lensa dengan indeks daya serap cahaya seredup f/8. Kemampuan autofokus pada lensa ini tentunya tidak lepas dari kemampuan Minolta (dalam hal ini Sony) untuk memproduksi material cermin dengan tingkat presisi dan indeks pantul terbaik di dunia, seperti yang diterapkan dalam produksi jendela bidik optik bagi Sony DSLR kelas semi-pro dan kelas profesional.

Jauh sebelum Canon menciptakan lensa super-makro Canon MP-E 65mm f/2.8 1x-5x, Minolta sudah menciptakan lensa Minolta AF 3x-1x f/1.7-2.8. Dengan perkembangan SLR digital dari Sony, kalaupun lensa ini ada di pasaran barang bekas buruan kolektor, harganya dipastikan akan meroket. Sayangnya, tampaknya Sony atau Carl Zeiss tidak akan meneruskan produksi optik jenis ini.

Teknologi pengukuran cahaya


Minolta tercatat sebagai merek yang paling mahir dalam hal pengukuran cahaya. Akurasi pengukuran cahaya yang luar biasa di seluruh jajaran kameranya dari berbagai generasi, telah membuat Minolta dipercaya untuk juga merancang sistem pengukuran cahaya bagi semua kamera Leica dan Hasselblad. Pada tahun 1968, pengukur cahaya genggam Minolta pun dipercaya untuk terbang bersama misi NASA ke bulan. Pengembangan teknologi pengukuran cahaya ini juga berjalan paralel dengan teknologi pengukuran lainnya, semisal pengukuran warna. Dengan kata lain, tanpa publikasi pun, semua produk Minolta, KonicaMinolta hingga Sony sudah menyertakan kemampuan pengukuran cahaya, pengukuran warna dan pengukuran pencahayaan lampu kilat yang akurat di dalamnya.

Akurasi pengukuran cahaya ini pertama kalinya mendapatkan keuntungan dari penerapan teknologi fuzzy-logic pada Minolta AF generasi "xi" di tahun 1991-an. Saat itu, konfigurasi pengukuran cahayanya adalah 14 Segment Honeycomb Metering dengan teknologi flash metering yang tidak terlalu ditonjolkan. Ketika Minolta Dynax 9 pertama kalinya diluncurkan ke pasar, teknologi flash metering sudah menjadi perhatian utama Minolta. Pada Minolta Dynax 9, 4 Segment Flash Metering bekerja secara simultan dengan 14 Segment Honeycomb Metering ketika fotografer menggunakan lampu kilat dedikasi Minolta. Hasilnya adalah akurasi dan penyeimbangan terbaik antara pencahayaan lampu kilat subjek utama dengan pencahayaan latar belakang.

honeycombmeter.jpgMinolta lebih jauh mengeksploitasi teknologi flash metering ketika Minolta Dynax 7 diluncurkan. Untuk pertama kalinya di dunia, Minolta memperkenalkan ADI Flash Metering System. ADI merupakan kependekan dari Advanced Distance Integration, dimana terjadi kerjasama antara bodi kamera dan lensa-lensa Minolta generasi "D", untuk membaca data pencahayaan sekeliling, data warna dan data jarak subjek ke kamera, yang selanjutnya akan menghasilkan pencahayaan lampu kilat yang akurat. Lebih jauh lagi, teknologi ADI juga "membaca" pantulan-balik dari subjek-subjek yang memiliki tingkat refleksi tinggi, misalnya kaca atau material logam.

Dengan demikian, ketika misalnya Anda memotret seseorang dengan latar belakang kaca pantul, ADI Flash Metering akan terlebih dahulu membaca dan menganalisa cahaya yang jatuh ke subjek, dan cahaya yang dipantulkan dari kaca tersebut. Setelah dikalkulasi dalam hitungan milidetik, keluarlah pancaran cahaya yang mencukupi bagi kebutuhan subjek utama, namun tetap tidak menimbulkan pantulan-balik yang mengganggu performa visual hasil foto secara keseluruhan.

Saat ini ADI Flash Metering diterapkan di semua jajaran Sony Alpha DSLR. Untuk pengukuran cahaya regularnya, kini sudah berkembang menjadi 40 Segment Honeycomb Metering dengan algoritma yang semakin disempurnakan. Selain itu, untuk Sony Alpha DSLR yang dilengkapi dengan kemampuan Quick AF Live View seperti Sony DSLR-A300 dan Sony DSLR-A350, telah ditanamkan 1.200 Zone Multi-segment Metering ketika modus Quick AF Live View aktif. Akurasi setinggi ini diperlukan mengingat fasilitas Quick AF Live View harus sanggup menghadirkan simulasi pencahayaan secara real time kepada sang fotografer.

Bersama Sony Alpha DSLR, akurasi pencahayaan dan penyinaran tidak perlu dikuatirkan lagi.


Teknologi Exmor di setiap Sony CMOS Sensor


cmossensor.jpgSony merupakan pemimpin pasar di bidang penyuplai sensor digital, dari jenis CCD maupun CMOS; baik untuk kebutuhan Sony sendiri maupun untuk kebutuhan pihak lain. Dengan akumulasi teknologi perancangan dan fabrikasi sensor digital yang dimilikinya selama puluhan tahun, menjadikan Sony sebagai produsen sensor digital dengan kualitas terbaik di pasar, dengan tingkat harga jual yang ekonomis. Itulah sebabnya mengapa banyak produsen produk-produk pencitraan merek lain, masih mempergunakan sensor CCD atau CMOS dari Sony.

Teknologi Exmor, pertama kalinya diperkenalkan pada tahun 2007 lewat produk sensor CMOS berkode IMX021, yang dipasangkan pada Sony DSLR-A700.

Secara singkat, teknologi Exmor adalah teknologi dimana Sony mengintegrasikan sirkuit peredam cacat sinyal secara langsung di bagian amplifier setiap dioda peka cahaya (pixel) dalam sebuah sensor CMOS. Teknologi ini semakin disempurnakan dengan menanamkan A/D Converter secara paralel di setiap kolom pixel pada sensor CMOS tersebut. Dengan demikian, teknologi Exmor dapat dipandang sebagai sebuah sistem terpadu dalam sebuah sensor CMOS.

A/D Converter sering disebut juga Analog to Digital Converter. Tugas utama A/D Converter adalah merubah sinyal analog ke sinyal digital. Sinyal analog merupakan sinyal listrik, dimana sinyal listrik tersebut didapat dari cahaya yang diterima tiap unit pixel di dalam sensor tersebut. Cahaya yang diterima tersebut secara otomatis akan menjadi sinyal listrik, karena pengaruh kinerja setiap dioda peka cahaya, atau yang sering disebut juga sebagai pixel. Sinyal listrik tersebut kemudian diubah menjadi sinyal digital, agar nantinya dapat diproses dalam bentuk data RAW atau JPEG seperti yang kita kenal.

Pada teknologi sensor konvensional, A/D Converter ditempatkan di luar sensor, atau seringkali ditempatkan di prosesor. Ini menjadikan perjalanan yang harus ditempuh sinyal analog menjadi panjang sebelum diubah menjadi sinyal digital. Dengan panjangnya perjalanan yang harus ditempuh sinyal analog, maka cacat sinyal muncul dalam intensitas yang tinggi, dikarenakan adanya berbagai gangguan sinyal-sinyal elektronik di sepanjang perjalanan tersebut. Maka kerja prosesor pun menjadi semakin berat. Selain harus mengkonversi sinyal yang telah dikotori oleh cacat sinyal, proses membersihkan cacat sinyal pun menjadi lebih berat, dan oleh karenanya kinerja kamera secara keseluruhan menjadi lambat.

ordinarycmossensor.jpgTeknologi Exmor dari Sony menjawab semua problem itu. Jika dilihat dari ilustrasi teknis di samping, teknologi Exmor ditanamkan di setiap unit amplifier (panah merah di setiap dioda peka cahaya / pixel). Jadi ketika cahaya berubah menjadi sinyal analog di dalam dioda peka cahaya dan sebelum diperkuat oleh amplifier, cacat sinyal (noise) sudah dihilangkan oleh teknologi Exmor yang ditanam di dalam masing-masing amplifier tersebut. Dengan demikian, betapapun sinyal tersebut sudah kuat, cacat sinyal sudah ada dalam kondisi atau intensitas yang paling minimum.

Selain itu, Sony menanamkan Parallel A/D Converter di setiap kolom pixel di dalam sensor CMOS tersebut. Misalnya kapasitas resolusi sensor CMOS tersebut adalah 12 megapixel (Sony DSLR-A700), maka akan ada sekitar 4.000 unit lebih Parallel A/D Converter di setiap kolom pixel di dalam sensor CMOS tersebut. Pada Sony DSLR-A900, bahkan terdapat 6.000 unit lebih Parallel A/D Converter. Jumlah ini sangat berhubungan dengan resolusi horizontal pada sensor yang bersangkutan. Dengan Parallel A/D Converter yang bekerja secara individual di setiap kolom, maka proses konversi sinyal analog ke sinyal digital sudah terjadi saat itu juga di dalam sirkuit sensor. Ini menjadikan keseluruhan perjalanan yang harus ditempuh sinyal analog hingga menjadi sinyal digital yang siap pakai menjadi sangat pendek. Dengan pendeknya perjalanan tersebut, maka cacat sinyal yang muncul di dalam perjalanan tersebut dapat direduksi secara signifikan.
Jika dilihat dari ilustrasi teknis di samping, Parallel A/D Converter ditanamkan di sirkuit / perkabelan (panah biru). Dengan demikian ketika sinyal tersebut keluar dari sensor, cacat sinyal atau noise sudah ada dalam kondisi atau intensitas paling minimum.

Jadi selain mereduksi cacat sinyal dengan cara pasif yaitu memperpendek perjalanan yang harus ditempuh oleh sinyal analog, teknologi Exmor juga melakukan reduksi cacat sinyal secara aktif dalam tiga tahap. Tahap pertama terjadi pada sinyal analog yang secara langsung timbul dari cahaya yang masuk, sebelum masuk ke Parallel A/D Converter (di amplifier). Tahap kedua terjadi pada sinyal digital yang masih ada di dalam sirkuit sensor CMOS tersebut, sebelum pergi ke prosesor kamera (dengan memperpendek lintasan A/D Converter). Tahap ketiga terjadi di dalam prosesor kamera Sony DSLR, yaitu Bionz.

Dengan metode noise reduction secara pasif maupun secara aktif dalam tiga tahap, telah menjadikan Sony DSLR yang dilengkapi dengan sensor CMOS berteknologi Exmor tersebut sebagai kamera yang bukan hanya gesit dalam proses pengambilan gambar maupun pemrosesan data gambarnya; melainkan juga sanggup menghasilkan foto-foto yang memiliki kompromi terbaik antara intensitas noise yang rendah, dengan tampilan detail, akurasi warna dan tampilan rentang kontras terbaik di antara para kompetitornya.


Prosesor Bionz dari Sony yang merupakan pemimpin pasar di dunia elektronik


bionzprocessor.jpg Dengan pengalaman Sony yang luar biasa panjang dan banyak di bidang elektronik, tidak diragukan lagi, prosesor Bionz untuk semua produk pencitraan digitalnya, merupakan produk yang sudah teruji. Uniknya, pada jajaran Sony Alpha, insinyur Minolta masih tetap memiliki andil untuk menyusun algoritma pengolahan warnanya. Dengan demikian, semua pengguna kamera Minolta sekalipun bisa tetap yakin, Sony masih memiliki semua karakter baik dari Minolta, dengan berbagai penyempurnaan performa yang diperlukan.

Prosesor Bionz dengan kecepatan pemrosesan data yang luar biasa cepat, memiliki andil besar dalam mengurangi intensitas noise pada hasil foto. Bahkan pada Sony DSLR-A900, Sony menanamkan prosesor Bionz ganda, untuk dapat memproses data berukuran masif dari sensor 24 megapixel di dalamnya, sembari mempertahankan kecepatan bidik hingga 5 foto per detik pada format RAW resolusi penuh, dengan tetap mempertahankan performa semua parameter fotografi tetap di puncaknya.

Berkat kecanggihan prosesor Sony Bionz, semua produk Digital Imaging dari Sony dilengkapi dengan prosesor Bionz. Dari mulai Sony Alpha DSLR, Sony Cyber-shot, hingga Sony Handycam, telah "digaransi" untuk dapat menghasilkan foto-foto dan video dengan akurasi dan performa yang memuaskan.


Teknologi sistem autofokus



Minolta merupakan satu dari sedikit produsen kamera, yang sukses menerapkan algoritma fuzzy-logic untuk aplikasi sistem pengukuran cahaya maupun sistem autofokus pada semua jajaran kameranya, dari mulai kamera analog hingga kamera digital. Sistem ini dinamakan sebagai Multi-dimensional Predictive Focus Control. Pertama kalinya di dunia diadaptasi oleh Minolta Dynax 7xi pada tahun 1991.

afsystem.jpgTidak seperti sistem autofokus dari merek lain, sistem ini berbeda. Di merek lain pada era 1990-an, banyak yang mengklaim bahwa kamera ciptaan mereka sanggup untuk memfokus benda bergerak cepat dengan sangat akurat. Tetapi pengujian di lapangan berkata lain, karena sistem yang ada hanya mampu mengakomodasi pergerakan subjek pemotretan yang linear dan stabil atau konstan. Ketika subjek pemotretan tiba-tiba berubah arah, tiba-tiba berubah kecepatan, atau mengalami perubahan dimensi fisik, maka akurasi sistem autofokus tersebut mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Minolta dengan Multi-dimensional Predictive Focus Control membuktikan bahwa kamera ciptaannya sanggup untuk mengikuti pergerakan subjek pemotretan yang tak tentu arah, berubah-ubah, dengan kemungkinan perubahan pada kecepatan ataupun dimensinya. Sistem autofokus Multi-dimensional Predictive Focus Control dari Minolta terbukti sanggup menghasilkan foto-foto dengan tingkat keberhasilan fokus yang jauh lebih tinggi daripada kompetitor.

Teknologi ini kini tetap diteruskan di bawah bendera Sony, dan akan semakin terasa efektivitasnya ketika Anda menggunakan lensa-lensa Sony atau Carl Zeiss for Sony yang telah dilengkapi dengan motor autofokus berteknologi SSM (Super Sonic Motor).

Teknologi peredam getar di permukaan sensor - Sony SuperSteadyShot (SSS)


sssbestangle.jpgPertama kalinya di dunia diciptakan oleh Minolta dan diadaptasi di Minolta DiMAGE A1 pada tahun 2003. Ketika ada di bawah Minolta atau KonicaMinolta, teknologi ini dinamakan dengan Anti-Shake. Di bawah Sony, sebutannya menjadi Sony SuperSteadyShot (SSS). Teknologi ini memiliki keunggulan inheren, dimana semua lensa yang dipasangkan pada Sony DSLR dapat menikmati fasilitas ini tanpa kecuali. Selain itu, dengan tidak adanya komponen bergerak yang dipasangkan di modul optik, maka kualitas optik dapat diciptakan secara lebih optimal, dengan umur operasi yang lebih panjang karena aspek mekanika dan elektronika yang lebih sederhana dan tahan lama. Teknologi Sony SSS dapat meredam getaran tangan hingga 2-4 stop dari kecepatan rana yang seharusnya.

Untuk pertama kalinya di dunia, Sony berhasil memasangkan modul SSS tersebut di permukaan sensor berukuran 36x24 mm pada Sony DSLR-A900. Dengan kata lain, Sony DSLR-A900 merupakan kamera SLR digital dengan dimensi sensor 36x24 mm pertama di dunia, yang sepenuhnya menikmati keuntungan dari teknologi Sony SSS ini. Banyak pihak semula menyangsikan kemampuan Sony untuk memasangkan teknologi Sony SSS di permukaan sensor berukuran 36x24 mm. Namun Sony berhasil melakukannya, dengan sistem mekanika yang 1.5x lebih kuat dan dapat bergerak 1.3x lebih cepat daripada apa yang selama ini dipasangkan pada Sony DSLR di kelas yang lebih bawah.

Satu hal yang pasti, berbeda dengan para kompetitor yang memasangkan modul peredam getar di komponen optik lensa, para pengguna Sony akan menikmati keunggulan peredaman getar bahkan pada jarak pemotretan yang sangat dekat sekalipun, misalnya pada modus pemotretan makro. Sony SSS akan tetap efektif meredam getaran di jarak pemotretan yang sangat dekat sekalipun.

Selain itu, Sony SSS pun telah mengalami improvement terus-menerus khususnya dalam hal peredaman getar di saat Anda melakukan teknik pemotretan panning. Dengan Sony SSS, akan jauh lebih banyak tercipta hasil foto yang tajam dan bebas getaran, di kondisi apapun.

Demi penyegaran dan penguatan citra teknologi ini, mulai tahun 2009 Sony melakukan perubahan nama dari Sony SuperSteadyShot (SSS) menjadi Sony SteadyShot INSIDE.

Jika komputer Anda memungkinkan, silakan klik di Flash attachment yang tersedia. Klik panah horizontal atau vertikal untuk pergerakan modul peredam getar, dan klik ikon telapak tangan untuk melihat efek peredaman getaran. Anda akan segera menyadari, bahwa investasi Anda di semua lini Sony DSLR sangatlah sebanding dengan apa yang akan Anda dapatkan.



Teknologi anti-debu pada permukaan sensor


sssunitbiggest.jpgMemang benar, bahwa Sony bukanlah pihak pertama yang menciptakan sistem anti-debu pada sensor. Namun Sony tergolong sebagai produsen yang dari sejak awal kemunculan DSLR pertamanya, yaitu Sony DSLR-A100, telah menerapkan teknologi ini, di saat merek-merek besar lainnya belum menerapkan teknologi ini. Cara kerjanya cukup sederhana, yaitu dengan menggetarkan permukaan sensor pada frekuensi tertentu agar debu yang menempel kemudian berjatuhan dari permukaan sensor, dan selanjutnya menempel di permukaan yang bersifat adhesive yang diletakkan di bawah modul sensor.

Untuk meningkatkan efektivitas kinerja sistem anti-debu ini, low-pass filter yang ada di depan permukaan sensor, dilapisi dengan lapisan anti-statik khusus agar tidak mudah mengundang kehadiran debu di permukaan sensor. Dengan demikian Anda dapat sepenuhnya yakin, bahwa di kondisi pemotretan paling tidak bersahabat sekalipun, hasil foto Anda akan terbebas dari titik-titik debu di permukaan sensor, yang berpotensi mengganggu tampilan hasil foto.


Teknologi Parallel-Link Mirror Mechanism


parallellinkmirror.jpgTeknologi ini pertama kalinya diterapkan pada Sony DSLR-A900, dimana teknologi ini sangat berhubungan dengan arsitektur mekanika pergerakan cermin pantul. Salah satu keunggulan teknologi ini adalah bahwa Sony DSLR-A900 dapat mencapai kecepatan pengambilan gambar yang mengesankan hingga 5 gambar per detik, namun tanpa mengorbankan keringkasan dimensi modul cermin pantul (mirror box). Keringkasan pada dimensi modul cermin pantul, pastinya berkontribusi langsung pada keringkasan dimensi fisik Sony DSLR-A900. Untuk sebuah kamera SLR digital dengan dimensi fisik sensor 36x24 mm, resolusi 24 megapixel dan kecepatan bidik hingga 5 gambar per detik, Sony DSLR-A900 tergolong sangat ringkas dan portabel.

Perbandingannya adalah dengan sistem konvensional yang dianut merek lain. Pada produsen lain, biasanya desain mekanisme cermin pantul adalah sederhana, yaitu cukup dengan memasangkan modul pengayun cermin pantul (pegas) yang biasanya berada di bawah cermin pantul. Sony DSLR-A900 dengan teknologi Parallel-Link Mirror Mechanism mencoba pendekatan berbeda, yaitu dengan memasangkan unit pengungkit ganda di bawah cermin pantul, dimana ujung (yang berada paling dekat dengan blok rana) dari unit pengungkit ganda ini terhubung secara paralel oleh satu mekanisme "pengikat".

Dengan unit pengungkit ganda yang terhubung secara paralel seperti ini, maka tidak dibutuhkan pergerakan mekanika pengungkit cermin pantul yang sebanyak sistem konvensional. Jadi, perjalanan yang dibutuhkan keseluruhan mekanika untuk dapat menghasilkan satu ayunan pengangkatan cermin pantul untuk pengambilan gambar, dapat dibuat lebih singkat. Dengan demikian, betapapun dimensi cermin pantul Sony DSLR-A900 tergolong besar karena harus mengakomodasi dimensi fisik sensor 36x24 mm di dalamnya dan juga akurasi serta pembesaran optik jendela bidik yang mengesankan, namun Sony DSLR-A900 tetap sanggup untuk mengambil gambar beresolusi penuh hingga 5 gambar per detik.

Selain itu, teknologi Parallel-Link Mirror Mechanism juga dapat menghasilkan pergerakan cermin pantul yang sangat cepat serta relatif minim getaran. Selain terbebas dari waktu blackout yang panjang, fotografer juga dapat menikmati pengambilan gambar dengan getaran yang minim. Jika komputer Anda memungkinkan, silakan ikuti ilustrasi teknologi ini pada animasi di samping teks ini.



Teknologi motor autofokus Super Sonic Motor (SSM)


Teknologi motor autofokus Super Sonic Motor (SSM) merupakan teknologi mekanika yang memungkinkan sistem fokus pada sebuah lensa digerakkan dengan tenaga elektromagnetis. Dengan demikian, tidak ada kontak mekanika yang terjadi, dan oleh karenanya sistem autofokus dapat dibuat lebih senyap, dengan kecepatan dan akurasi yang lebih tinggi.

Berbeda dengan teknologi autofokus konvensional dimana ada kontak mekanik antara bodi kamera dan sistem motor di lensa. Adanya kontak mekanik ini menimbulkan suara ketika motor autofokus sedang bekerja. Selain itu, kinerja autofokus biasanya lambat. Pada teknologi Super Sonic Motor, kontak mekanik ditiadakan, diganti dengan kontak elektronik. Proses autofokus sepenuhnya dikerjakan di dalam sistem elektronik lensa, yang akhirnya menggerakkan sistem mekanika fokus pada lensa secara nir-kontak. Jadi, bodi hanya mengirimkan sinyal-sinyal kode pemfokusan saja. Hasilnya, kinerja autofokus yang senyap, cepat dan akurat.

 Grip Sensor

gripsensora.jpgMinolta tercatat sebagai merek pertama di dunia yang menerapkan teknologi Grip Sensor. Padahal, teknologinya itu sendiri terbilang sangat sederhana. Namun dengan menerapkan teknologi sederhana dan tepat guna itulah, Minolta kemudian menjadi merek yang sangat dicintai oleh para penggunanya. Teknologi itu diteruskan hingga ke Sony DSLR seri terkini.

Grip Sensor adalah teknologi dimana Minolta menanamkan dua buah kontak logam di bagian genggaman kamera, dimana ketika sang fotografer menggenggam kamera, maka dua kontak logam tersebut akan terhubung secara elektris oleh tangan fotografer. Ketika kontak logam ini sudah saling terhubung, maka secara otomatis seluruh sistem elektronik kamera akan aktif, sehingga sang fotografer hanya tinggal menekan tombol shutter dan mengambil gambar.

gripsensorb.jpgTeknologi ini biasanya bersinergi dengan fasilitas penghemat energi baterai (Auto Off). Bila Anda ingin agar Sony DSLR Anda hemat energi baterai, maka biasanya Anda akan mengaktifkan fasilitas Auto Off di waktu jeda kamera yang sangat singkat, misalnya 30 detik atau 1 menit. Tanpa fasilitas Grip Sensor, maka ketika Anda terburu-buru ingin memotret dan segera meraih kamera Anda sementara kamera Anda tersebut sedang ada dalam posisi "Sleep" (Status On tapi dengan konsumsi energi paling minimal), maka Anda harus menekan setengah tombol shutter untuk mengaktifkan kembali sistem elektroniknya. Langkah ini jelas sudah membuang waktu Anda, dan berpotensi untuk menghilangkan kesempatan Anda untuk mengambil momen penting di saat itu juga, dalam hitungan milidetik.

Dengan Grip Sensor, bahkan ketika kamera Anda dalam keadaan "Sleep" sekalipun, seketika Anda menggenggam kamera Anda tanpa menekan setengah tombol shutter pun, maka semua sistem elektronik kamera Anda, termasuk sistem pengukuran cahaya dan sistem autofokus, akan segera aktif dan bersiaga. Beberapa milidetik setelah itu, Anda hanya tinggal menekan kuat-kuat tombol shutter untuk mengambil gambar.


Eye Sensor

Teknologi ini juga merupakan ciri khas Minolta, yang diperkenalkan ke dunia lewat Minolta AF SLR generasi "i" pertama kalinya pada tahun 1988 lewat tipe 7000i. Beruntunglah pengguna Sony DSLR, karena teknologi ini tetap diteruskan di semua kelas Sony DSLR.

Cara kerja teknologi ini juga sebenarnya sangat sederhana. Cukup dengan menempatkan sensor cahaya persis di bawah pembidik optik, yang dapat mendeteksi kehadiran bagian muka sang fotografer yang sedang mengintip ke dalam jendela bidik optik.

eyesensor.jpgPrinsip kerjanya mirip dengan Grip Sensor, yaitu dengan mengaktifkan sistem elektronik kamera segera setelah Eye Sensor mendeteksi proses pembidikan dari jendela bidik. Dan sama seperti halnya fasilitas Grip Sensor, Eye Sensor dapat dipadukan dengan fasilitas penghemat energi baterai kamera, untuk tetap menghemat konsumsi energi kamera namun di satu sisi tetap mempertahankan respon kamera untuk momen-momen tidak terduga. Selain itu, fasilitas Eye Sensor juga akan secara otomatis memadamkan tampilan informasi parameter pemotretan di layar LCD Sony DSLR Anda, ketika Anda membidik kamera. Ini jelas dapat secara signifikan mengurangi konsumsi baterai kamera Anda.

Bedanya, fasilitas Grip Sensor tidak ada di semua jajaran Sony DSLR, sedangkan fasilitas Eye Sensor ada di semua jajaran Sony DSLR. Ini dikarenakan fasilitas Grip Sensor memiliki satu kendala, yaitu ketika sang fotografer sedang menggunakan sarung tangan, sehingga menghalangi kontak elektris dari tangan sang fotografer tersebut. Sedangkan fasilitas Eye Sensor lebih bersifat universal dan tidak terlalu terkendala oleh hal-hal non-teknis semacam itu.

Satu catatan penting, fasilitas Eye Sensor ini lebih cocok digunakan oleh mereka yang sering melepaskan kamera dari genggamannya, namun sewaktu-waktu yang tidak diduga dapat langsung mengambil gambar. Fasilitas Eye Sensor kurang cocok digunakan oleh fotografer yang, misalnya, mengalungkan kameranya di dada sepanjang hari. Ketika ada dalam kondisi semacam ini, justru kamera akan terus-menerus aktif dan menghabiskan energi baterai.

Untuk itu ada dua pilihan, yaitu pertama adalah dengan mengaktifkan Grip Sensor dan me-non-aktifkan Eye Sensor. Pilihan kedua adalah dengan sepenuhnya me-non-aktifkan fasilitas Eye Sensor. Jadi, untuk aktivasi sistem elektronik kamera dari posisi "Sleep", Anda harus menekan setengah tombol shutter dahulu.

Jadi, jangan kuatir. Betapapun canggihnya Sony menciptakan sebuah DSLR, tetap saja semuanya dapat dipersonalisasikan sesuai dengan kebutuhan Anda.


Quick AF Live View System

Hingga tulisan ini disusun, belum ada sistem Live View lain yang lebih handal daripada teknologi Quick AF Live View System dari Sony.

Live View didefinisikan sebagai sebuah fasilitas dimana seorang pengguna kamera digital dapat melakukan pembidikan melalui sarana yang bersifat transmisif atau elektronis. Di jaman awal kelahiran teknologi kamera digital, fasilitas Live View merupakan fasilitas pembidik utama dari kamera berjenis Non-SLR, dengan jendela bidik optik sebagai fasilitas tambahan yang terkadang ada dan terkadang tidak ada, yang biasanya baru dipergunakan untuk menghemat konsumsi baterai kamera tersebut.

quickafliveview.jpgSedangkan pada kamera digital berjenis DSLR dimana konstruksi fisiknya masih menggunakan arsitektur SLR dari jaman film seluloid, fasilitas Live View menjadi tidak dimungkinkan untuk hadir. Dengan demikian, jendela bidik optik merupakan satu-satunya sarana pembidik, dengan layar LCD yang hanya berfungsi untuk melihat hasil akhir foto yang telah diproses hingga terekam ke dalam kartu memori kamera.

Hingga pada suatu saat, fasilitas Live View menjadi dimungkinkan untuk diterapkan atas DSLR. Memang benar, Sony bukanlah yang pertama menciptakan fasilitas Live View di kelas DSLR. Namun, sistem Live View dari Sony adalah yang terbaik. Mengapa yang terbaik? Ini ceritanya.

Ada dua jalan untuk dapat menerapkan sistem Live View pada DSLR, yaitu cara pertama dengan sensor tunggal, dan cara kedua dengan sensor ganda. Idealnya, Live View pada DSLR dijalankan dengan bantuan sensor tambahan (sensor ganda), sehingga tugas sensor utama untuk mengambil gambar, menjadi semakin ringan. Namun kendalanya, Live View dengan sensor ganda sulit diterapkan, karena membutuhkan arsitektur mekanik dan elektronik yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan Live View sistem sensor tunggal.

Akhirnya nyaris semua merek DSLR yang bersaing ketat di pasar, menerapkan Live View sistem sensor tunggal, yaitu dengan menggunakan sensor utama yang juga berfungsi untuk mengambil gambar. Keuntungan menggunakan sistem sensor tunggal untuk fasilitas Live View adalah komposisi yang presisi karena sensor utama yang juga untuk mengambil gambar, dan juga simulasi parameter fotografi yang diterapkan menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Selain itu, arsitektur mekanika dan elektronik lebih sederhana.

Namun ternyata lebih banyak kerugian di balik Live View sistem sensor tunggal tersebut. Kerugian pertama adalah sensor utama yang akan menjadi panas selama Live View digunakan. Kita semua tahu benar, bahwa sensor utama tidaklah boleh menjadi panas, karena panas akan memicu noise untuk muncul di hasil foto. Maka dari itu tidaklah mengherankan, jika Live View sistem sensor tunggal ini tidak dapat digunakan dalam jangka waktu pemakaian yang lama, dan tidak dapat digunakan bersamaan dengan ISO tinggi, sehubungan dengan noise tersebut. Jika dipaksa digunakan dalam jangka waktu lama, sang kamera bahkan akan secara otomatis me-non-aktifkan fasilitas ini, untuk  memberikan kesempatan sensor utama "beristirahat" dan menjadi dingin.

Kerugian kedua dari Live View sensor tunggal adalah sistem autofokus yang tidak dapat dibuat segesit aslinya hakekat DSLR. DSLR pasti menganut sistem autofokus deteksi fasa, dimana ada sensor autofokus tersendiri yang biasanya diletakkan di bawah cermin pantul. Ini memungkinkan autofokus dapat berjalan dengan cepat dan gesit, dan Anda pun dapat langsung melihat proses dan hasil autofokus tersebut.

Ketika Live View sistem sensor tunggal bekerja lewat sensor utama, maka cermin pantul harus naik untuk memberikan jalan kepada cahaya dari lensa, untuk langsung memasuki sensor utama. Kendalanya di sini adalah selama cermin pantul naik tersebut, maka jendela bidik optik praktis tidak dapat digunakan (karena menjadi gelap), dan autofokus menjadi tidak dimungkinkan, karena sensor autofokus deteksi fasa tidak dapat mendeteksi subjek akibat cermin pantul yang sedang naik tersebut.

Pada DSLR kompetitor generasi pertama, bahkan fasilitas Live View sensor tunggal ini tidak dilengkapi fasilitas autofokus sama sekali. Perkembangan berikutnya, autofokus deteksi fasa dimungkinkan, dengan terlebih dahulu menurunkan cermin pantul dan membiarkan sistem autofokus deteksi fasa bekerja terlebih dahulu. Setelah fokus tercapai, baru cermin pantul naik kembali. Proses ini sangatlah tidak praktis, karena membutuhkan waktu bagi cermin pantul untuk bolak-balik naik-turun, dan juga menghasilkan suara pergerakan mekanik yang sangat mengganggu. Sudah bisa dipastikan, sistem autofokus deteksi fasa yang diterapkan seperti ini pada sistem Live View sensor tunggal, tidak dapat digunakan sama sekali untuk memotret benda bergerak.

Perkembangan berikutnya, para kompetitor menanamkan kemampuan autofokus deteksi kontras secara langsung di modul sensor utama tersebut, sehingga proses penajaman gambar dapat langsung dilihat di layar LCD DSLR, dan tidak diperlukan proses naik-turun cermin pantul. Kita semua tahu, sistem autofokus deteksi kontras adalah sistem autofokus yang selama ini digunakan oleh kamera saku digital. Di sisi lainnya, kemampuan autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal semacam ini juga sama-sama lambat dalam hal kinerja, dan oleh karenanya hanya cocok digunakan bagi subjek-subjek statis dan jika perlu menggunakan tripod. Satu-satunya kelebihan sistem autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal hanyalah meniadakan proses naik-turun cermin pantulnya, namun tetap mempertahankan sifat asli sistem autofokusnya yang lambat. Perkembangan berikutnya adalah berusaha "menutupi' kekurangan inheren tersebut dengan menambahkan fasilitas Face Detection. Namun ini pun tetap tidak serta-merta membuat sistem autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal ini bekerja lebih cepat. Ini semua hanya bersifat kosmetis belaka.

Akhirnya, pada awal tahun 2008, Sony menggebrak pasar fotografi dunia lewat Sony DSLR-A300 dan Sony DSLR-A350, yang untuk pertama kalinya di dunia dapat memadukan semua kelebihan dari sistem Live View sensor tunggal maupun sensor ganda. Sistem Live View pada kedua kamera ini dibangun dengan sensor ganda. Namun yang membedakannya dengan kompetitor adalah Sony membangun sistem Live View sensor ganda ini dengan arsitektur mekanika yang sangat sederhana. Prinsipnya, Sony hanya menaruh sensor kedua untuk Live View tersebut sejajar dengan eyepiece jendela bidik optik. Ketika Live View diaktifkan, cukup dengan menggeser saklar mekanik ke posisi "LV", maka seketika itu juga bagian pentamirror sedikit bergeser, sehingga pantulan cahaya dari cermin pantul "berpindah jalur" menuju ke sensor Live View. Sangat sederhana dan cerdik.

Dengan demikian, Anda dapat sepenuhnya memanfaatkan fasilitas Live View tersebut sepanjang hari selama Anda mau. Satu keuntungan terbesar dari Quick AF Live View System dari Sony ini adalah tetap dipertahankannya metode autofokus deteksi fasa, namun tanpa menaik-turunkan cermin pantul seperti apa yang dilakukan oleh para kompetitor. Dengan demikian, kinerja autofokus di modus Live View tetap secepat ketika Anda menggunakan jendela bidik optik biasa, dan oleh karenanya dapat melakukan penajaman fokus di subjek-subjek bergerak cepat sekalipun. Selain itu, sensor utama tidak terganggu oleh panas, sehingga Anda dapat menggunakan fasilitas Quick AF Live View System ini dengan ISO tinggi sekalipun. Yang terakhir, Anda dapat sepenuhnya mengontrol tampilan simulasi perubahan parameter pemotretan, ketika fasilitas Quick AF Live View ini aktif.

Dengan Quick AF Live View System, Sony bukanlah menjadi pelopor di pasar fotografi, tetapi menjadi yang terbaik dan terdepan di pasar fotografi. Pada akhirnya, fasilitas Live View sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hal kenyamanan memotret dengan DSLR. Apalagi dengan Sony DSLR-A300 dan Sony DSLR-A350, fasilitas Quick AF Live View ini digabungkan dengan layar LCD yang fleksibel, dengan pergerakan hingga 90° ke atas (untuk pemotretan low-angle) dan 45° menghadap ke bawah (untuk pemotretan high-angle).


Quick-shift Navigation Panel

quickshiftnavigation.jpgTeknologi Quick-shift Navigation Panel pertama kalinya diterapkan atas Minolta Dynax 7 di tahun 2000. Saat itu, Minolta Dynax 7 sering disalah-artikan sebagai kamera DSLR mengingat adanya layar LCD monokrom berukuran cukup besar di bagian punggung kamera. Layar LCD tersebut menampilkan semua parameter pemotretan secara sangat terperinci. Namun yang mengesankan sebenarnya adalah bukan layar LCD itu sendiri, melainkan kemampuan tampilan layar LCD tersebut untuk secara otomatis merubah orientasi tampilan sesuai dengan orientasi pemotretan.

Dengan demikian, sang fotografer tidak perlu bersusah-payah memalingkan kepala hanya untuk melihat panel data kamera yang sudah berubah orientasi. Apakah Anda mengoperasikan kamera secara horizontal maupun vertikal, teknologi Quick-shift Navigation Panel akan secara otomatis merubah orientasi tampilan layar LCD.

Teknologi Quick-shift Navigation Panel ditanamkan pada semua Sony DSLR dari semua varian dan semua kelas.


X-Tra Fine High Resolution LCD Display


xfinelcd.jpgDengan kepeloporan Sony di bidang industri layar LCD berkualitas tinggi untuk semua aplikasi, maka tidaklah mengherankan jika teknologi yang sama diterapkan atas jajaran Sony DSLR-nya. Sony tercatat sebagai yang pertama kalinya di dunia menanamkan layar LCD beresolusi tinggi hingga sebesar 922.000 dot (640x480 pixel x 3 (RGB)). Dengan layar LCD beresolusi tinggi, nilai kegunaan layar LCD tersebut bertambah secara eksponensial.

Beberapa tahun yang lalu, layar LCD pada DSLR tidaklah dapat dipergunakan untuk memastikan ketajaman fokus, hanya dapat digunakan untuk mengecek akurasi pencahayaan dan beberapa parameter fotografi lainnya. Untuk mengecek ketajaman fokus, sang fotografer harus melihat hasil fotonya di komputer. Kini dengan X-Tra Fine High Resolution LCD Display dari Sony, cukup di pembesaran 5x hingga 6x saja, Anda akan segera tahu bahwa subjek tersebut fokus atau tidak fokus.

Selain kenyamanan dalam mengecek semua parameter pemotretan dan hasil foto, layar LCD beresolusi tinggi juga terbukti sangat membantu kinerja tampilan menu. Fontasi menu dapat dibuat sesempurna mungkin, demi kenyamanan tampilan.


Intelligent Preview


Sehubungan dengan teknologi X-Fine High Resolution LCD Display, Sony memperkenalkan teknologi Intelligent Preview, yang pertama kalinya diperkenalkan pada Sony DSLR-A900. Berhubung Sony DSLR-A900 tidak dilengkapi dengan fasilitas Live View, maka teknologi Intelligent Preview dipandang sebagai fasilitas yang paling tepat guna untuk Sony DSLR-A900.

Prinsip kerja Intelligent Preview sebenernya sederhana, yaitu memberikan gambaran pra-hasil kepada sang fotografer, sesuai dengan setting beberapa parameter vital pemotretan. Intelligent Preview bekerja tanpa merekam pra-hasil tersebut ke dalam kartu memori, sehingga lebih menyederhanakan alur pemotretan.

Cara mengaktifkan fasilitas ini juga sederhana. Pertama-tama, rujuklah sebuah tombol yang akan digunakan sebagai tombol aktivasi fasilitas ini, dari Menu. Setelah selesai, tekanlah tombol tersebut, maka kamera akan melakukan pengambilan gambar, dan langsung memperlihatkan hasilnya secara on-the-fly. Di dalam pra-hasil tersebut, sang fotografer berkesempatan untuk merubah beberapa parameter vital kamera, juga secara on-the-fly, dengan perubahan yang bersifat real-time (langsung terlihat pada layar LCD).

Beberapa parameter vital yang dapat secara langsung diubah ketika pra-hasil tampil adalah kompensasi pencahayaan, White Balance, dan Dynamic Range Optimizer. Dengan mengandalkan fasilitas Intelligent Preview, maka sang fotografer akan memiliki gambaran yang lebih pasti akan hasil akhir fotonya.



Ergonomi Battery Grip / Vertical Grip terbaik di dunia


verticalgrip.jpgBentuk fisik battery/ vertical grip pada seluruh jajaran Sony DSLR terlihat berbeda dengan apa yang diciptakan oleh semua kompetitornya. Pada rancangan pihak kompetitor, tombol pengambil gambar yang ada pada battery/ vertical grip diletakkan kurang-lebih sejajar dengan posisi tombol pengambil gambar utama.

Dengan dipelopori oleh Minolta Dynax 9 pada tahun 1998, diciptakanlah sebuah perangkat battery/ vertical grip dimana posisi tombol pengambil gambar di perangkat battery/ vertical grip diletakkan mendekati sejajar dengan posisi lensa kamera. Ini menjadikan penggenggaman kamera secara vertikal dalam waktu lama, tidak akan terasa melelahkan, betapapun bobot fisik DSLR tersebut berat.

Teknologi Minolta terlihat sangat sederhana, namun memiliki daya guna yang sangat tinggi. Rancangan battery/ vertical grip semacam ini kemudian diteruskan di semua lini battery/ vertical grip untuk semua Sony DSLR, hingga tipe terbaru sekalipun.


Quick-release Hot Shoe

quickreleasehotshoe.jpgBerbeda dengan sistem dudukan lampu kilat (hot shoe) ISO 518 yang diadopsi oleh semua produsen kamera, Minolta pertama kalinya mengadaptasi bentuk hot shoe secara eksklusif pada tahun 1988 lewat Dynax 7000i. Bentuk hot shoe yang kemudian dikenal dengan nama Quick-release Hot Shoe ini, berlanjut hingga ke semua Sony DSLR terkini. Dengan Quick-release Hot Shoe, memasang atau melepaskan lampu kilat dari dudukannya dapat dilakukan dengan sangat mudah dan sangat cepat, namun sekaligus juga tetap kencang di dudukannya, sekaligus aman. Dengan demikian, fotografer akan terbebas dari kewajiban untuk memutar-mutar ring pengencang dudukan, yang seringkali retak bila lampu kilat ditarik secara terburu-buru karena situasi pemotretan.


Sistem picu lampu kilat secara nirkabel (Wireless Flash)


Minolta pertama kalinya di dunia memperkenalkan fasilitas Wireless Flash pada generasi "xi", lewat tipe 7xi pada tahun 1991. Satu hal yang mengejutkan dunia adalah kemampuan picu jarak jauh secara nirkabel (off-shoe), dengan medium gelombang radio dan bukan sekedar picu secara slave. Ini menjadikan sistem Wireless Flash buatan Minolta sebagai sistem Wireless Flash dengan tingkat keamanan dan privasi tertinggi, karena yang dapat memicu lampu kilat dedikasi Minolta yang saat itu digunakan adalah sang fotografer itu sendiri. Ada fasilitas picu lampu kilat secara nirkabel yang pada saat itu ditawarkan oleh banyak merek, namun ternyata picunya dilakukan secara slave, sehingga ada kemungkinan si lampu kilat tersebut tiba-tiba terpicu oleh kilatan lampu kilat dari orang lain yang tidak berkepentingan.

wireless.jpgSelain itu, kehebatan teknologi Wireless Flash pada Minolta dari sejak pertama kalinya diperkenalkan adalah bahwa fasilitas itu bekerja secara TTL (Through The Lens). Itu artinya, betapapun dipicu tanpa menggunakan kabel dan hanya dengan gelombang radio, komunikasi data dan parameter pemotretan tetap terjadi antara bodi kamera dan lampu kilat. Dengan demikian, hasil pemotretan yang presisi sangatlah dimungkinkan, dengan pengaturan yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Dengan pengalaman Minolta sebagai produsen perangkat ukur dan perangkat penginderaan, aspek akurasi bukanlah masalah yang perlu dipikirkan oleh seluruh penggunanya.

Dan jangan lupa, untuk menjalankan fungsi tersebut, Anda hanya perlu membeli satu lampu kilat saja minimal. Fungsi picu dilakukan oleh lampu kilat terintegrasi (built-in flash) yang sudah ada di bodi kamera. Jika pun Anda harus membeli modul pengatur fungsi Wireless Flash, Anda hanya perlu melakukannya jika bodi kamera yang Anda miliki saat itu memang tidak memiliki fasilitas built-in flash, seperti misalnya Minolta Dynax 9xi.

Generasi pertama teknologi Wireless Flash hanya dapat dipicu dengan kecepatan rana maksimal 1/60 detik. Namun dalam perkembangannya, kecepatan rana yang dapat digunakan sebagai sinkron Wireless Flash semakin lama semakin tinggi, hingga mencapai kecepatan rana tertinggi pada bodi kamera tersebut. Saat ini pada Sony DSLR di kelas tertinggi sekalipun, kecepatan rana tertingginya adalah 1/8000 detik. Pada kecepatan rana itulah, Wireless Flash masih bisa bekerja (Wireless High Speed Sync. TTL Flash Control). Dengan kemampuan Wireless Flash pada modus High Speed Sync., maka pengurangan daya jangkau cahaya lampu kilat yang terjadi akibat modus High Speed Sync., dapat teratasi dengan kemampuan mendekatkan jarak subjek pemotretan dengan sumber cahaya lampu kilat.

Semua teknologi yang luar biasa dari Minolta dan hingga kini diteruskan di semua jajaran Sony DSLR, pastinya sangat berguna untuk lebih meningkatkan kreativitas Anda dalam hal pencahayan dan penyinaran.


Quick-shift Bounce System


Bila selama ini para pengguna lampu kilat selalu merasa terikat dengan pergerakan modul penyinaran (flash head) yang "itu-itu saja", maka Sony Speedlite HVL-F58AM akan merubah pandangan tersebut secara total, dengan Quick-shift Bounce System.

quickshiftbounce.jpgSelama ini, biasanya sebuah lampu kilat memiliki dua macam pergerakan modul penyinaran, yaitu yang dinamakan sebagai Bounce (modul penyinaran merunduk atau mendongak), dan Swivel (modul penyinaran menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan hingga ke belakang). Bila orientasi pemotretan yang sedang dilakukan adalah horizontal, maka tidak ada masalah yang berarti. Biasanya sang fotografer akan lebih banyak menggunakan teknik Bounce yang mendongak ke atas, agar sinar lampu kilat memantul lewat langit-langit atau tembok, dan cahaya yang jatuh ke subjek menjadi lebih lembut. Kalaupun sang fotografer memang tidak ingin menggunakan teknik Bounce dan memutuskan untuk memberikan penyinaran lampu kilat secara langsung ke permukaan subjek, maka tidak akan ada masalah berarti dengan jatuhnya bayangan, karena lampu kilat terletak sejajar dengan subjek pemotretan.

Masalah biasanya terjadi jika orientasi pemotretan yang dilakukan adalah vertikal. Jika sang fotografer tidak menggunakan teknik Bounce, maka masalah akan terjadi dengan jatuhnya bayangan. Ketika orientasi pemotretan berlangsung vertikal, maka serta-merta posisi modul penyinaran akan menjadi menyamping terhadap subjek. Ketika arah penyinaran berlangsung frontal, maka ada kemungkinan penyinaran yang tidak merata (karena posisi modul penyinaran yang tidak sejajar dengan subjek), atau akan timbul bayangan yang kontras jika jarak subjek dengan latar belakang cukup dekat.

Sementara itu bila sang fotografer ingin menggunakan teknik Bounce untuk menghindari kemunculan bayangan kontras dan lebih meratakan pencahayaan di orientasi pemotretan vertikal, maka sang fotografer tersebut harus melakukan Swivelling atas modul penyinaran lampu kilat tersebut. Masalah biasanya timbul sehubungan dengan kurang meratanya penyinaran, akibat orientasi modul penyinaran yang vertikal, bukan horizontal, di posisi orientasi kamera vertikal.

150degbounce.jpgNah, teknologi Quick-shift Bounce System pada Sony HVL-F58AM mengatasi itu semua dengan sangat cepat dan sangat mudah. Ketika orientasi pemotretan berlangsung secara vertikal, tanpa terkendala tombol dan saklar pengunci, cukup putar modul penyinaran Sony HVL-F58AM ke posisi yang Anda kehendaki. Setelah itu, kalaupun Anda ingin melakukan teknik Bounce, sangatlah dimungkinkan, bahkan hingga arah 150° (hampir berhadapan dengan muka sang fotografer).

Dengan Quick-shift Bounce System, maka bayangan yang kontras dapat dihindari, karena posisi modul penyinaran yang sejajar dengan subjek pemotretan. Selain itu, orientasi modul penyinaran pun menjadi horizontal dengan teknologi Quick-shift Bounce System ini, betapapun orientasi kamera ada di posisi vertikal. Ini akan menjamin seluruh subjek tercahayai dengan baik dan merata.

Jangan lupa, semua itu dapat Anda lakukan dengan sangat cepat pada Sony Speedlite HVL-F58AM. Hanya dalam hitungan kurang dari 2 detik, Anda dapat merubah orientasi modul penyinaran Sony Speedlite HVL-F58AM.

sumber: Portalpha.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar