The End of History...
And the beginning of future...
Banyak orang berpikir bahwa sejarah Minolta yang sedemikian gemilang, langsung pupus begitu saja ketika Minolta di-merger oleh Konica menjadi KonicaMinolta, dan setelah itu KonicaMinolta (divisi fotografi-nya) diakuisisi oleh Sony. Secara harafiah atau di atas kertas, boleh jadi sejarah Minolta tersebut memang benar telah hilang. Namun satu hal yang sering kita lupakan, bahwa mereka yang menciptakan sejarah tersebut adalah manusia juga. Khususnya dalam hal ini, "manusia" tersebut merujuk pada insinyur-insinyur yang berada di balik penciptaan semua produk Minolta.
Kita tahu betul, bahwa betapapun Minolta di-merger oleh Konica dan kemudian diakuisisi oleh Sony, satu hal yang tidak berubah adalah keberadaan dan komposisi para insinyur jenius di balik semua produk tersebut, dari mulai Minolta, KonicaMinolta hingga Sony. Baik produk Minolta, KonicaMinolta maupun Sony, semuanya merujuk pada keberadaan dan keahlian insinyur-insinyur Minolta, dengan filosofi yang tetap sama hingga sekarang. Satu-satunya perbedaan dari itu semua adalah masalah korporasi, yang tentu saja berhubungan dengan anggaran. Namun filosofi dan semangatnya tetaplah sama, seperti pada waktu Minolta masih eksis.
Oleh sebab itu, betapapun sekarang terasa sangat maju di bawah naungan Sony, namun filosofi dan semangatnya masih terlihat sama, hingga produk Sony Alpha DSLR terbaru sekalipun. Ini tentu saja dikarenakan oleh eksistensi insinyur-insiyur cerdas Minolta yang masih mendominasi divisi-divisi di Sony Digital Imaging.
Dengan demikian, tidaklah sepenuhnya salah jika di dalam situs elektronik ini tercantum dengan cukup detail mengenai sejarah Minolta. Sejarah Minolta tersebut tidaklah akan menggerus "kewibawaan" nama besar Sony. Justru sejarah tersebut akan semakin menguatkan citra Sony di dunia fotografi digital. Sejarah Minolta itu sendiri akan memberikan pertanda, bahwa Sony telah sepenuhnya mengambil-alih sebuah perusahaan dengan sejarah yang gemilang dan dengan filosofi yang sangat baik. Dan sejarah maupun filosofi tersebut masih hidup hingga saat ini, dengan wujud yang tentunya tidak bisa selalu dilihat komunitas fotografi pada umumnya, yaitu insinyur-insinyur Minolta tersebut.
Jika dilihat dari segmentasinya, insinyur-insinyur Minolta tersebut terutama mendominasi lini produksi semua lensa SAL dari semua jenis, dan lini desain fisik dan mekanika kamera. Sementara itu insinyur-insinyur Sony mendominasi lini riset dan produksi sensor, prosesor, sistem elektronik semua produk, sistem promosi dan pemasaran produk, serta beberapa hal lainnya.
Selain itu, sejarah tersebut berulang kembali. Dahulu kala, Minolta merupakan produsen kamera yang dibidani oleh orang Jepang, namun ditopang oleh kekuatan filosofi orang-orang Jerman. Di masa-masa awalnya, bahkan dari mulai desain hingga produksi kamera maupun optik Minolta dilakukan oleh pihak Jerman. Boleh dikatakan, pada saat itu Minolta masih menjadi "murid" insinyur-insinyur Jerman. Setelah pada waktu tertentu dianggap mampu berdiri sendiri, akhirnya Minolta dipercayakan untuk mendesain hingga memproduksi sistem kamera maupun sistem optiknya sendiri. Namun dalam perjalanannya, kerjasama dengan insinyur Jerman tidak putus begitu saja. Minolta tercatat pernah beberapa kali memproduksi kamera yang merupakan hasil sinergi yang kuat antara Minolta dengan Leica. Salah satu contohnya adalah Minolta CL. Beberapa produk Minolta lainnya juga mencerminkan sinergi tersebut. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Leica benar-benar mempercayakan produksi kameranya kepada Minolta.
Perulangan sejarah terjadi ketika di saat ini, Sony juga sebelumnya telah menjalin kerjasama erat dengan produsen lensa termashyur asal Jerman, yaitu Carl Zeiss. Dengan kerjasama yang sedemikian eratnya, Sony dapat menjadi satu-satunya merek yang memperoleh eksklusivitas berupa lensa-lensa Carl Zeiss khusus untuk Sony Alpha DSLR yang dilengkapi dengan teknologi autofokus biasa maupun teknologi autofokus SSM (Super Sonic Motor). Di kelas format 35mm, Sony merupakan satu-satunya merek dimana lensa Carl Zeiss yang dapat melekat di bayonet bodi kameranya, dilengkapi dengan fasilitas autofokus. Produsen lain di kelas 35mm boleh saja berbangga ketika Carl Zeiss menyediakan lensa yang dapat disandingkan dengan bodinya. Namun hanya Sony yang memiliki kebanggaan sesungguhnya, karena lensa Carl Zeiss yang melekat di bodi-bodi Sony Alpha DSLR dilengkapi dengan teknologi autofokus terkini, dan performa optiknya pun telah sepenuhnya dioptimalkan untuk kinerja sensor Sony Alpha DSLR hingga seri terbaru sekalipun.
Maka dapat kita lihat bersama, bahwa kekuatan sejarah dan kekuatan filosofi telah bergabung dengan kekuatan korporasi dan kekuatan finansial. Itulah definisi Sony Alpha yang sesungguhnya. Nyaris tidak ada yang mencegah Sony Alpha untuk eksis secara dominan di pasar fotografi global. Semua itu hanya masalah waktu saja.
Ringkasan Sejarah Minolta/sony alpha:
http://boykewijaya.blogspot.com/2010/05/ringkasan-sejarah-minolta-sony-alpha.html
sony memang hebat ,
BalasHapuswalaupun byk fotografer merk lain yg mencemooh ,
saya tau perbedaan kualitas Sony dan merk lain yg sbnernya ,
SONY emang mantep !!